Setelah hampir satu jam menempuh perjalanan dengan perasaan campur aduk, akhirnya Gio tiba di apartemen Kania. Ia menepikan mobil di area parkir, sempat menarik napas panjang sebelum menghubungi Kania lewat ponsel. “Aku sudah sampai,” ucap Gio dengan suara agak bergetar, mencoba terdengar tenang. “Ke taman, aku kesana sekarang!” balas Kania singkat, terdengar tergesa tapi juga bersemangat. “Hati-hati,” kata Gio spontan. Ia ingin berkata lebih banyak, tapi Kania keburu menutup telepon. Kania hanya tersenyum tipis di apartemennya, tanpa menjawab. Ia segera meraih sandal slip-on, menuruni lift dengan hati yang terasa berdebar tanpa sebab. ** Di taman apartemen yang rindang, Gio sudah lebih dulu duduk di bangku panjang. Kedua tangannya dengan hati-hati memegang sangkar, lalu mengeluarkan

