Setelah sambungan telepon itu selesai Lazuardi merasa ia harus bergerak cepat sebelum ia kehilangan semua tenaganya lagi.
Karena kedatangan Lazuardi dimaksudkan sebagai kejutan. Untuk malam ini saja ia akan berada di kamar sempit ini. Kantor tambang memiliki mess yang diperuntukkan menampung tamu-tamu dan di sanalah ia akan pindah nanti.
Lazuardi lalu keluar dari kamar dengan peralatan mandinya. Berharap tidak beremu siapa-siapa ketika ia keluar dari kamar mandi. Namun ternyata tidak. Ia tidak sengaja berpapasan dnegan istri pemilik rumah yang langsung bersemu begitu mereka bertemu pandang.
Lazuardi hanya bersyukur ia memakai pakaian sekarang.
Dan ketika Lazuardi berbalik ia mendapati sang suami/sopir mendapati mereka dengan seringaian di samping meja makan yang sedang ia tata. Langkah kaki terdengar dan wanita itu menunduk dengan sepiring besar nasi goreng. Ia kemudian melanjutkan merapikan meja makan dengan kepala menunduk dalam.
“Jangan salahkan istri saya. Pak Lazuardi memang terlihat seperti keluar dari telenovela.”
Lazuardi tertawa geli. Karena dulu sekali Eris pernah mengatakan hal yang sama. Walau ia tetap saja masih kalah tampan dengan tujuh pemuda Korea yang masih sering Eris teriaki histeris itu.
Jadi Lazuardi masuk kembali ke kamar untuk meletakkan peralatan mandinya. Bergabung dengan pasangan itu dan juga anak laki-laki mereka yang kurus dan sangat tinggi yang Lazuardi baru lihat pertama kali pagi ini di meja makan.
“Ngomong-ngomong, kau belum memberitahuku namamu.” Setelah ia mengucap terimakasih kepada sang anak yang memberinya piring.
“Galuh, Pak. Dan terimakasih karena sudah bisa berbahasa Indonesia dengan baik. Setelah mendapatkan telepon dari sekretaris Bapak semalam, saya khawatir karena Bahasa Inggris aya pas-pasan.”
Lazuardi menyendong nasi goreng dengan santai sambil menjawab, “Tenang saja. Aku sudah tinggal di negara ini selama berbelas-belas tahun.”
Sang sopir – Galuh mengangguk. “Jadi apa rencana Pak Lazuardi hari ini?”
Lazuardi menyuap nasi goreng kampung yang entah kenapa membangkitan kembali selera makannya yang sempat hilang. “Kejutan, kan? Ayo kita beri kejutan kepada para manager di sana. Ayo cepat selesaikan sarapanmu.”
Jadi mareka mereka melanjutkan makan tanpa percakapan lagi. Lazuardi tidk lupa mengucapkan terimakasih kepada istri Galuh atas tumpangan dan sarapannya. Wanita itu masih tidak berani menatapnya tepat di mata itu hanya menggumam sebagai jawaban dan kembali menunduk dalam.
“Dia hanya tidak percaya seseorang dengan jabatan yang sangat tinggi dari perusahaan suaminya berkenan untuk tidur dan makan di rumahnya. Dan seperti yang katakan tadi. Pak Lazuardi terlalu tampan. Bahkan saya sendiri mengakuinya.” Galuh, terkekeh. Setelah mereka sudah berada di dalam mobil.
Kantor utama tambang berjarak sekitar dua kilo dari rumahnya, Galuh memberitahunya. Setelah itu Galuh tiba-tiba mendapatkan telepon ditengah perjalanan oleh seseorang menanyakan di mana keberadaannya. “Tenang saja, Galuh. Selama aku di sini kau yang akan menemaniku.” Lazuardi yang tidak sengaja mencuri dengar akibat suara siapapun yang menelpon Galuh itu cukup keras bahkan tanpa pengeras suara.
“Terimakasih, Sir.”
Setelah itu Lazuardi tidak bisa duduk sambil bersandar lagi. Sekumpulan orang dengan spanduk dan berteriak-teriak sekarang tengah berada di depan kantor utama. Polisi berjaga tepat di depan pagar, membuat tambahan pagar lain karena sepertinya para pendemo berusaha mendesak masuk.
“Sepertinya bukan dari kita saja kejutan hari ini.” Galuh terkekeh, namun suaranya bergetar.
Galuh menyetir sangat pelan, melewati para pendemo yang meneriaki mereka, menampar-nampar setiap jendela mobil. Para polisi maju, agar mereka bisa melewati pagar. Dan menutupnya saat itu juga sebelum para pendemo mendapatkan kesempatan. Suara teriakan di belakang mereka masih terdengar sangat nyaring
Lazuardi bahkan membuka pintu mobil bahkan sebelum mobil bisa berhenti dengan sempurna. Galuh mengejarnya di belakang karena seorang satpam menahan Lazuardi di pintu masuk. Untuk itulah ia membawa kartu pengenalnya Ruiz Tbk. Jakarta dari balik saku celananya dan melambaikannya di depan wajah sang satpam.
“Benar, Lazuardi Moreno. COO Ruiz Tbk. Pernah baca nama beliau, kan?” Galuh dari balik pundak Lazuardi entah kenapa terdengar amat bangga. Lazuardi mungkin akan tertawa jika keadaannya tidak segenting ini.
Sang Satpam menelan ludah kemudian mempersilahkan Lazuardi masuk. Lazuardi dengan sangat tenang, walau kemarahannya sudah diatas ubun-ubun sekarang berdiri di depan meja resepsonis. Gadis muda yang menciut itu mendengar Lazuardi berkata dengan senyum yang tidak sampai ke matanya,
“Bisa tolong kau kabari seluruh manager kalau saya datang? Sekarang?”
Gadis itu nampak menelan ludahnya dengan susah payah sebelum mengambi telepon genggamnya. Melihat tangan gadis itu bergetar ditambah dengan suara pendemo diluar yang entah kenapa semakin besar. Lazuardi akhirnya menghela napas, “Tidak perlu. Akan saya cari sendiri. Galuh, tolong tunjukkan saya jalan ke ruang rapat di sini.”
Galuh memberinya isyarat tangan untuk Lazuardi mengikutinya. Kantor itu sederhana, namun cukup luas. Setiap orang yang melewati mereka memberi Galuh jalan saat itu juga. Dengan jelas menghindar menatap langsung ke wajah Lazuardi. Lazuardi akhirnya tahu kenapa para pegawai di dalam kantor langsung mengenalinya. Ada foto dan nama jajaran petinggi perusahaan lengkap dari CEO hingga para supervisor dan bawahannya di salah satu dinding di dalam kantor.
Galuh melambai santai kepada beberapa orang yang ia kenali ketika mereka berpapasan hingga pri aitu membawanya ke sebuah pintu dan membukanya saat itu juga. Tidak ada siapa-siapa di dalam ruang pengap berbau karpet apek itu. Lazuardi masuk dan tidak berniat duduk. Ia hanya memerhatikan Galuh menghidupkan AC dengan remote.
Tidak berapa lama kemudian Lazuardi mendengar suara langkah berlarian. Tiga pria muncul dengan seragam safari putih mereka muncul di depan pintu. Galuh hanya melirik sekilas ke arah Lazuardi sebelum ia berbalik pergi dan menutup pintu. Membiarkannya bersama ketiga pria yang sekarang menatapnya seakan-akan mereka sedang menatap hantu. Pias dengan bibir terkatup rapat.
“Selamat pagi, Bapa-bapak. Jadi bisakah kalian jelaskan padaku. Apa yang telah kalian lakukan sampai-sampai kita kedatangan banyak tamu di luar?” Lazuardi, sambil menatap wajah mereka bergantian dengan bibir terkatup rapat. Kedua tangannya bertaut di belakang tubuh.
“Selamap pagi, Pak Lazuardi. Kenapa Bapak tidak bilang kalau Bapak mau datang. Kami bisa...”
“Seharusnya seperti itu. Jadi saya bisa tahu apa yang kalian akan lakukan pada para pendemo di luar pagar sana. Oh, ya. Untuk informasi saja. Mereka tidak datang bersama saya.”
Lazuardi memang tidka berusah melucu. Walau kalimatnya terdengar seperti itu. Ia masih menikmati wajah horor dari ketiganya melihanya datang dengan kaos berkerah dan celana jins, yang Lazuardi tahu jika Eris melihatnya memakai itu. Wanita itu akan mengomentarinya sebagai “tragic dad outfit.”
“Well, ini rumah kalian. Jadi kalian tidak ingin mempersilahkan saya duduk?”
***
Berbeda dengan suasana di dalam ruang rapat tadi. Setelah Bahlawan mendapatkan telepon tiba-tiba itu sekarang ia dengan seragam lengkap, rompi anti peluru hitam dengan tulisan “polisi” berwarna kuning, dan helm. Ia berdiri bersama dengan para polisi dari kecamatan sebelah dan beberapa wajah yang sama sekali tidak dikenalnya membuat pagar di depan pintu masuk di kantor utama tambang Ruiz Tbk. Para pendemo itu masih kuat untuk berteriak-teriak. Meneriakkan beberapa janji-janji yang Ruiz Tbk yang belum dipenuhi dan tentang harus beberapa banyak lagi pekerja dan masyarakat yang terluka akibat tambang mereka. Dan kasus paling baru...
Seorang Chief yang ditemukan terluka di tambang dan sampai saat ini belum tidak sadarkan diri.
Bahlawan dengan sikap berdiri istirahat mengamati setiap wajah yang berseberangan dengannya itu dan mengenali sebagian diantara adalah tetangganya sendiri. Beberapa poster yang diangkat. Bertulis “Pembohong” dan “Penipu” dengan cat basah di kertas karton satu meter.
Bahlawan diam-diam menghela napas. Ini tidak akan berjalan cepat dan bersih.
Selama ia berpakaian di rumah siang tadi ibunya memberinya informasi dengan sukarela. ang Chief adalah orang terpandang. Well, seperti itulah kau akan “dipandang” jika punya pendidikan yang cukup tinggi di daerah seperti ini kemudian direkrut oleh Ruiz Tbk. Bahlawan adalah salah satu dari sedikit dari yang tidak berakhir di sana.
“Kita kedatangan tamu lagi,” gumam salah salah seorang partner di sebelah kirinya. Cukup keras sehingga polisi muda yang disebelah kanannya juga berjinjit untuk melihat siapa yang datang.
Kumpulan wartawan mulai berdatangan dengan mobil dinas mereka yang berlogo channel TV ataupun surat kabar baik local maupun nasional. Bahlawan tidak tahan untuk tidak menyeringai. Dan tidak hanya para polisi yang bereaksi dengan kedatangan para wartawan. Para pendemo juga entah kenapa menjadi lebih bersemangat. Teriakan mereka menjadi lebih kencang. Membuat para polisi menjadi lebih siaga…
***