“Bisakah kamu tidak berhubungan lagi dengan Indra?” tanya Gio lirih. Suaranya nyaris tenggelam di antara desiran angin sore yang melewati pepohonan taman. Kania menoleh sebentar, menatap Gio dengan ekspresi rumit. Ada rasa iba, ada juga keteguhan di sana. Ia tidak langsung menjawab. Hanya menarik napas panjang, seolah mengumpulkan keberanian. “Gio, bisakah kamu melihat sekitarmu?” katanya akhirnya, tenang namun penuh makna. Gio memiringkan kepala, bingung. Matanya berkerut menatap wajah Kania. “Maksud kamu apa?” tanyanya. Kania mengalihkan pandangan. Matanya menerawang jauh ke arah langit yang mulai berubah warna jingga. Sore itu terasa begitu syahdu, namun di balik keindahan senja, hati Kania terasa berat. Ia menggenggam kedua tangannya sendiri di atas pangkuan, menahannya agar tidak

