Hati siapa yang tidak teriris ketika melihat orang yang melahirkannya tengah terbarinh di atas brankar dengan bantuan alat pernafasannya. Itu lah yang Maura dan Dea rasakan. Bahkan rasanya Maura ingin menggantikan posisi bundanya itu. Kedua tangannya menggenggam tangan sang bunda dengan erat, dan kedua matanya yang terus memandang kearah sang bunda. Rasanya dia ingin terus menatap wajah bundanya itu, takut jika dia pergi akan ada sesuatu hal buruk yang menimpa. Begitu juga dengan Attar dan Kiara yang menatap kedua saudara itu dari sofa yang ada di ruangan tersebut. "Kesian gue sama Ara Tar." ujar Kiara dengan tatapannya yang tidak lepas dari Maura dan juga Dea. Di sana dia melihat Maura sudah bisa sedikit lebih tegar dari pada Dea yang menangis dengan menggenggam tangan bundanya. Tadi

