BELAJAR MENIPU
Belajar Menipu
-----
Segera kulajukan sepeda motor menuju alamat yang ditunjukkan oleh pembeli masker di olshopku.
"Alamatnya di mana, Mbak?" tanya adikku yang kebetulan ikut karena minta dianterin beli HP.
"Sudah dekat kok, Dek."
Di sebuah perempatan, kubelokkan sepeda matic ke kanan. Selanjutnya, memarkirkan di tepi kiri jalan.
"Tunggu di sini dulu, ya, Dek!" ujarku pada adikku, Ina.
Wanita dengan dua anak itu pun mengangguk. Maka, segera kuketuk pintu bercat putih dengan keramik warna merah tua tersebut. Persis seperti yang pelangganku jelaskan di messenger.
"Assalamu'alaikum ...."
Sudah tiga kali kulantunkan salam disertai ketukan pintu, tapi sang empunya rumah tak jua keluar. Ada perasaan tak nyaman dalam diri, jangan-jangan dia sudah pergi, seperti pesan yang dia sampaikan tadi. Kembali kubuka aplikasi messenger, dan mengecek pesan yang dikirim oleh pelanggan yang berfoto profil seorang gadis kecil yang memangku balita.
[Tolong dianterin sekarang, ya, Bu! Soalnya saya mau pergi.]
Aku pun beranjak hendak meninggalkan rumahnya. Mendadak, seorang pria seusia bapak mertuaku tampak keluar dari rumah tersebut. Bulir-bulir air segar menghiasi wajah sepuhnya. Sepertinya beliau usai mandi.
"Ada apa, ya, Nak?" sapa beliau.
"Sebelumnya maaf, Pak. Saya mau mengantarkan pesanan," jawabku sambil meluangkan dua masker anak yang berbungkus plastik kecil.
"Lho, tapi saya nggak pesan itu, Nak."
"Pesanan putri Bapak, mungkin untuk cucu Bapak. Ini orangnya, Pak." Kutunjukkan foto profil yang ada di messenger.
Mata sepuhnya mengernyit, menelisik gambar kecil itu. Iya, awalnya hendak kubukakan foto profil yang ada di sss-nya, tapi, kuota dataku sudah tak bernyawa. Maka, hanya itu yang bisa kutunjukkan pada beliau.
"Siapa, ya, Nak? Saya kok nggak kenal, dan lagi ... jangankan cucu ... istri dan anak saja saya tidak punya. Saya hidup seorang diri di sini."
Astaghfirullah ... tanpa menunggu lama, segera aku mohon diri, melangkah menuju sepeda motor yang sejak tadi ditunggui oleh Ina dan putraku.
"Sudah, Mbak?" tanya Ina.
"Belum, Na. Salah alamat," jawabku sambil menyelipkan plastik yang berisi masker tersebut pada saku kanan sepeda motor.
"Lho, nah tadi nggak sampean tanyai alamatnya yang jelas, kah, Mbak?"
"Sudah, dan jawabnnya, ya ... itu rumahnya," jelasku sembari menjalankan sepeda motor.
"Ayo coba jalan ke timur, Mbak. Cari rumah yang berwarna merah," ajaknya.
Kuturuti usulan Ina, setiap ada orang, aku turun dari motor dan menanyakan alamat rumah pelangganku, berbekal foto kecil dari messenger. Sayangnya, nihil. Tak ada seorang pun yang mengenalinya.
"Ya udah, Na, kita langsung ke konter saja, entar kemaleman," ajakku.
"Bund, maskernya nggak jadi dianterin?" tanya putraku yang berdiri di depan.
"Nggak, Nak. Orangnya sudah pergi."
Setiba di konter, kubiarkan Ina memilih-milih handphone. Kubuka dompet, untuk melihat uang yang kubawa. Sebab tadi aku gugup, jadi tak sempat melihat isi dompet. Alhamdulillah, untungnya masih ada lembaran biru dan hijau tampak di sana. Maka, kusodorkan uang tersebut pada penjaga konter untuk membeli kuota data, agar bisa menghubungi pelangganku tadi. Jujur, rasa tak nyaman menghantuiku. Takut, iya aku takut tak lagi dipercayai oleh para customer.
"Mbak beli pulsa kuota?" tanya Ina, dan kujawab dengan anggukkan.
"Memang berapa sih, total yang mau dibeli orang itu, Mbak?" tanyanya lagi.
"Enam belas ribu," jawabku lirih.
"Ya Allah, malah tekor, Mbak."
"Nggak apa, Na. Daripada Mbak nggak dipercaya oleh pembeli lagi. Membangun kepercayaan pembeli itu lebih penting. InsyaAllah, pasti ada rejeki dari pintu lain."
Ina pun kembali asyik ngobrol tentang tipe HP dengan penjaga konter, sedang aku lagi berusaha menghubungi pelanggan tersebut untuk meminta kepastian alamatnya.
Tak aktif, iya, messengernya tak aktif. Tetap berkhusnudzon, mungkin dia memang sudah berangkat seperti yang dia sampaikan tadi.
"Na, Mbak mau nyari rumah orang ini dulu, ya! Kamu di sini saja, entar disusul Mbak lagi." Ina mengangguk.
Kembali kulajukan motor ditemani bocah enam tahun. Kutelusuri jalan perkampungan, berharap messenger Lala Afrani aktif, dan membalas pesanku. Tetap nihil, dan aku pun pasrah.
***
Setiba di rumah, beberapa messenger masuk, salah satunya dari Lala Afrani.
[Anda lambat kok, saya ya sudah berangkat ke Solo.]
Kuketik balasan untuknya.
[Oh, ya sudah nggak apa, Bu. Mungkin belum rejeki saya.]
Aku masih penasaran dengan alamat aslinya, maka kembali kuketik balasan untuknya.
[Sebenarnya rumah Ibu di mana, ya?]
Tak butuh waktu lama, dia membalas.
[Jakarta]
Kuketik lagi balasan.
[Lho, lah yang tadi itu rumahnya siapa?]
Tampak dia sedang mengetik.
[Rumah mertua saya.]
Tak lagi kubalas, karena bagiku semua sudah jelas tak perlu diperpanjang lagi.
***
Beberapa hari berlalu, sebuah pesan dari Lala Afrani masuk ke gawaiku.
[Bu, roknya saya beli semua. Ada berapa? Berapa harganya?]
Segera kubalas, karena takut mengecewakannya lagi.
[Iya, silahkan, Bu! Harganya 45rb, kalau semua berarti tinggal dikalikan, 45x5=225ribu. Mau dikirim ke alamat mana?]
Masker gagal dibeli, sekarang malah diborong. Rejeki memang sudah diatur. Beberapa detik, terkirim balasan darinya.
[Saya ambil ke rumahmu saja. Minta alamatnya, ya! Tolong fotokan rumahnya. Rumah saya juga tidak jauh dari rumahmu.]
'Ooh, berarti dia sudah pulang dari Solo, tapi kok aneh, katanya kemarin rumahnya di Jakarta. Sekarang bilangnya nggak jauh dari rumahku. Kalau nggak jauh dari rumahku, kenapa minta difotoin segala?' pikirku.
[Nanti Ibu tunggu saja di warung bakso yang ada di kanan jalan, ya! Kalau sudah di sana, hubungi saya. Nanti saya samperin ke sana.]
[Oh, ya, maskernya yang kemarin sekalian juga, kah, Bu? Biar nanti saya bawakan.]
Masuk balasan lagi darinya yang menambah keanehan.
[Masker? Masker apa? Saya tidak pernah pesan masker. Kamu salah orang.]
Beberapa menit kemudian, dia mengirim pesan lagi.
[Saya sudah di jalan]
Oke, sudah jelas. Dia hanya ingin mempermainkanku. Namun, beberapa saat, dia kembali mengirim pesan.
[Bu, tolong saya kecelakaan! Anak saya meninggal karena tabrak lari.]
Setelah membaca pesannya, langsung kubalas.
[Lho, kecelakaan di mana?]
[Di jembatan sebelah selatannya rumah Ibu. Tolong cepat ke sini, Bu! Saya sudah tidak tahan]
[Tolong fotokan!]
[Saya berdarah parah, tidak bisa memfoto.]
[Tidak bisa memotret tapi bisa ngetik chat.]
[Ini saja diketikan orang. G*bl*k.]
Tak lagi kubalas, karena aku yakin dia hanya ingin membodohiku. Namun, dia masih mengirim pesan lagi.
[S*nd*l b*l*ng]
Ya Allah, siapa dia sebenarnya? Mengapa kata-katanya begitu kasar?
Akhirnya, segera kucari informasi tentang akun sss atas nama Lala Afrani. Betapa terkejutnya saya, tatkala tahu kebenarannya. Akun tersebut milik bocah delapan tahun, yang ada di foto profil. Alamatnya juga tak jauh dari rumah saya. Allahu Akbar, anak sekecil itu, dengan lihainya bermain kata untuk membodohi orang dewasa.
Pertanyaan yang terus menghantui saya, dari mana dia belajar merangkai kata-kata itu? Apakah orang tuanya tahu tentang perbuatan anaknya? Jika tidak, ini sangat memprihatinkan. Mengingat di usia belia, dia sudah asyik dengan gadget, dan menggunakannya untuk belajar menipu. Di mana peran orang tua? Mengapa dibiarkan? Atau mungkin, orang tuanya tak memahami penggunaan telephon genggam, sehingga dengan mudah dikelabuhi oleh sang anak? Astaghfirullah hal'adziiim ....
Hal yang saya ceritakan di atas, menjadi teguran keras bagi kita. Saat arus kencang teknologi tak diimbangi dengan saringan nan kuat.
Bunda, mari peluk erat buah hati kita! Jangan biarkan dia memiliki keasyikan tanpa ada kita di sampingnya. Perkenalkan dia dengan teknologi, tapi temani dia kala berselancar. Jauhkan dia dari tontonan yang tak pantas untu usianya. Dunia semakin panas, Bunda. Predator maya merajalela mengintai buah hati kita. Semoga Allah selalu melindungi malaikat kecil kita. Aamiin ya Robbal'alamiin ....
Salam Sayang dari Bundanya Abang dan Genduk.