Bab 5

1044 Words
Hari demi hari berlalu sejak pertemuan tak terduga di tukang mie ayam. Tapi bayangan wajah dingin Gio masih terpatri jelas di benak Kania. Entah kenapa, cowok itu justru semakin menarik baginya. Ada misteri yang belum terungkap, dan Kania merasa tertantang untuk mencari tahu lebih jauh. Malam minggu pun tiba. Seperti yang sudah direncanakan, Kania kembali datang ke StarClub bersama dua sahabatnya, Rahel dan Putri. Dari semua, Kania terlihat paling antusias malam itu. Bahkan sejak dari mobil, ia sudah tak henti-hentinya menanyakan jam, merapikan rambut, hingga mengecek penampilannya di kamera depan ponsel. Langkah mereka memasuki area parkir disertai suara musik berdentum samar dari dalam club. Rahel yang berjalan di belakang, menggelengkan kepala melihat ulah Kania. “Sumpah, nih anak gak jelas banget. Waktu itu kita ajak ke sini kayak nolak mentah-mentah. Tapi sekarang? Lihat aja tuh, kayak cacing kepanasan gitu!” ucap Rahel sambil mendecak kesal, tangannya menunjuk gaya Kania yang mondar-mandir menunggu antrean masuk. “Begitulah, dia masih penasaran sama Gio. Hahahha. Tapi emang sih, dia seganteng itu sih,” kata Putri terkekeh, menatap Kania dengan senyum geli. “Dih, sumpah, otak kalian berdua bener-bener udah rusaaak!” “Ihh, apaan sih Hel? Dia gak seburuk yang kamu pikir kok. Kamu aja yang terlalu skeptis,” bela Kania sambil melirik Rahel dengan wajah sebal. Rahel menaikkan alis. “Bodo amat lah. Gue cuma suka musiknya doang. Gue gak minat orangnya. Kalian rebutan aja berdua.” Setelah itu, Rahel langsung melangkah masuk ke dalam club tanpa menoleh lagi. Suasana di dalam lebih meriah dari biasanya. Lampu-lampu neon menari di antara kabut asap mesin uap, musik berdentum keras, dan kerumunan orang mulai memenuhi lantai dansa. Kania mengikuti dari belakang. Begitu melewati pintu, matanya langsung bergerak liar. Ia memindai seluruh ruangan dengan cepat, penuh harap, mencari satu sosok yang diam-diam ia rindukan selama seminggu terakhir. Tapi nihil. Tak ada tanda-tanda kehadiran Gio di booth DJ. Bahkan di area lounge tempat biasanya Gio duduk pun kosong. Kania berdiri terpaku di tengah keramaian. Keramaian yang justru terasa sunyi bagi dirinya. ‘Apa mungkin belum dateng ?’ gumam Kania dalam hati. Malam semakin larut. Musik semakin keras, lampu-lampu club terus menari, dan lantai dansa mulai penuh sesak. Rahel dan Putri terlihat sangat menikmati malam itu. Mereka berdansa, tertawa, bahkan sempat ikut karaoke bareng DJ pengganti di atas panggung kecil. Namun suasana hati Kania sangat berbeda. Ia hanya duduk di pojokan sofa, memeluk lutut sambil memegang gelas minuman yang dari tadi tak disentuh. Pandangannya kosong, menatap ke arah booth DJ yang tetap tak terisi oleh sosok yang ia tunggu. Gio tidak datang. "Kan, lo kenapa sih? Dari tadi muka lo kayak abis ditinggal nikah," kata Putri sambil duduk di sampingnya, napasnya masih tersengal karena habis menari. "Capek aja. Suasana di sini gak seru kayak waktu dia main," jawab Kania memaksakan senyum, tapi matanya tak bisa bohong. Rahel yang baru kembali dari bar langsung menyahut, "Tuh kan, gue udah bilang dari awal. Nih cowok ngilang-ngilang gak jelas. Udah, lupain aja deh." Kania menggeleng lemah. "Aku cuma... pengin lihat dia sekali lagi. Enggak tahu kenapa, tapi kayak... aku nungguin sesuatu yang gak pasti." Putri menepuk pundak Kania pelan. "Lo naksir, Kan. Tapi dia tuh bukan cowok biasa. Banyak banget yang ngincer dia. Lo harus siap kecewa. Karena cabang nya dimana mana.” ‘’Dikata resto, punya banyak cabang!’’ keluh Kania mendengus kesal. ‘’Loh, dia itu lebih lebih dari resto Kania.’’ Kata Putri lalu dia tertawa. Malam itu, Kania benar-benar dibuat kecewa karena Gio tidak tampak batang hidungnya sedikit pun. Padahal, dari sore ia sudah berdandan maksimal, memilih baju paling kece, bahkan sempat latihan senyum di kaca. Namun hasilnya nihil. Harapannya pupus di tengah dentuman musik dan lampu strobo yang tak lagi terasa menarik. ‘’Dah lah, ayo pulang aja!’’ ajak Kania dengan lesu, ia mengajak Rahel dan Putri pulang. Club pun sebentar lagi akan tutup. Mereka bertiga keluar tanpa semangat, seperti anak kecil yang ditolak main di taman hiburan karena hujan. ‘’Ke rumah gue aja yak!’’ ‘’Ya udahlah,” Karena malam sudah terlalu larut dan mereka semua kelelahan, akhirnya diputuskan untuk menginap di rumah Putri. Dan karena Kania satu-satunya yang masih waras dan tidak terpengaruh minuman ataupun suasana party, dia-lah yang kebagian tugas membawa mobil. Di dalam mobil, Rahel sudah tertidur dengan mulut sedikit terbuka, sementara Putri sibuk merebahkan kursi dan memainkan musik pelan dari ponselnya. Kania menyetir dengan pandangan kosong, menyusuri jalanan kota yang mulai sepi. Udara malam menyelinap masuk melalui kaca yang sedikit terbuka. "Gimana mau menggatal, orang yang mau digatalin aja gak ada..." Kata-kata itu nyaris membuatnya tertawa sendiri. Tapi tak ada tawa keluar. Hanya senyum pahit yang menggantung di bibirnya. “Gio Gio, kamu tuh kayak sinyal WiFi. Kadang muncul, kadang ilang, dan selalu bikin penasaran,” gumamnya sambil menyalakan lampu sen kanan. Mobil terus melaju. Tapi hati Kania masih tertinggal di StarClub, tempat ia menaruh harapan, yang ternyata tidak pernah datang. "Rumah kamu jauh banget sih, Put!" keluh Kania dengan nada frustrasi. Matanya menatap Google Maps di layar HP yang terpasang di dashboard, memperlihatkan rute panjang berliku yang seakan tidak ada habisnya. "Makanya jauh, gue gak sanggup nyetir. Pala gue pusing banget sumpah," gumam Putri lemas, suara seraknya terdengar seperti habis konser. Kania melirik ke sebelahnya, hendak bertanya, tapi terkejut saat melihat Putri tiba-tiba membuka seatbelt dan mulai merangkak ke arah belakang. "Kamu mau kemana?" tanya Kania cepat, matanya masih fokus ke jalan, tapi ekor matanya waspada. "Pindah ke belakang!" sahut Putri tanpa dosa, dengan santainya merangkak melewati bahu Kania dan mendarat ke kursi belakang seperti gumpalan bantal hidup. "Asemm asemmm! Kenapa malah aku yang jadi supir sih!" keluh Kania, menggeleng geleng tak percaya. Tangannya tetap di setir, tapi napasnya berat menahan emosi. "Gapapa Kania. Gue ikhlas!" balas Putri santai, sebelum akhirnya benar-benar tertidur pulas hanya dalam hitungan detik efek dari alkohol dan lelah yang bercampur jadi satu. "Aaaaarrrkkhhh kesel kesel kesellll!" teriaknya keras sambil memukul setir beberapa kali, seperti anak kecil yang tak bisa beli mainan di mall. Tangannya menggenggam erat setir, matanya masih berkaca-kaca, sesekali menatap kaca spion ke arah kedua sahabatnya yang tertidur tak tahu diri di bangku belakang. Brakk!! Suara benturan keras mendadak membuyarkan amarah Kania. Mobilnya oleng sedikit. Tubuhnya terdorong ke depan lalu mundur kembali menghantam sandaran jok. "Waduhhh! Nabrakk!" pekiknya panik. Mata Kania membelalak, tangannya bergetar di atas setir.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD