Bab 4

1031 Words
Hari minggu adalah hari paling malas sedunia bagi Kania. Matahari sudah tinggi, tapi Kania masih betah bergulung di balik selimut tipisnya. Kamar apartemen lantai 30 itu cukup hangat diterpa cahaya matahari pagi. Ia tidak berniat kemana-mana hari ini hanya bersantai, rebahan, dan bermain ponsel. Dengan posisi tengkurap, dia membuka i********: dan mulai scroll beranda. Sesekali ia tertawa kecil melihat konten lucu, kadang mengerutkan dahi melihat berita viral. Sampai tiba-tiba, pandangannya terhenti pada sebuah video pendek dari seorang selebgram terkenal. Seorang wanita seksi, berbicara lantang penuh percaya diri. “Jadi wanita, kita harus bisa bersaing dan menggatal!” Kania mengerutkan alis. Ia memutar ulang video itu sekali lagi. Matanya menyipit, bibirnya mencibir samar. "Hemmm… bersaing dan menggatal? Gimana caranya?" gumamnya pelan, bingung namun penasaran. Ia menggulingkan tubuh, kini duduk bersila di tempat tidur. Jarinya mengetuk-ngetuk dagu seperti seorang filsuf. Wajahnya terlihat serius, seperti sedang memecahkan teka-teki hidup paling sulit. "Menggatal? Berarti aku harus mulai duluan?" bisiknya, lalu tersenyum geli sendiri, "Hemmm, aku coba deh." Dengan semangat aneh yang tiba-tiba muncul, Kania membuka kontak ponselnya. Dia menekan nama Putri dan memanggil. Nada sambung terdengar lama, sampai akhirnya suara Putri menjawab dengan nada malas dan serak. "Apaan sih Kan, ngantuk banget gue, sumpah!" keluh Putri dengan sangat malas. "Put, nanti malem, kalian kesana lagi gak?" tanya Kania cepat, penuh antusias. "Kesana kemana?" kata Putri yang malah balik bertanya. "Ke tempat semalem," jawab Kania santai, tapi matanya berbinar penuh harapan. "Mau ngapain?" Putri sampai mengerutkan dahi nya,. Sedikit tak mengerti karena semalam saja Kania menolak keras dan berulang kali mengajak pulang. Lantas mengapa sekarang menanyakan lagi kapan akan kesana ? ‘Dia waras kan ?’ gumam Putri dalam hati. "Ya gak tahu, semalem emang ngapain?" kata Kania dengan wajah polos nya. "Ulang tahun Rahel." "Ya udah, gimana kalau nanti, ulang tahun kamu." "Yee si kamprett!" suara Putri langsung mendengus kesal. "Ulang tahun gue masih Desember! Masih lama woy!" ‘’Yahhhh!’’ suara Kania terdengar cukup kecewa membuat Putri mulai curiga, suaranya berubah tajam. "Mau apa sih ngebet banget mau kesana?" "Iya, aku emang mau banget kesana lagi.’’ jawab Kania, jujur. "Iya mau ngapain?" tanya Putri penuh penekanan. "Mau lihat DJ yang semalem," ucap Kania tanpa ragu. Pipinya memerah, tapi semangatnya tetap menyala. "Anjirr jangan bilang lo juga tergila-gila sama dia!" teriak Putri. Tidurnya langsung hilang seketika. ‘’Hehehe, ‘’ Kania menyengir kuda, sambil menggaruk kepala nya yang tidak gatal, "Yuk, nanti. Malem kesana lagi." Putri langsung menghela napas nya berat. "Percuma Sayang. Nanti malam dia gak ada di klub itu." Kata Putri dengan santai. "Hah? Kok gitu? Kata kamu itu tempat punya dia?" tanya Kania seolah kurang suka mendengar jawaban Putri. "Ya, walau punya dia. Bukan berarti dia harus selalu ada kan," jelas Putri. Kania menghela napas, kecewa. "Terus gimana dong?" "Minggu depan." Jawab Putri Santai. "Lama banget, Put," rengek Kania. Putri menggerutu, "Astaga… kenapa malah jadi lo yang kegatelan sih Kan. Padahal duluan gue yang kegilaan sama dia." Kania bangkit dari tempat tidur, meraih handuk. "Ya udah ah, aku mau mandi. Mau cari makan, laper." "Haisss kampret emang. Ganggu orang tidur aja!" gerutu Putri di ujung telepon, disambung dengan bunyi klik sambungan berakhir. Setelah beberapa saat, Kania sudah selesai mandi, Kania berdiri di depan lemari, membuka pintunya lebar-lebar. Ia memilih celana pendek jeans di atas lutut dan kaos oversize berwarna putih. Rambutnya yang masih sedikit basah ia kuncir asal-asalan. Setelah itu, dia mengambil dompet kecil dan ponsel, lalu melangkah keluar dari apartemennya dengan santai. Perutnya sudah sejak tadi keroncongan. Untungnya, di sekitaran apartemen cukup banyak pedagang makanan. Jalanan siang itu agak ramai, tapi Kania menikmati suasana kota yang hidup. Matanya langsung tertuju pada gerobak mie ayam yang tampak ramai pembeli. "Pak, mie ayamnya satu ya," ucap Kania sambil tersenyum. Ia memilih duduk di salah satu meja plastik yang agak teduh. Sambil menunggu, Kania mengeluarkan ponsel dan kembali scroll media sosial. Tangannya aktif, matanya sibuk membaca caption, tapi pikirannya masih tertinggal pada satu sosok, DJ yang semalam berhasil mencuri perhatiannya. Ia bahkan sudah mencoba mencari akun media sosial pria itu, tapi nihil. Namun, hanya dalam hitungan menit, seseorang menarik kursi di depannya dan langsung duduk. Gerakannya cepat, seperti menghindari sesuatu. Kania mendongak, sedikit terganggu. "Maaf Mas, disini udah ada orang!" protesnya spontan. "Sebentar doang," jawab orang itu tanpa menatapnya, suaranya pelan dan berat. Kania mengerutkan dahi. Ada yang aneh. Suara itu… terdengar familiar. Tanpa pikir panjang, dia langsung menarik topi hitam si pria dan dengan cekatan membuka masker yang menutupi sebagian wajahnya. "Gio!" pekiknya dengan kaget, tangan menutup mulut. Detak jantungnya langsung berdegup kencang. Hatinya berkecamuk antara senang, bingung, dan tidak percaya. Pria yang sejak tadi coba ia cari di dunia maya, ternyata sekarang duduk hanya sejengkal darinya. "Kita ketemu lagi!" seru Kania penuh semangat, matanya berbinar. Namun sambutan Gio sangat jauh dari ekspektasinya. "Bisa diem gak!" sahut Gio dingin. Tatapannya tajam dan menusuk. Seolah kehadiran Kania adalah gangguan yang tidak ia harapkan. Tapi Kania tidak gentar. Senyumnya justru makin melebar. Ia menyilangkan tangan di atas meja dan menatap Gio tanpa berkedip. "Kamu mau beli apa? Makan disini atau bungkus? Disini aja ya, kita makan siang bareng?" tawarnya manis. Gio tidak menjawab. Ia hanya melirik sekilas, lalu kembali menunduk memainkan ponselnya. Jelas-jelas tidak tertarik. Tapi Kania tetap semangat. Bibirnya terus berceloteh, seperti anak kecil yang baru ketemu teman main. "Sumpah ya, aku gak nyangka banget bisa ketemu kamu disini. Padahal ya, aku tuh tadi abis diomelin temenku. Hihihi," katanya sambil menahan tawa. Gio sedikit menoleh, ekspresinya datar, tapi matanya menunjukkan rasa heran seolah tertarik mendengar cerita Kania. "Rencananya aku mau ke Starclub lagi nanti malam, tapi kata temenku kamu gak ada. Aku maksa, tapi aku malah diomelin hihihi," lanjutnya polos. Gio hanya diam. Tidak ada respon, tidak ada senyum. Hanya diam, lalu berdiri saat pesanan mie ayamnya selesai. Ia mengambil bungkusan plastik dari si penjual dan pergi begitu saja, tanpa sepatah kata pun. Kania hanya bisa memandang punggungnya menjauh. Tapi itu tidak membuat semangatnya surut. "Nanti malam aku tunggu di SC yaaaa!" teriak Kania sambil melambaikan tangan. Gio tidak menoleh. Tapi Kania tersenyum senyum seorang gadis yang merasa pertemuan barusan adalah takdir kecil yang sedang membuka jalan besar. ‘Inget kata Lina, harus bisa bersaing dan menggatal, oke deh! Tunggu aku!’ gumam Kania terkekeh sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD