Bab 11

1044 Words

Gio menatap Kania, tatapannya lembut namun dalam, seakan bisa menembus lapisan hati yang paling rapuh. Senyum tipisnya terukir, hangat tapi juga misterius, membuat udara di sekitar terasa lebih padat. Kania menelan ludah, gugup. Wajahnya memerah seperti buah delima yang baru dipetik. Ia merasakan darah mengalir deras ke pipinya, membuat tubuhnya kian panas. "G—Gio, turunin aku!" Kania mencoba memberontak, tangannya mencari pegangan untuk turun dari meja dapur. "Disini aja!" jawab Gio dengan nada tenang, seolah semua berada di bawah kendalinya. "Tapi—" "Disini lebih mudah," potong Gio, tatapannya tak pernah lepas dari mata Kania. Kania bisa mendengar detak jantungnya sendiri, cepat dan tak beraturan, seakan tubuhnya sedang bersiap menghadapi sesuatu yang tak terduga. Gio mendekatkan

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD