Makasih om.

893 Words
Entah kenapa arga merasa ingin sekali melakukan sesuatu untuk membantu raya. Waktu sudah menunjukan pukul satu malam menjelang pagi. Dan arga masih duduk di dalam kos san raya. " besok hari minggu. Apa kamu libur bekerja?" " enggak lah om, kalo hari minggu biasa nya saya mulai narik dari pagi om. Kan hari libur banyak orang yang mau bepergian." "apa kamu nyaman tinggal di sini raya?" " ya nyaman gak nyaman om. Siapa sih yang gak mau tinggal di tempat bagus. Cuman kan saya belum mampu buat bayar di tempat yang lebih baik dari ini om. Ini aja udah bersyukur masih bisa di tempati untuk istirahat." " yang bayar uang sekolah kamu siapa ray? " " saya sendiri om. " " apa dari pihak panti tidak membantu membiayai sekolah kamu" " Di panti kan banyak anak anak lain yang tinggal di sana dan lagi yang masih bayi kan lebih penting kebutuhan nya. Jadi mereka mengutama kan kebutuhan yang lebih penting dulu om." Arga hanya mengangguk mendengar penjelasan dari raya tentang panti. " apa rencana kamu setelah lulus sekolah nanti?" " rencana nya yaa,, pasti nyari kerjaan yang tempat yang mau menerima saya om. Masih nyambi jadi tukang ojol juga. " " baik lah. Saya mau pamit pulang. Kamu pasti lelah. Istirahat lah. Ini sudah malam. Terimakasih ya sudah mengantar koper saya. Dan maaf saya udah mengganggu waktu istirahat kamu. " " kembali kasih om, om udah baik banget sma saya. Mau nganterin saya pulang. Padahal saya mah sudah biasa pulang tengah malam juga. " " jangan keseringan pulang malam. Kamu anak gadis. Bahaya kalo berkendara malam malam " " iya om saya tau. Tapi pekerjaan saya kan memang begitu om. " " ya sudah kalo gitu saya pulang dulu. Lain kali saya mampir lagi" " iya. Makasih om. Hati hati di jalan" Arga pulang ke apartment. Di jalan arga melihat banyak muda mudi yang tengah menikmati malam minggu. Mereka terlihat tertawa dengan teman teman sebaya nya Namun arga masih memikir kan raya yang hidup sebatang kara di ibu kota. Mungkin raya tidak pernah menikmati masa masa remaja seperti anak anak itu karna tuntutan hidup yang harus di tanggung sendiri. Se sampai nya di apartment arga segera membersihkan tubuh nya dan segera tidur. Pagi pagi sekali sarah sudah bangun dan berniat membangun kan arga untuk mengajak nya jalan jalan pagi sekalian nyari sarapan. " pah... Papah. Papah bangun!!! Kita jalan jalan yuk!!" " jam berapa sekarang sayang?" " ini jam 6 pah" " mau jalan jalan kemana?" Meski arga masih sangat ngantuk karna baru tidur beberapa jam. Namun arga tetap berusaha bangun dan menuruti kemauan anak kesayangan nya. Arga bangkit dan berjalan ke arah kamar mandi. Mencuci muka agar lebih segar. Sarah sudah menunggu ayah nya. Duduk di depan tv sambil memain kan ponsel nya. " mau jalan jalan kemana sayang?" Tanya arga lagi. Duduk di samping anak nya dan menguncir rambut anak kesayangan nya. " iiihh... Papah apa'an si?! Aku kan udah gede, aku bisa kuncir rambut aku sendiri pah" Sarah bersungut sungut karna papah nya berniat menguncir rambut nya. Arga hanya tersenyum mendengar keluhan anak gadis nya. " masa sih anak papah udah gede." " tau akh... Ayo jalan. Aku mau ke bendungan sana. Pasti banyak yang jualan sarapan pah. Aku mau jalan jalan ke sana" " baik lah ayo" Sesampai nya di sana sarah sangat senang. Karna sarah melihat banyak yang jualan makanan. Dan banyak muda mudi yang bersepeda dan banyak pasangan orang tua yang mengajak anak anak nya untuk sekedar jalan jalan pagi. " pah aku mau beli itu." " mau beli apa sayang?" " lontong sama gorengan" Sarah lari menuju ke abang tukan jualan gorengan. Mata sarah bebinar melihat aneka gorengan. Ada juga yang jualan minuman dan masih banyak lagi. Sarah berdiri mengantri di belakang ibu ibu. Mungkin gorengan ini enak. Karna antrian yang lumayan panjang. Hingga beberapa menit kemudian sampai lah pada giliran sarah. Arga merangkul sarah layak nya teman. " bang saya mau tahu nya dua tempe nya dua lontong dua sama bakwan nya empat. Mau molen nya juga donk lima." " siap neng" Arga mendelik mendengar pesanan anak nya. " sayang kamu pesen banyak banget. Yakin bisa kamu makan semua?" " yakin lah." jawab sarah sekena nya. " syang.. Gak baik makan makanan berminyak terlalu banyak". Abang yang jualan gorengan menatap sarah dan arga bergantian. " wah neng, pacar nya perhatian sekali yah?" Sarah melongo mendengar ucapan abang gorengan. Sedang kan arga malah tersenyum bangga. Arga merasa bangga. Jika abang gorengan berfikir ia adalah pacar anak nya itu berarti orang itu melihat arga masih seperti seumuran dengan anak nya. " maksud nya om om ini pacar saya?" Sarah melirik ayah nya yang masih tersenyum me ngejek. " ini bapak saya bang. Dia sudah tua. Tapi gak laku laku bang" ejek sarah pada ayah nya. Arga tak ambil pusing dengan sindiran anak nya. Toh tidak mengubah pandangan orang lain yang melihat nya masih seperti anak muda. Mereka duduk di sebuah kursi di bawah pohon. Sarah menikmati lontong dan gorengan yang baru di beli nya. " pah,, haus. Papah beli minum donk" " ya udah. Kamu duduk sini jangan kemana mana" Arga berjalan keliling mencari minum. Namun saat tengah mencari cari minuman yang ia mau, matanya menangkap bayangan gadis ojol yang tengah di marahi oleh bapak bapak. Arga segera menghampiri memastikan bahwa yang di lihat nya tidak salah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD