Gio tiba di rumah hampir pukul tujuh malam. Udara malam terasa lembap, aroma hujan yang menggantung di langit terbawa masuk bersamaan dengan angin yang menerpa wajahnya saat ia membuka pintu. Rumah itu terang, lampu-lampu ruang tamu menyala hangat, namun bagi Gio yang hatinya sedang kacau, cahaya itu terasa menusuk. Begitu langkahnya memasuki ruang keluarga, matanya langsung menangkap sosok yang duduk tenang di sofa, bersandar dengan elegan. Kemeja putih rapi dengan lengan tergulung hingga siku, jam tangan berkilat melingkar di pergelangan. Wajahnya tegas, dewasa, dengan sorot mata yang seolah bisa menembus dinding batin siapa pun yang menatapnya. Di tangannya ada secangkir kopi yang asapnya masih mengepul. “Kamu dari mana, Gi?” suaranya berat, tenang, tapi ada nada tajam yang tidak bisa

