Arga tetap ngeyel ingin ikut masuk ke dalam gang kecil yang hanya muat satu motor.
Arga merasa tidak percaya jika raya si gadis ojol tinggal seorang diri di tempat itu.
" tapi om, gang itu kecil nanti mobil om gimana?"
" ya gak gimana gimana, biar saya parkir di sini saja sebentar"
" ya sudah terserah om saja"
Raya mendengus melihat kelakuan om om itu.
Banyak sekali mau nya.
Untung tampan. Batin raya sambil menuntun motor nya masuk gang.
" kok gak di naikin motor nya"
" kita jalan aja om. Kalo saya naikin motor nya nanti om ketinggalan terus ilang malah repot lagi."
" jadi maksud kamu saya merepot kan?"
" enggak om. Bukan gitu maksud aku"
" om kan gak tau daerah sini. Di depan juga banyak belokan gang kecil. Nanti im salah belok kalo jalan sendirian"
" emh,,, kamu sudah lama tinggal di daerah sini?"
" sudah hampir 3 tahun om"
Mereka jalan kaki sambil berbincang.
Jalanan di gang sempit itu terasa pengap untuk arga yang baru pertama kali menginjak kan kaki nya di tempat itu.
Tapi seperti nya raya sudah terbiasa.
" kenapa gak tinggal sama saudara almarhum orang tua kamu?"
" saya gak mau ngerepotin om. Dari bayi saya sudah di buang di panti. Sebenar nya saya juga tidak tau apa orang tua saya sudah meninggal apa belum. Ibu panti cuma cerita kalo dulu nemu in saya di deket tong sampah."
" apa selama kamu tinggal di panti sama sekali tidak ada yang mencari mu? "
" dulu sempat ada yang datang mengaku sebagai tante saya. Adik dari ibu saya. Dia bilang orang tua saya tengah merantau. Tapi saya tidak mau tau apa pun sekarang. Mereka tidak mengingin kan saya dari lahir. Bukti nya saya di buang. Jadi saya anggap mereka sudah tidak ada. "
" apa kamu sama sekali tidak ingin tau keberadaan mereka? "
" penasaran itu pasti ada. Sampai sekarang pun saya masih berfikir tentang kesalahan saya lahir di dunia ini sampai mereka tega mem buang saya. Tapi saya bisa apa? "
" maaf kalau saya banyak nanya"
Arga dan raya berbicara banyak.
Arga semakin merasa iba pada gadis ojol ini.
Di usia nya yang masih belia, sudah di hadap kan dengan masalah yang cukup pelik.
Arga semakin teringat akan sarah anak kesayangan nya.
Arga semakin bertekad untuk lebih baik lagi dalam menjaga sarah.
Dan setelah mendengar secuil kisah hidup raya, arga semakin merasa ingin melakukan sesuatu untuk gadis itu.
Ingin meringan kan sedikit beban yang gadis itu tanggung sendirian.
Tapi arga belum memikirkan apa yang akan ia lakukan untuk membantu raya.
" gak apa apa om. Saya juga jadi gak enak. Malah jadi kaya curhat sama om"
" apa masih jauh"
" enggak om. Itu yang cat biru nomor dua"
Akhir nya mereka sampai di kos san raya.
Arga kembali terkejut melihat tempat yang di tinggali raya.
Dari depan nampat cat tembok sudah kusam.
Ada beberapa pakaian yang di gantung di depan.
Melihat kanan dan kiri pun seperti nya tak jauh berbeda.
Arga merasa semakin pengap setelah raya membuka pintu.
Arga berdiri di depan pintu kamar raya.
Melihat sekeliling.
Hanya rumah petak berukuran 3 x 3 meter.
Ada sebuah lemari plastik. Mungkin untuk menyimpan baju baju raya.
Sebuah meja kecil dan tumpukan buku di atasnya.
Kasur lantai tipis yang sudah usang dan satu bantal.
Beberapa botol minum yang tergeletak di lantai dan beberapa bungkus mi instan.
Lutut arga semakin lemas seperti tak sanggup berdiri.
Membayang kan raya gadis belia tinggal di tempat seperti ini seorang diri.
" mau masuk dulu om? Tapi maaf gak ada kursi buat duduk. He he he"
Raya menggaruk kening nya yang tak gatal.
Melihat arga yang hanya bengong melihat keadaan tempat tinggal nya.
Raya merasa tidak enak.
Jika saja arga tidak menuduh nya ber bohong tadi, raya juga tidak ingin mengajak siapa pun untuk datang ke tempat yang dia tinggali.
Apalagi arga orang kaya. Pasti jijik melihat keadaan seperti ini.
Tapi karna arga memaksa dan hari pun sudah larut malam menjelang pagi. Di tambah lagi badan yang sudah lelah bekerja dan dingin karna hujan raya memutus kan untuk menginin kan arga mengantar nya pulang.
" di mana kamar mandi nya?" tanya arga setelah masuk dan duduk di atas kasur tipis yang biasa di gunakan raya untuk tidur.
" kamar mandi nya di luar om. Om mau ke kamar mandi?"
" enggak. Cuma nanya aja. Lalu motor kamu di taruh mana kalo malem?"
" saya masukin sini om. Kalo di luar takut ilang"
" apa kamu tidur di sini?" arga menepuk kasur tipis yang dia duduki.
" iya om saya tidur di sini. Ruangan nya cuma ini saja om. Ga ada ruangan lain"
" jadi kamu tidur sebelahan sama motor?"
" he he. Iya om. Motor saya kayak suami saya"
Raya melepas jaket dan helm nya. Dia simpan di atas motor yang belum di masuk kan ke dalam karna masih ada arga.
" maaf ya om. Gak bisa nawarin minum. Soal nya gak ada minum man"
Raya benar benar tak enak hati.
Melihat arga yang selalu memutar mata nya untuk melihat sekeliling ruangan tempat tinggal nya.
" gak apa apa. Saya juga tidak haus kok"
Bagaimana arga merasa haus.
Arga hanya semakin merasa engap jika lama lama berada di tempat ini.
Hati nya semakin ngilu melihat keadaan raya.