Mira mengambil suapan terakhirnya dengan ogah-ogahan. Semangatnya untuk pergi ke luar kota tiba-tiba sirna. Ia masih penasaran dengan pernikahan Kiara kemarin. Bagaimana tidak? Gadis itu seharusnya tidak jadi menggelar acara pernikahan. Jadi Mira bisa mengoloknya sebagai hiburan sebelumnya pergi dari sana.
Namun, kesenangannya tidak terjadi lantaran Arga muncul sebagai pengganti Marten. Sikapnya pada Kiara bukan karena mereka pernah terlibat masalah, tapi Mira memang seperti itu. Tidak suka melihat kebahagian orang lain. Alasan Mira bergabung dengan komplotan Marten karena terhibur dengan penderitaan orang lain. Meninggalkan Kiara yang bahagia membuatnya tidak rela.
"Aku masih ingin di sini sementara waktu." Mira mencoba bernegosiasi dengan seseorang di seberang. Ia mematikan rokok terakhirnya ke asbak dengan gerakan gusar. Entah siapa, mungkin Marten atau teman penipunya yang lain. Mira tidak peduli, selama ia masih belum puas, tidak ada kata pergi. Kalau tidak, perasaan bad moodnya bisa mempengaruhi pekerjaan berikutnya. Terlebih Kiara tidak melaporkan Marten ke polisi. Itu berarti, Mira bisa leluasa bergerak tanpa rasa was-was.
*
Siang itu di tempat kerja, Mira mondar-mandir seperti biasa. Ia membantu foto kopi dan menyusun file yang diperintahkan. Biasanya, rutinitas membosankan itu dipegang oleh Kiara. Tapi, karena semua sedang sibuk, Mira satu-satunya pengganti paling pas. Selama sedang bekerja, pikiran Mira semakin kacau saja. Namun, karena sudah terbiasa punya dua wajah, hal itu bisa teratasi secara sempurna.
Tepat jam 13 siang, kepala bagian keluar dengan wajah penat. Ia menyuruh para bawahannya untuk beristirahat dulu. Cutinya Kiara membuat banyak orang kerepotan. Terlebih akan ada proyek besar minggu depan. Desain untuk klien juga hal-hal dasar lain bahkan belum masuk ke tahap rancangan. Masih banyak yang harus didiskusikan. Tanpa Kiara, sampai kapan mereka bertahan? Cuti diajukan selama dua minggu ke depan. Bisa mati kering bagian desain kalau Kiara benar-benar menggunakan liburannya secara penuh.
Beberapa rekan sekantor Kiara duduk di kantin kantor untuk makan sembai bertukar pendapat. Mereka mulai mengeluh dengan keadaan itu, merasa tidak adil karena Kiara mendapat hari menyenangkan sementara perusahaan tengah sibuk mengurus proyek sensitif. Terlambat dan salah sedikit saja, perusahaan akan rugi waktu juga tenaga.
Tasya,karyawan senior yang punya jabatan setingkat lebih tinggi dari Kiara, mulai gatal saat melihat kontak temannya itu di layar ponselnya. Hubungi atau tidak? Bagaimana kalau ia sedang honeymoon di luar kota? Tapi mengerjakan beberapa desain tidak perlu datang ke kantor dan Kiara cukup cekatan. Tidak akan butuh waktu lama untuk mengerjakannya.
"Kalau aku jadi Mbak Tasya, mending hubungi aja dulu. Siapa tahu Mbak Kiara bisa bantu," celetuk Mira yang duduk di sebelahnya. Usulan kecil itu tanpa diduga mendapat dukungan dari semua orang.
Percayalah, mereka hanyalah kumpulan orang tidak tahu diri. Setiap ada kesempatan, selalu menggunjing dan memojokkan Kiara, tapi di waktu lain, malah membuntuhkan bantuannya.
Sayangnya dihubungi beberapa kali, tidak juga ada jawaban. Panggilan ke ponsel Kiara terhubung langsung ke kotak suara. Tasya langsung kesal, membanting sendok ke piringnya yang masih penuh dengan irisan batagor.
Semua tidak terkecuali Mira, menggerutu keras, sadar kalau harapan mereka akan berujung sia-sia belaka.Ini adalah hari pertama Kiara cuti. Sudah pasti sebagai pengantin baru, ponselnya tidak akan dinyalakan.
"Suaminya seganteng itu, mana mau diganggu," celetuk seseorang tertawa sinis, seolah apa yang Kiara lakukan adalah dosa besar. Ucapan pembuka itu kemudian diteruskan dengan cemooh dari mulut satu ke mulut yang lain.
Istirahat yang tadinya diperuntukkan untuk menemukan solusi paling baik, berubah menjadi ladang gosip. Semua orang mulai mengungkit soal hilangnya Marten hingga kemuculan Arga secara mendadak sebagai pengganti. Walau terdengar Tidak ada satupun yang merasa bersalah dengan ucapan mereka. Hal itu tentu saja sangat menarik karena banyak anggapan orang kalau Arga hanyalah seorang bayaran belaka.
Namun, diam-diam Mira yakin, Arga bukan sosok sematerialistis itu. Pasti ada sesuatu yang membuat seorang pria serupawan Arga mau menundukkan kepalanya pada gadis semenyedihkan Kiara. Tapi apa? Mira tidak bisa berspekulasi apapun selain masalah uang.
Di tempat lain, Arga nampak tidak nyaman dengan warna dinding ruang kerjanya di kantor penerbit. Terakhir saat ia berkunjung 6 bulan lalu, dindingnya masih berwarna putih, seperti rumah sakit. Arga sekarang tersiksa sendiri karena matanya belum juga berdamai dengan warna kuning. Akibatnya, ia tidak memperhatikan penjelasan sang editor, tapi malah asyik menatap layar ponsel.
Vanya, editor itu, hanya bisa menelan dongkolnya. Posisinya tidak pantas untuk mengomel. Arga datang dengan naskah selesai, sudah membuatnya bahagia setengah mati.
"Mau makan?" tanya Vanya menunjuk jam, tanda mereka butuh istirahat sebelum merapatkan tentang tema cover dan lain-lain. Hal itu juga memakan banyak waktu karena Arga termasuk tipe rewel kalau menyangkut karya tulisnya.
Arga akhirnya mendongak, tapi terlihat enggan pergi dari kursinya sekarang. Perutnya pun masih kenyang. Walau tadi pagi tidak makan banyak, tapi napsu makannya entah bagaimana ikut menghilang. Ia ingat, pembicaraannya dengan Kiara, jadi mood untuk mengunyahpun jadi lenyap.
"Aku nanti saja. Atau kalau kamu mau ke kantin aku titip jus alpukat." Arga menghembuskan napas panjang, menarik selembar uang dua puluhan ribu dari saku hodie kemudian ia ulurkan ke Vanya, seakan wanita cantik itu bukan apa-apa. Mungkin hanya Arga yang memperlakukannya dengan remeh. Lelaki lain selalu berusaha menarik perhatain Vanya melalui perhatian. Sungguh berbeda dengan Arga yang cuek setengah mati.
"Apa itu di tanganmu?" Vanya tiba-tiba tertarik pada cincin yang melingkar di jari manis Arga. Ia heran kenapa pria yang selalu cuek dengan penampilannya tiba-tiba saja punya cincin.
Arga terkejut, tapi di saat yang sama ia tidak berusaha menutupinya. "Ini cincin."
"Iya, aku tahu. Tapi cincin apa? Kenapa tiba-tiba memakainya?" cecar Vanya berdiri dengan tatapan tajam, penuh selidik. Ia seketika curiga dengan gelagat Arga yang terus menghindari tatapannya. Sebagai teman satu kerjaan, tidak seharusnya mereka punya rahasia besar. Apalagi Arga pernah berjanji akan terbuka agar mereka tidak saling salah paham.
Tenggorokan Arga kering, bingung cara mengatakannya. Ia benar-benar lupa melepas cincin pernikahan itu. Bukan apa-apa, tapi hanya belum siap untuk memberitahu semua orang. Terlebih pada Vanya, editor sengak yang dulu pernah ia tolak. Bagaimanapun, ia ingin menjaga harga diri Vanya. Tapi Arga bukanlah tipe pembohong untuk alasan yang baik. Ia lebih memilih untuk jujur meski menyakitkan.
"A-aku menikahi seseorang." Arga bergumam kecil, seakan ingin berbisik pada dirinya sendiri. Tapi yang terjadi adalah ia mengatakannya dengan cukup lantang.
"Apa? jangan membuat candaan tidak lucu seperti itu. Aku tidak suka," ucap Vanya mencoba tertawa, tapi wajah serius Arga kemudian membuat lidahnya kelu. Entah bagaimana melukiskan perasaan Vanya. Sedih? Terluka? Atau rasa kesalnya hanyalah bentuk kegusaran teman sekantor?
"Kamu menikah dengan siapa? Apa aku mengenalnya?" tanya Vanya berusaha tenang. Meski mulutnya ingin sekali berteriak, tapi sebisa mungkin ia tahan. Lama sekali Vanya menahan perasaan pada Arga, berharap suatu saat hati pria unik itu terbuka. Malangnya, belum juga berhasil, sudah ada wanita yang mendahuluinya.
"Tidak, dia teman masa kecil yang dulu pernah aku ceritakan padamu." Arga menatap Vanya yang kemudian duduk karena saking terkejutnya.
"Dasar gila. Bagaimana bisa kamu menikah hanya karena kasihan? Sinting." Vanya menggebrak meja lantaran kesal. Ia mendadak ingat tentang Kiara yang sering Arga bicarakan padanya dulu. Arga mengaku kalau ia merasa berhutang pada orang tua Kiara. Dulu berkat Ibu Kiara, nenek Arga bisa dirawat rumah sakit.Banyak moment pedih yang terlewat, hingga menimbulkan bekas luka di hati Arga. Vanya bisa menangkap beban hutang di pundak temannya itu.
"Jadi, apa kamu bahagia? Pernikahan harusnya membuatmu lebih senang dari hari-harimu saat membujang," kata Vanya seakan menusukkan duri di mulutnya sendiri. Ia tahu, hatinya tengah sakit karena keputusan konyol Arga.
"Perasaanku tidak penting. Aku hanya ingin menjaga Kiara seperti keluarganya menjagaku dulu." Arga tersenyum kecil, menenangkan dirinya kalau pilihannya sudah benar. Kesepian dan alasan lain tidak salah, tapi janjinya pada Ibu Kiara adalah hal terkuat.