Selesai menonton, mereka berjalan keluar bioskop sambil bercanda. Udara malam terasa dingin, lampu-lampu kota berkelip seperti bintang yang jatuh ke bumi. Gio melirik ke arah Kania yang sibuk merapatkan jaketnya. “Ayo ikut aku bentar,” ucap Gio santai, tangannya memasukkan kunci motor ke saku. “Kemana?” Kania menatap curiga. “Ke apartemenku.” Kania langsung menghentikan langkahnya. “Hah? Buat apa?” “Ya ngobrol aja, sama makan. Aku punya stok ramen yang lebih enak daripada di sini,” jawab Gio sambil tersenyum tipis. Kania memutar bola mata. “Alasan.” Gio hanya mengangkat bahu. “Kalau nggak mau, aku pulangin sekarang. Tapi, kalau mau, ya ikut.” Kania sempat ragu. Baginya, ajakan ke apartemen laki-laki bukan hal sepele. Tapi tatapan Gio malam itu, entah kenapa terasa lebih serius, buk

