Bab 8

1044 Words
Tak lama, kini mereka tiba didepan rumah Putri, mobil berhenti dengan tenang. Lampu halaman menyala remang, suasana kompleks sudah mulai sepi. Gio langsung turun dari mobil tanpa banyak kata, diikuti Indra yang memarkir motornya tak jauh dari situ. Keduanya bersiap pergi, tapi baru beberapa langkah, suara Kania menghentikan langkah Gio. "Tunggu dulu!" seru Kania sambil keluar dari mobil. "Apa lagi?" tanyanya datar. Gio menoleh dengan ekspresi malas, satu alisnya terangkat. Kania melangkah cepat ke arahnya sambil menyodorkan ponsel. "Nanti bales chat aku ya," ucapnya, suara sedikit memohon tapi tetap ceria. Gio menatap ponsel itu sejenak, lalu kembali menatap Kania tanpa antusias. "Kalau sempet," jawabnya acuh, nada dinginnya tak berubah. "Sempetin lah! Plisss!" Kania cemberut manja, mencoba memaksa dengan wajah memelas. Gio hanya mendengus, "Hemm!" lalu menoleh ke arah motornya. "Ya udah, hati hati ya. Makasih!!" seru Kania lagi sambil melambaikan tangan dengan semangat. Senyumnya lebar, tulus, seperti tak peduli betapa dinginnya pria itu padanya. Gio tak membalas lambaian itu. Ia hanya naik ke atas motornya dan mengenakan helm. Indra sudah lebih dulu duduk di belakang, lalu menepuk bahu sahabatnya sambil tertawa kecil. "Cewek satu itu ngotot banget, bro." gumam Indra geli, tapi Gio memilih diam. Brummm— Suara motor mulai melaju perlahan, menjauh dari rumah Putri. Kania berdiri diam dipinggir jalan, menghela napas panjang. Ada rasa puas, lega, campur sedikit deg degan. Entah kenapa, Gio yang cuek itu justru bikin penasaran. Dan pertemuan hari ini... benar benar tidak biasa. Ia memalingkan pandangan ke arah mobil. Dua sahabatnya, Rahel dan Putri, masih tertidur pulas di dalam. "Sumpah, ini mereka mabuk bisa sampai separah ini? Dari aku di rampok sampai ngobrol lama sama Gio pun mereka gak terusik sedikit pun." gumamnya heran, sambil membuka pintu belakang mobil dan menatap kedua temannya yang lemas. Rahel bahkan mengorok pelan. "Emang orang mabuk tuh kaya gini ya?" desis Kania pelan, lebih ke bicara sendiri. Ia menoleh ke halaman rumah dan melihat sosok satpam yang sedang duduk di pos. Segera, Kania melambaikan tangan dan berjalan cepat ke arahnya. "Pak, maaf ya, bisa bantuin gak? Teman teman saya mabuk berat, saya gak kuat mindahin sendiri." Satpam itu langsung berdiri dan mengangguk, ikut Kania ke arah mobil. Malam itu benar benar panjang, melelahkan... tapi juga membekas. Terutama karena satu hal, Ia akhirnya bertemu lagi dengan Gio. * * * _____ Beberapa hari kemudian, suasana kampus cukup ramai karena sedang jam istirahat. Kania, Putri, dan Rahel duduk di salah satu meja kantin sambil membuka laptop dan tumpukan buku catatan. "Astaga, materi dosen kemarin tuh ribet banget!" keluh Putri sambil memijat pelipisnya. "Ya makanya kita kumpul sekarang biar nyambung. Nih, aku udah bikin rangkuman," ujar Kania sambil mendorong laptopnya ke tengah meja. Rahel menatap layar dengan mata setengah menyipit, "Kenapa tulisannya kecil banget, sih? Mau bikin kita rabun?" "Ah tinggal nyalin aja banyak komplen nih. Kan biar semua muat di satu halaman, biar gampang di print," jawab Kania sambil menyesap es tehnya. Putri mengangguk, "Oke, ini kita bahas bareng ya. Jangan kayak waktu di klub kemarin, dua orang ini auto tidur." Kania menatap mereka dengan tatapan menyindir, "Iyaaa, kalau udah mabuk mah dunia mau kiamat juga kalian gak sadar." Rahel tertawa sambil menutup mulutnya, "Eh, tapi ngomong ngomong, waktu itu gue kaya lihat ada cowok yang nyetir deh, siapa Kan? Lo nemu cowok dimana?’’ Kania langsung pura pura fokus ke laptop, "Udah ah, bahas materi aja." ‘’Serius Kan? Siapa?’’ "Enggak! Serius deh, kita bahas materi dulu. Deadline besok lho," kata Kania, tapi kupingnya sudah memerah. Dan setelah beberapa saat, mereka selesai mengerjakan tugas, suasana di meja mereka masih dipenuhi sisa tumpukan buku dan gelas kopi kosong. Tiba tiba, ponsel Kania yang tergeletak di meja bergetar cukup kencang. "Siapa, Kan?" tanya Putri sambil melirik ponsel itu. Matanya sempat menangkap sekilas nama kontak yang langsung membuatnya penasaran. "Hah, bukan siapa siapa." jawab Kania tergesa, senyum gugupnya jelas terlihat. Dia buru buru mengunci layar ponselnya seolah takut ada yang melihat lebih lama. "Ya udah, aku pulang dulu ya. Kalian bawa aja laptop aku, balikin besok." "Lah kok pulang?" Putri mengernyit, merasa aneh dengan sikap temannya yang tiba tiba terburu buru. "Iya, ada urusan bentar!" jawab Kania sambil memasukkan buku ke dalam tas. "Urusan apaan?" "Keppo!" candanya, mencoba menutupi rasa gugup. Dia berdiri, merapikan tasnya, lalu bergegas pergi tanpa menoleh lagi. Langkahnya cepat, hampir seperti sedang menghindar. Membuat Rahel dan Putri saling bertukar pandang. "Tu anak ada yang gak beres deh," gumam Putri, matanya masih menatap pintu yang baru saja dilewati Kania. "Dahlah, biarin aja. Paling juga lagi deket sama cowok!" kata Rahel santai, sambil menyandarkan tubuh di kursinya. Putri menyipitkan mata. "Iya juga sih, tapi siapa?" "Entah, kemarin gue lihat dia sama anak BEM. Mungkin dia lagi kali." "Anak BEM? Siapa? Kok gue gak tau?" "Gue juga gak kenal, yang kenal si Kania. Dan gue juga gak keppo kayak lo!" jawab Rahel sambil nyengir. Putri mendengus, lalu ikut tertawa kecil. "Hehehehe." Meski tertawa, rasa penasaran di hati mereka tetap menggantung. Ada sesuatu yang disembunyikan Kania, dan mereka yakin cepat atau lambat akan terungkap. Kania berlari kecil, menyibak beberapa mahasiswa yang baru keluar dari kelas. Langkahnya ringan namun hatinya berdegup tak karuan. Dari jauh, matanya sudah menangkap sosok yang ia tunggu cowok dengan postur tegap, berdiri santai di samping motor sport berwarna hitam mengilap. Lengkap dengan topi, kacamata, dan masker hitam yang membuat wajahnya sulit dikenali orang lain. Tapi bagi Kania, ia tak butuh tanda apa pun ia mengenal betul pria itu. "Sorry lama!" serunya begitu sampai, sedikit terengah. "Gapapa," jawab cowok itu tenang, sembari menyerahkan helm ke arahnya. Gerakannya santai, tapi tatapan dari balik kacamata terasa hangat. "Kita mau kemana?" tanya Kania sambil mulai memasang helm, suaranya penuh rasa ingin tahu. "Terserah," jawabnya singkat. "Aduh, susah banget sih, bantuin!" rengek Kania sambil sedikit memiringkan kepala, nada manjanya sukses membuat cowok itu menghela napas berat, seolah kalah oleh tingkahnya. "Makasih," ucap Kania dengan senyum cerah, matanya berbinar sebelum ia naik ke jok belakang. "Nonton, ya?" imbuhnya, kali ini sambil merapatkan duduknya. "Dimana?" "PIM juga boleh," jawabnya cepat, seolah sudah menyiapkan rencana. "Oke." Tak perlu bicara banyak lagi, suara mesin motor langsung meraung halus. Kania memegang erat jaket cowok itu, membiarkan angin sore menyapu wajahnya. Motor sport itu pun melaju kencang menuju pusat kota, membawa mereka menjauh dari hiruk pikuk kampus dan masuk ke dalam cerita mereka sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD