Motor berhenti di area parkir basement Mall, suara mesin besar itu perlahan padam. Aroma pendingin udara bercampur bau karpet lembab khas parkiran menyambut mereka. Kania melompat turun, lalu tanpa ragu menyelipkan tangannya di lengan cowok itu, seperti sudah jadi kebiasaannya.
Langkah mereka beriringan menuju pintu masuk, tapi Kania langsung mengerucutkan bibir begitu melihat cowok itu masih lengkap dengan masker, kacamata, dan topi.
“Kamu gak bisa apa copot aja itu masker,” ucapnya sambil melirik iseng.
“Kenapa?” tanyanya datar. Cowok itu menunduk sedikit, menatapnya dari balik lensa hitam.
“Ya gapapa, tapi aku berasa kayak jalan sama teroris,” jawab Kania sambil terkekeh, membuatnya mendengus kecil.
Akhirnya, dengan gerakan malas, cowok itu melepas masker dan kacamata, hanya menyisakan topi yang sedikit menutupi dahinya. Kania langsung tersenyum puas, matanya berbinar.
“Gini kan ganteng banget jadinya. Hehehehe.” Kata Kania membuat cowok itu hanya menghela napas berat, seperti tak paham kenapa gadis di sampingnya selalu punya cara bikin dia pasrah.
“Hemmm, kamu mau nonton apa?” tanya Kania saat mereka sudah berdiri di depan layar jadwal film.
“Yang itu aja,” cowok itu menunjuk poster film action dengan latar ledakan besar.
“Action? Gak yang romance aja?” Kania mencoba merengek sambil memiringkan kepala.
“Kamu yang nanya, kamu juga gak terima. Terserah lah!” jawabnya dengan nada sedikit kesal, meski matanya jelas menahan senyum.
“Hehehe iya iya maaf. Ya udah, kita nonton action itu aja,” kata Kania sambil meraih tangannya sebentar sebelum menuju loket.
Setelah membeli tiket dan popcorn ukuran jumbo, mereka bergegas masuk ke dalam studio. Lampu lampu sudah mulai meredup, tanda film akan segera dimulai, dan Kania tanpa sadar semakin merapat disampingnya, seperti tak mau kehilangan momen duduk berdua di ruang gelap itu.
Sepanjang film, suasana di antara mereka terasa hangat walau layar dipenuhi ledakan dan baku tembak. Kania masih sesekali menyuapkan popcorn, membuat cowok itu melirik geli setiap kali tangannya nyelonong ke depan mulut.
Namun, ketika adegan dewasa muncul, Kania langsung meringis sambil menutup sebagian wajahnya dengan telapak tangan.
“Ihh, actionnya kok ada gituan!” bisik Kania dengan nada terkejut, matanya hanya berani mengintip sedikit dari celah jari.
Cowok itu menahan tawa, bahunya bergetar. “Umur kamu berapa sih? Lihat gitu aja langsung malu.”
“Aku tuh baru 23 tahun!” jawab Kania dengan nada membela diri, tapi pipinya jelas jelas sudah merona.
“Itu bukan baru, tapi sudah. Astaga! Kamu bukan cewek ABG, Kania.” Cowok itu menggeleng sambil nyeruput minumannya.
Kania menggembungkan pipi, lalu bergumam, “Ya juga sih, tapi aku gak pernah lihat begituan.”
Cowok itu menoleh, menatapnya penuh rasa ingin tahu. “Kamu pernah pacaran?”
“Pernah.”
“Ciuman?”
“Enggak!”
“Masa?” alisnya terangkat curiga.
“Iya!” Kania mengangguk mantap, seperti sedang menjawab soal ujian yang dia yakin seratus persen benar.
“Terus kamu ngapain pacaran?” tanyanya setengah bercanda, setengah heran.
Kania malah balik menantang dengan pertanyaan polos, “Emang orang pacaran itu harus ciuman ya?”
Cowok itu menghela napas panjang, lalu menggeleng pelan. “Kamu masih sepolos ini, kenapa sok masuk klub segala!”
Kania menunduk sedikit, memainkan sedotan minumannya. “Aku tuh diajak sama dua temenku itu,” ujarnya, seolah itu alasan yang paling wajar di dunia.
Tatapan cowok itu melembut, tapi bibirnya terangkat tipis seperti menahan komentar tambahan. Ia hanya kembali fokus ke layar, meski jelas jelas masih terhibur dengan keluguan Kania.
"Pinjem tangan kamu!" pinta Kania cepat cepat, suaranya terdengar panik.
Tanpa memberi kesempatan Gio bertanya, Kania langsung menarik tangan cowok itu dan menempelkannya kewajahnya, menutupi kedua matanya rapat rapat.
Di layar, adegan mulai memanas. Suara desahan aktor terdengar samar di antara musik latar yang sensual. Jantung Kania berdegup kencang, tangannya sedikit bergetar. Sementara di sebelahnya, Gio malah tergelak pelan, bahunya sedikit berguncang menahan tawa.
Untung saja suasana bioskop malam itu sepi, hanya ada beberapa penonton yang duduk berjauhan. Jadi tawa Gio tidak terlalu mengganggu.
"Udah itu," ucap Gio santai, melepas tangannya dari wajah Kania.
Perlahan, Kania membuka matanya, dan langsung terlonjak kaget. Ternyata adegan di layar malah semakin liar, membuat wajahnya panas dingin.
"Gioooooo!" geram Kania, cepat cepat memalingkan wajah ke arah Gio, menolak melihat layar. Pipinya sudah memerah, entah karena malu atau kesal.
Gio hanya menaikkan satu alis sambil nyengir, seolah semua itu hal biasa. Bagi Gio, adegan seperti itu sudah normal dan bukan hal yang perlu dibesar besarkan. Tapi bagi Kania yang memang polos, adegan itu seperti tamparan panas yang bikin bulu kuduknya meremang.
"Kenapa orang bisa berciuman selama itu?" celetuk Kania tiba tiba, matanya masih menatap layar namun pikirannya melayang.
Gio yang duduk di sampingnya menoleh, menaikkan satu alisnya sambil menyunggingkan senyum jahil. "Karena enak."
Kania refleks memutar kepala, menatapnya penuh rasa ingin tahu. "Kamu udah pernah ciuman?" tanyanya polos, namun nadanya terdengar seperti sedang menginterogasi.
"Udah!" jawab Gio singkat tapi penuh percaya diri.
"Bibir?" Kania menekankan, seperti tidak puas dengan jawaban pertama.
"Iya!" Gio malah terlihat santai, seolah itu hal yang sepele.
"Wow, sama siapa?" tanya Kania semakin penasaran, antara kagum dan kesal.
"Yang jelas cewek." Ujung bibir Gio terangkat nakal.
"Aku cemburu!" seru Kania tanpa sadar, membuat wajahnya langsung memerah setelahnya.
Gio kembali tergelak, kepalanya sedikit menunduk sambil melirik Kania yang kini berusaha menahan tatapan. Raut polos gadis itu benar benar menghiburnya.
"Mau coba?" tanyanya pelan, namun intonasinya jelas mengandung tantangan.
Kania mengernyit. "Coba apa?"
"Ciuman!" jawab Gio santai, seolah menawarkan permen.
"Sama kamu?" suara Kania nyaris berbisik, tapi Gio tetap bisa mendengarnya.
"Iyalah! Masa sama Indra!" sahut Gio sambil tertawa, membuat Kania refleks mendorong lengannya.
Kania terdiam beberapa saat. Matanya menatap ke depan, tapi pikirannya sibuk berkecamuk. Ia penasaran, tapi bingung. Jantungnya berdebar tak karuan. Dia belum pernah berciuman sama sekali, dan entah kenapa sekarang bayangan itu membuatnya semakin gelisah di kursinya.