The Shi(t)y Morning

1240 Words
Sedangkan di pulau seberang sana, seorang polisi muda baru saja terbangun dengan mata yang mengerjap-ngerjap di kamarnya yang sekarang terang-benderang dengan sinar matahari. Butuh cukup lama untuk matanya terbuka sempurna dan tubuh yang masih terasa pegal-pegal. Setelah perjalanan panjang di mobil ambulance yang sempit yang dilakukan terburu-buru. Bahlawan diturunkan di polsek dan melapor ke Sang Kapolsek yang entah kenapa terlihat lebih lelah darinya itu. Membuat Bahlawan semakin bertanya-tanya. Kemudian Sang Kapolsek - sama sekali tidak melihat ke arahnya – memberinya izin sehari untuk beristirahat. Sebagai bawahan yang baik Bahlawan tidak mempertanyakan apapun lagi dan memakai satu hari itu untuk tidur dan makan. Dan sekarang ia bangun dalam keadaan perut keroncongan lagi. Bahlawan keluar dari kamarnya dan langsung menuju kamar mandi untuk mencuci muka. Akhirnya ketika ia cukup segar untuk menyadari apa yang sedang terjadi disekitarnya. Bahlawan mendapati sang ayah yang duduk di ruang tamu sambil menonton TV, tapi ia tidak melihat ibunya di manapun. “Kalau kamu cari ibumu di mana. Dia sedang bersama ibu lainnya sedang menghibur istri dari pegawai tambang yang terluka itu.” Ayahnya kemudian mengangkat wajah ke arah Bahlawan. “Bagaimana keadaan pria malang itu sekarang?” Bahlawan menghela napas. “Masih tidak sadarkan diri ketika aku pulang.” Ayahnya mengerutkan dahi. “Separah itu?” Bahlawan hanya mengedikkan dagu. Setelah itu ia kemudian melirik ke arah jam dinding. Ia mendapatkan tugas jaga malam hari ini. Menggantikan seorang senior yang masih dalam masa berbulan madu. Jadi ia ia punya cukup waktu untuk berleha-leha lagi. Dan baru saja ia akan berbalik badan menuju dapur. Ia mendengar suara ibunya yang berseru memanggil namanya. “Sini, sini cerita sama Ibu apa saja yang telah terjadi. Kamu pulang-pulang langsung tidur dan makan seperti zombi!” Ibunya menarik lengannya untuk duduk di meja makan bersamanya. Wajah sang ibu yang menatapnya penuh harap. “Tidak ada yang bisa diceritakan, Bu. Aku hanya diminta menemani seorang pasien ke rumah sakit. Itu saja.” Bahlawan bangkit lagi untuk mengambil piring di lemari. Ekspresi ibunya mengerut. “Sang Chief bisa saja diantar bukan oleh seorang polisi, kau tahu.” Mendengar itu membuat Bahlawan berhenti sejenak dari kegiatannya menutup pintu lemari. Ia teringat dengan Sang Kapolres yang membangunkannya di pagi-pagi buta di rumah sakit. Cepat-cepat ia mengenyahkan memori itu sebelum ibunya bisa membaca dari wajahnya. “Ibu tidak perlu memikirkannya. Itu untuk urusan orang lain.” Bahlawan yang entah kenapa malah seperti sedang meyakinkan dirinya sendiri. “Ibu hanya kasihan dengan Sang Chief itu saja. Terlebih lagi dengan istrinya. Mereka baru saja kehilangan putri mereka satu-satunya karena kanker...” Bahlawan berbalik sangat cepat ke arah ibunya dan saat itu juga menetralkan ekspresinya dan berkata, “Begitu?” “Kau tidak tahu bagaimana histeris istrinya ketika mengetahui apa yang telah terjadi dengan suaminya. Katanya siang ini ia akan diantar ke rumah sakit oleh seseorang dari perusahaan. Itulah makanya kami memutuskan untuk bubar” “Kenapa beliau tidak meminta menyusul sejak semalam?” tanya Bahlawan sekarang tengah membuka tudung saji. Menu sederhana yang menerbitkan air liur terpampang di depan matanya. Ibu Nugraha terkenal sebagai tukang masak paling andal sedesa. “Karena istri Sang Chief histeris! Butuh waktu yang lama kami untuk menenangkannya. Setelah ia tenang, kami bergantian untuk menjaganya.” Setelah itu Ibu Nugraha masih cukup baik hati untuk membiarkan putranya untuk makan dengan tenang. Namun ketika Bahlawan hendak untuk mengambil nasi lagi. Ayah Nugraha muncul dengan ponsel Bahlawan di tangan. “Apa kau tidak dengar? Ini tidak bergenti berbunyi sedari tadi?” Bahlawan mengupcakan terimkasih lalu mengambil ponselnya itu dengan tangan kiri. Melihat nama yang tertera dilayar membuatnya otomatis berdiri dngan sikap siap. Kebiasaan memang sulit dihilangkan. “Siap, Komandan! Ada apa, Komanda?!” “Kamu bisa masuk sekarang?” Bahlawan mengerjap dengan kalimat bernada datar itu. Membuatnya menunduk, memandang tangannya yang masih kotor karena habis makan... *** Lalu hal pertama yang Lazuardi katakan pada dirinya sendiri begitu sampai di kantor utama salah satu tambang batu bara terbesar yang Ruiz Tbk miliki di negara ini adalah: Ia harus ekstra sabar. Walau ia sama sekali tidak ingin melakukannya. Lazuardi ingat jika jalanan yang ia lewati tadi seharusnya sudah di beton dan aspal sejak dua tahun yang lalu, lengkap dengan tiang lampu penerangannya. Sekolah-sekolah yang seharusnya telah diperbaiki bangunannya begitu juga dengan fasilitas umum lainnya... Tidak banyak yang berubah dari yang seharusnya mereka janjikan pada masyarakat setempat beberapa tahun lalu. Walau sangat sulit mengakuinya, Lazuardi juga merasa seharusnya mengecek sendiri sejauh mana perkembangan semua itu. Begitu mendarat di bandara baru yang sangat luas benuansa putih dan abu-abu itu. Sang sekretaris berkata ia akan dijemput oleh seorang sopir kantor yang sudah diinfokan oleh wanita itu untuk tetap merahasiakan kedatangan. Di pintu kedatangan dan dengan mata yang sangat pedas dan berat, Lazuardi mendapati penjemputnya itu sedang mengangkat kertas yang bertuliskan namanya tinggi-tinggi di atas kepalanya. Lazuardi menyadari sikap tubuh pria itu menegang seiring dengan setiap langkah Lazuardi mendekati pria itu “Hello, Mister...” ucapnya terbata. “Tenang. Saya bisa Bahasa Indonesia.” Dan pria malang itu langsung menghembuskan napas lega. “Pak Lazuardi bisa tunggu...” “Tidak. Saya terlalu lelah untuk berdiri menunggu di sini. Saya akan ikut kau ke tempat parkir.” Pria malang itu sekali mengerjap. Sebelum meraih kedua tas Lazuardi, membungkuk sekali, sebelum memimpin jalan menuju parkiran yang ternyata tidak begitu jauh itu. Lazuardi duduk di belakang dan langsung tertidur begitu mereka keluar dari area bandara. Untungnya sang sopir bukan tipe yang banyak bicara hingga mereka sampai di rumah sederhana dengan penerangan seadanya itu. “Ibu Sekretaris menyuruh saya untuk “menyembunyikan” Pak Lazuardi hingga nanti pagi. Jadi Bapak bisa beristirahat di rumah saya dulu. Istri saya sudah menyiapkan kamar.” Lazuardi merasakan dingin yang menusuk menebus jaket tipis yang ia pakai begitu ia turun dari mobil. Sang sopir membisikkan sesuatu pada istrinya yang berada di ambang pintu sebelum mereka dipersilahkan masuk... Dan di sinilah Lazuardi sekarang. Menyeret dirinya bangun dan duduk di atas ranjang single dengan kasur yang sangat keras dan selimut tipis. Lazuardi tidak sempat melihat sekeliling ketika ia pertama kali masuk kamar ini subuh tadi akibat lelahnya dia. Sekarang dengan mata setengah terpejam ia mengedarkan pandangan. Kamar ini dilengkapi dengan lemari kayu dengan cermin dan meja belajar sederhana yang menghadap jendela yang berterali. Ia mencari ponselnya untuk mengecek jam dan merasa lega karena ia tidak setelat yang ia kira. Selain itu ada beberapa pesan di sana. Kebanyakan dari Eris dan juga sang sekretaris. Pesan Eris berisi tentang pertanyaan mengenai kabarnya, begitu juga dengan sang sekretaris. Namun pesan dari wanita kedua berisi jawaban informasi-informasi yang ia minta semalam. Lazuardi mengerang... Tiba-tiba ponselnya berdering. Nama Sang CEO muncul di sana. Sepertinya informasi itu sudah sampai ke pangkat teratas Ruiz Tbk. Lazuardi berdeham-deham sebelum mengangkat telepon itu. “Lazy, hey!” Jika seandainya pria itu tidak tiga tahun lebih tua dan terlebih lagi, atasannya. Lazuardi tidak akan pernah mau dipanggil seperti itu. “Sir?” “Aku tahu kau berada di mana sekarang dan jangan jelaskan apapun. Aku yang menyuruh sekretarismu untuk mengirimmu ke sana. Kita sudah terlalu abai dengan yang seharusnya menjadi kewajiban kita di sana.” Lazuardi memijat pelipisnya sekilas sebelum berkata, “Benar.” “Dan sedikit kejutan tidak akan melukai siapapa-pun.” Lazuardi menghela napas. Karena CEO mereka memang seesentrik itu. “Ayolah, aku tahu kau bisa. Dan aku tidak mengizinkanmu pulang jika di sana belum selesai. Dan aku harap siapapun yang merindukanmu di sini cukup sabar dengan itu.” Dan sambungan telepon yang membuat Lazuardi kehilangan nafsu makan akhirnya berakhir...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD