“Aduh, turun gak ya? Tapi gak mungkin kabur juga,” gumam Kania, bingung sendiri. Ia menoleh ke belakang, berharap ada yang bisa diajak berpikir.
“Put, Rahel! Bangun ih, aku nabrak! Bangunnn!” Kania mengguncang guncang bahu keduanya dengan panik, “Rahel!! Putri! Ayolah dong, bangun heh! Bangunnn!!!”
Namun dua sahabatnya tetap tertidur pulas, seolah dunia sedang baik baik saja.
Jantung Kania berdebar kencang. Tapi akhirnya, dengan langkah berat dan tangan gemetaran, ia membuka pintu mobil dan turun. Angin malam menerpa wajahnya, membuat tubuhnya merinding entah karena dingin, atau karena rasa takut yang semakin mencengkeram.
Akhirnya, ia perlahan berjalan mendekati tubuh lelaki yang tergeletak tak jauh dari motornya. Lampu mobil masih menyala terang, membasahi aspal dengan cahaya pucat.
“Misi, mas! Mas, mas gapapa kan?” tanya Kania lirih sambil menunduk.
“Halo? Permisi, mas! Mas pingsan ya?” lanjutnya, masih dengan nada cemas.
Kepanikan membuatnya bodoh. Sangat sangat sangatt bodoh!!
“g****k!” umpatnya lirih sambil menepuk dahinya sendiri. “Jelas jelas pingsan, masa ditanya pingsan gak,”
Ia berdiri kaku, bingung, frustasi. Jalanan benar benar sepi. Tidak ada satu pun kendaraan lewat. Tidak ada rumah. Hanya cahaya remang dari lampu jalan yang membuat bayangan tubuhnya memanjang di aspal.
Tiba tiba suara motor terdengar dari kejauhan.
Brrmmm,,.
Dua orang pria menghentikan motornya di depan mobil Kania. Keduanya turun, masih mengenakan helm setengah wajah.
“Wah, neng nabrak orang ya?” tanya salah satunya. Membuat Kania sedikit terkejut.
“S—saya, itu saya tidak sengaja, Mas. Saya,”
“Wah, orangnya mati itu, neng. Lapor polisi ya?”
“Jangan! Tolong jangan lapor polisi. Dia itu, dia pingsan, dia masih napas kok!” Kania tergagap panik. Suaranya bergetar.
Salah satu dari mereka mendekat. Mata mereka menyapu tubuh Kania dari ujung rambut ke ujung kaki. Kaos ketatnya agak kusut, celana panjangnya belepotan tanah saat menunduk tadi, dan kini ia tanpa alas kaki. Rambutnya tergerai kusut. Lalu mereka melongok ke dalam mobil, melihat dua gadis tertidur pulas.
“Ckckck, Cantik cantik tapi sendirian,” kata pria satunya, kini dengan nada genit, “Gimana kalau jalur damai aja?”
Kania melangkah mundur, jantungnya makin kencang.
“Jangan kurang ajar ya!” sentaknya, menepis tangan pria itu yang berusaha menyentuh pipinya.
‘’Hahahahaha!’’ Tapi tawa pria itu justru makin menjadi jadi, “Daripada kami lapor polisi loh,” ancamnya.
“Ya udah! Mending lapor polisi aja!” Kania berbalik, berniat mengambil ponsel dari dalam mobil. Tapi baru setengah langkah, tangan kasar itu mencengkeram lengannya dengan kuat.
“Lepas! Jangan kurang ajar!” teriak Kania, mencoba melepaskan diri.
“Gimana kalau kita temenin aja, neng? Anggep uang damai, atau hiburan malam?”
“LEPAAAASSS!! TOLONG!!! TOLONG!!” Kania menjerit, panik dan berusaha menendang nendang, tapi kedua pria itu mulai menariknya dengan kasar.
Air mata mengalir deras. Dia berontak sekuat tenaga. Tapi tak ada siapa siapa. Jalanan sunyi. Dua sahabatnya tertidur seperti mayat di dalam mobil, tak satu pun mendengar.
"Anjingg! Ini mau sampai kapan woy!" Tiba tiba terdengar bentakan keras. Lelaki yang tadi ditabrak Kania, kini bangun sambil memegangi kepala dan mengumpat keras.
Kania terperanjat. Matanya melebar melihat pria itu berdiri tertatih, wajahnya kesal menatap dua pria yang sedang mengganggunya tadi.
"Loh! mas-nya gapapa?" pekik Kania polos.
"Kenapa kalian malah godain dia!" geramnya lantang, menunjuk ke arah Kania.
"Hehehe, sayang tahu dianggurin. Kapan lagi coba kita dapet jackpot kayak gini." Jawab Salah satu dari mereka hanya terkekeh sambil menoleh santai.
"Kita cuma butuh duitnya!" sergah pria yang lain.
"Iya, tapi sekalian orangnya!" Nada bicaranya makin menjijikkan.
"Enggak! Kita cuma mau rampok, bukan perkosa dia!"
"Sekalian lah! Sekali jalan!"
"GAK ADA! GUE BILANG GAK ADA YA GAK ADA!" Lelaki yang ditabrak Kania tampak lebih waras dari dua temannya. Suaranya membentak, matanya menyalang marah.
Kania berdiri membatu, tubuhnya gemetar menyaksikan ketiga pria itu ternyata satu komplotan. Debat mereka semakin panas. Ia menggenggam ponselnya erat erat, namun tangannya terlalu gemetar untuk menekan angka. Suaranya bergetar saat akhirnya ia bersuara.
"Stoppp!" teriak Kania, berusaha terdengar tegas meski terdengar ketakutan, "K—kalian butuh duit, kan? Aku kasih! Aku kasih uang, tapi jangan apa apain aku!’’
Salah satu dari mereka langsung tertarik, matanya berbinar, "Nah! Itu lebih baik!"
Tapi pria satunya membantah, "Enggak! Ini tuh kesempatan, bro! Cewek bening gini gak dateng dua kali!"
"Gue bilang enggak ya enggak! Jangan rusak reputasi kita, bisa gak!"
"Reputasi apaan?"
"KITA PERAMPOK, BUKAN PEMERKOSA!"
Suasana jadi panas, ketiganya seperti akan saling hantam sendiri. Kania menahan napas, jengah dan ketakutan. Ia malas mendengar debat tak bermoral itu. Perlahan ia berbalik, membuka pintu mobil dan segera mengambil tasnya. Dengan panik ia mengacak acak isinya, mencari dompet dan uang tunai.
Tapi begitu ia kembali keluar, hendak menyerahkan uang itu—
Braaakkk!!!
Sebuah motor sport berwarna hitam melaju kencang dari ujung jalan dan berhenti mendadak di dekat keributan. Dalam sekejap, pengendara itu melompat turun dan langsung melayangkan tendangan keras ke salah satu pria.
Kania yang masih memeluk uang di tangannya, terperangah tak berkedip. Ia terduduk menyender di sisi mobil, tubuhnya masih sedikit gemetar. Suara hantaman, tendangan, dan teriakan mengisi udara malam itu.
‘’Arkkhh!’’
‘’Bangsatt!’’
‘’Anjing lo!’’
Bug! Bug! Bug!
Baku hantam dua lawan tiga berlangsung sengit. Namun kedua pria misterius itu jauh lebih terlatih. Tidak butuh waktu lama sampai tiga preman kampungan itu tumbang satu per satu dan kabur terbirit b***t ke arah gang kecil.
Suasana tiba tiba hening. Salah satu dari dua penyelamat itu berjalan mendekati Kania, membuka helmnya. Cahaya lampu jalan memantulkan wajah yang sangat Kania kenal.
"G—Gio!" seru Kania spontan.
Matanya membulat, wajahnya seketika berbinar cerah seperti anak kecil yang menemukan mainan favoritnya kembali. Semua ketakutan seakan lenyap begitu saja. Tanpa sadar, ia sedikit tersenyum lega tapi itu hanya bertahan satu detik.
"BEGO!" bentak Gio tajam, "Kebanyakan duit lo sampai mau kasih ke mereka, hah?!" Suara marahnya membuyarkan senyuman Kania.
Kania langsung memanyunkan bibir, matanya berkedip cepat seperti menahan air mata. Wajahnya berubah menjadi ekspresi cemberut kekanak kanakan, seolah baru dimarahi orang tuanya karena menjatuhkan gelas.
"Kok malah marah sih?" keluh Kania lirih, "Kamu gak niat nolongin aku ya?"
Gio mendongak, menarik napas dalam dan kasar sambil memejamkan mata. Ia mencoba menahan emosi yang campur aduk antara marah, panik, dan rasa, peduli yang tidak pernah dia tahu harus bagaimana cara mengungkapkannya.
Matanya terbuka, lalu menatap penampilan Kania dari atas sampai bawah. Kaos yang dikenakan Kania terlalu ketat, bahkan gadis itu tidak mengenakan alas kaki dan tubuh mungil yang terlihat semakin rapuh dibawah lampu jalan.