Lampu neon berkedip cepat mengikuti irama musik. Asap tipis mengepul dari mesin fog di sudut ruangan, menciptakan efek dramatis di panggung DJ yang mulai jadi pusat perhatian.
Kania memicingkan mata, mencoba menembus kerumunan dan cahaya yang saling bersaing di ruang klub itu. Pandangannya terpaku pada sosok pria di balik meja DJ, tinggi, gagah, dengan postur yang mencolok. Jaket kulit hitam yang membalut tubuhnya menambah kesan misterius. Tapi bukan itu yang membuat Kania terpaku.
Topi itu? topi hitam dengan detail kecil di sisi kiri. Ia pernah melihatnya. Ia yakin pernah melihatnya. Dan ketika pria itu menoleh sedikit ke samping, sembari mengacungkan satu tangan ke udara dan tersenyum pada pengunjung yang bersorak histeris, Kania tercekat.
Wajah itu, walau kini tanpa masker dan kacamata hitam, jelas tergambar garis wajahnya. Rahang tajam, senyum yang menawan, dan karisma yang seperti menyedot perhatian siapa pun di sekitarnya.
“Ternyata, sangat tampan,” gumam Kania pelan, hampir tak percaya. Hatinya berdesir tanpa izin. Tak ada lagi jejak pria kasar yang mengumpat di bandara yang ada kini adalah sosok bintang panggung yang memesona dan begitu menguasai suasana.
Jari-jari pria itu menari di atas alat DJ dengan cekatan, memutar beat, memadukan efek suara, membuat suasana di dalam klub meledak. Sesekali ia berjoget, tertawa bersama pengunjung yang naik ke panggung, dan memainkan gelombang energi malam itu.
Kania hanya bisa terpaku.
"Heh kenapa lo bengong?" tanya Putri sambil menari di sampingnya.
Kania masih menatap pria itu. "Siapa dia?"
Rahel yang duduk sebentar sambil mengelap keringat dengan tisu langsung menjawab, "Oh itu Gio!’’
Kania menoleh cepat. "Gio? Siapa?’’
"Iya. Giovano. Pemilik sekaligus DJ paling ditunggu di Starclub. Dia jarang turun langsung, makanya kalau dia main, klub pasti penuh." Putri menambahkan, suaranya nyaris tak terdengar karena suara musik yang menggelegar.
Kania menelan ludah. Gio... Giovano.
Jadi itu namanya. Pria yang memakinya di bandara, ternyata adalah DJ terkenal. Dan kini, dia tampil luar biasa di hadapannya.
Tanpa sadar, Kania memegang gelas minumannya lebih erat. Malam ini memang malam pertama Kania mengenal dunia malam dan ternyata, dia baru saja membuka pintu menuju cerita yang jauh lebih dalam dan berbahaya dari yang ia duga.
Semakin malam, Musik kian menghentak, lampu sorot berputar cepat, menciptakan ilusi seolah semua bergerak dalam satu irama. Lantai dansa penuh sesak, peluh dan tawa berbaur menjadi satu. Namun di tengah keramaian itu, fokus Kania hanya tertuju pada satu sosok di atas panggung.
Giovano.
Pria itu seperti magnet yang menarik seluruh atensi ruangan, termasuk milik Kania. Ia tak bisa berhenti menatapnya cara dia mengatur beat, cara dia mengangkat tangan dan membuat orang bersorak, bahkan senyum kecilnya saat merasa puas dengan alunan musik ciptaannya.
“Gimana caranya kalau mau kenalan sama dia?” tanya Kania tiba-tiba, setengah meneriakkan suaranya agar terdengar di tengah dentuman musik.
Rahel langsung tertawa, keras dan sedikit sinis. “Gak usah mimpi! Dia itu susah! Jarang banget mau diajak kenalan sama pengunjung!”
Putri yang sedang menuang minuman hanya mengangguk sambil tertawa kecil. “Yups, bener tuh. Gue aja udah lama banget ngincer, gak dapet-dapet. Hahaha! Bahkan nyapa pun kayak cuma sekilas!”
Namun Kania hanya diam. Matanya tak lepas dari panggung, dari pria yang begitu memikat itu. Ada sesuatu dalam diri Gio yang membuat jantungnya berdegup lebih cepat bukan sekadar karena ketampanan, tapi karena auranya yang dingin tapi memabukkan. Arogan, tapi memikat.
Walau dua temannya menganggap itu mustahil, Kania tidak gentar. Wajahnya tenang, namun sorot matanya penuh tekad dan rasa penasaran yang membakar. Ia menggigit bibir pelan, matanya mengunci pada Gio yang sedang memainkan transisi lagu dengan penuh percaya diri.
"Kayaknya, aku jatuh cinta." Gumam itu meluncur dari bibirnya begitu saja. Lirih. Tidak terdengar siapa pun. Tertelan dalam bisingnya musik dan gemerlap malam.
Kania tak bisa menghentikan tatapannya pada pria itu. Setiap gerakan Gio di atas panggung terasa seperti pertunjukan yang diciptakan hanya untuknya. Saat lagu terakhir selesai diputar dan sorakan penonton memuncak, Gio melempar senyum tipis, mengangkat kedua tangannya, lalu perlahan turun dari panggung.
Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Kania.
“Aku ke toilet dulu ya!” serunya pada Rahel dan Putri sambil menyambar ponselnya.
“Oke, jangan lama!” sahut Rahel, terlalu sibuk berjoget untuk curiga.
Tapi arah langkah Kania bukan menuju toilet. Dengan hati-hati, ia menyusuri sisi-sisi ruangan yang remang. Beberapa staf club berlalu-lalang, dan Kania sempat ragu harus mencari ke mana.
Tapi entah bagaimana, nalurinya membawanya ke sebuah lorong kecil di sisi panggung yang dijaga seorang pria berbadan besar. Pintu itu terbuka sebentar, dan Kania melihat Gio masuk ke dalamnya. Tanpa pikir panjang, ia menyelinap masuk sebelum pintu tertutup.
Dan di sanalah dia berdiri di hadapan DJ yang membuat jantungnya kacau sejak pertama melihat.
“Hay!” serunya, sedikit terengah. Gio yang sedang melepas topinya langsung menoleh dengan ekspresi bingung dan tidak ramah. Keningnya berkerut, matanya menyipit penuh curiga.
“Siapa lo?” suaranya datar, dingin, dan langsung memotong jarak. Membuat Kania tersentak, tapi tetap berdiri tegak.
“Kania! Aku Kania!” jawabnya cepat, menyodorkan tangan dengan canggung, seperti gadis polos yang baru kali ini bicara dengan selebriti.
Gio hanya menatap tangannya. Tidak menyambut. Tidak juga tersenyum. Matanya mengamati wajah Kania wajah lugu dengan mata besar yang terlihat terlalu bersih untuk tempat seperti ini.
“Balik sana lo. Tempat ini gak cocok buat lo,” ucapnya tajam, kemudian tanpa basa-basi, ia melewati Kania dan melangkah pergi seperti angin yang tak bisa ditahan.
Kania hanya berdiri mematung beberapa detik. Tangannya masih menggantung di udara. Tapi kemudian ia menariknya pelan dan terkekeh sendiri.
“Galak banget ternyata, Tapi ganteng!” gumamnya sambil menggeleng-geleng, senyum geli menyembul di wajahnya.
Alih-alih kapok, Kania justru merasa lebih tertantang. Sosok dingin dan misterius itu membuatnya semakin penasaran. Ia belum tahu, tapi hatinya sudah yakin pertemuannya dengan Gio baru saja dimulai.