The Shiny Morning

1602 Words
Disaat yang bersamaan disisi padat penduduk dengan rumah-rumah berdinding saling berimpitan itu duduk sendirian Andaru dengan setengah batang rokok yang menyala. Bertelanjang d**a di lantai teras rumah kontrakannya. Sayup-sayup terdengar suara gitar dan nada sumbang yang dilantunkan oleh para pemuda lorong sebelum mereka dipaksa berhenti oleh ibu-ibu yang lelah. Berteriak memarahi mereka, mengatakan balitanya tidak kunjung tidur akibat ulah mereka. Andaru menyeringai begitu tidak berapa kemudian terdengar suara siraman air dan pekikan kaget tidak dari dari satu mulut saja. Disusul suara langkah kaki dengan sendal jepit berlari di atas aspal. Suara tawa membahana dan seruan kegirangan... Andaru sebenarnya bisa saja keluar dari lingkungan padat dengan jalanan yang hanya bisa dilewati oleh satu motor itu. Tapi ia sudah kerasan di sana. Tinggal di rumah kontrakan yang sama selama bertahun-tahun sejak kepindahannya ke ibukota. Ia bahkan mengenal semua anak dari pemilik kontrakannya. Bahkan yang masih SMA yang sering datang membawakannya makanan itu, yang ibunya berusaha keras untuk tidak terlihat sedang menjodohkan mereka. Entah apa yang ibu pemilik kontrakannya itu lihat darinya. Andaru hanya seorang pekerja lepas yang sekali mendapatkan satu kontrak kerja, akan memberinya uang cukup banyak untuk memberinya kehidupan sampai ia mendapatkan kontrak kerja yang lain. Tapi bukan berarti Andaru bisa terus melakukannya jika suatu hari nanti ia telah bertanggung-jawab pada satu nyawa lagi yang sudah pasti bukan nyawanya sendiri. Ia tahu benar akan hal itu. Andaru masih menikmati masa lajangnya dengan suka-cita. Apalagi ketika ia sedang bekerja di ranah offshore, setiap kali para personel mendarat mereka akan memasuki setiap rumah bordil yang bisa mereka temukan. Dan ketika ia bergantungan di salah satu pencakar langit ibukota. Ada bar-bar di rooftop yang menerimanya dengan tangan terbuka selama ia tidak memakai wearpack dan tampak lusuh. Suara gongongan anjing liar terdengar tiba-tiba. Disusul dengan angin tengah malam berembus. Namun semua itu sama sekali tidak membuat Andaru bergerak selain untuk menyesap rokoknya. Karena ia terbiasa dengan yang lebih parah dengan ini. Ombak besar yang memualkan lengkap dengan angin dan petir yang menyambar. Bahkan pernah sekali ia mendapatkan cuaca yang membuat seluruh isi kapal berterbangan. Ia ingat semua orang di dalam kapal mulai merapalkan doa, ada yang memeluk kitab suci. Berharap kata terakhir yang keluar dari mulut mereka ketika nyawa terenggut oleh air asin yang tidak kenal ampun adalah nama Tuhan atau nama orang terkasih yang menunggu kepulangan dengan pelukan hangat... Tiba-tiba terbayang satu wajah yang sebenarnya sudah sejak lama menarik perhatian Andaru. Seorang wanita yang tinggal di salah satu lantai di gedung apartemen mewah di tengah kota. Senyumnya yang kekanakan, begitu juga dengan sikapnya. Namun hal yang paling mengganggu ndaru adalah teman satu apartemen wanita itu... Karena jelas pria berumur itu bukan ayah wanita itu.... Andaru menekan seluruh spekulasi yang Dane dan partner-nya katakan siang tadi ke bagian belakang otaknya dan berusaha untuk tetap positif. Tapi tunggu dulu, positif dari apa? Walau jika mereka punya hubungan kasual, tetap saja Andaru sama sekali tidak mungkin punya kesempatan mendekatinya. Bukti paling mudahnya adalah betapa berbedanya tempat tinggal mereka.. Pria itu menyeringai dengan pikirannya sendiri. Menyesap kemudian mengepulkan asap rokok tinggi-tinggi. Menyaksikan asap itu dibawa angin malam ketika tiba-tiba ponselnya berbunyi nyaring, menembus kesunyian malam. Cepat-cepat ia mengecilkan suara itu sebelum ia juga disiram air malam-malam seperti ini. Sebuah nama tertera di layar. Seseorang yang sudah berbulan-bulan tidak pernah ia dengar kabarnya. Andaru memandangi layar ponselnya cukup lama sebelum memutuskan untuk mengangkatnya. “Bukannya telepon pada jam seperti ini sedikit tidak sopan?” Andaru sebagai salam dan juga tentu saja sedang bercanda. “Aku tahu. Tapi kami jelas butuh bantuanmu.” Pria muda diseberang sana tidak menanggapi candaannya. Suara terdengar sangat lelah. Andaru menyeringai. “Oh, ya? Bukannya Pak HSE (Health, Safety, Environment) kalian membenciku?” “Memang. Dan butuh waktu lama untuk aku bisa memujuknya untuk memanggilmu.” Andaru mencoba mengingat tanggal sekarang. Pada bulan ketika ombak sedang tidak tinggi seperti inilah banyak proyek yang tengah berlangsung dan sudah pasti para pemain-pemain lama sudah direkrut oleh perusahaan-perusahaan lain pemenang tender pekerjaan gas dan minyak bumi. Diusianya yang menginjak 27 tahun. Andaru sudah menjadi rigger dan scaffolder berpengalaman dengan sertifikat-sertifikat pendukung yang ia sendiri keluarkan biayanya. Andaru senang bergelantungan. Itulah kenapa ia memilih semua pekerjaan itu. “Jadi kapan tepatnya proyek itu berlangsung? Dan di mana?” Pria muda itu terdengar lega sekali. “Lampung. Empat hari lagi. Tapi aku harap kau mau melakukan briefing di main office sehari sebelum berangkat.” Andaru juga merasa lega. Itu berarti ia bisa menyelesaikan pekerjaannya bersama Dane... “Tentu saja. Kau masih punya CV dan semua copy sertifikatku, kan?” “Ada, kecuali jika kau ada ikut proyek setelah kami hari itu.” Andaru mencoba mengingat dan ia memang pernah ikut satu proyek dari perusahaan berbeda setelahnya. “Oke, kalau begitu aku akan kirimkan kau CV baruku.” “Malam ini juga, oke?” Dan sambungan telepon terputus saat itu juga. Andaru sekali lagi menyesap rokoknya dalam-dalam sebelum masuk ke kontrakannya yang hangat. Mengeluarkan laptop dari dalam lemari. Sesuatu yang jarang sekali ia lakukan. Ia mengirimkan CV-nya melalui w******p kepada pria malang yang mungkin masih terjebak di kantornya itu. Andaru melirik ke arah jam dinding dan ia tahu ia harus cukup tidur untuk kembali bergelantungan di gandola untuk tiga hari lagi.. Pada pagi harinya setelah Andaru bangun tidur hal pertama yang ia lihat adalah jejeran pesan pria muda yang menghubunginya semalam itu. Berisi rincian pekerjaan yang akan ia lakukan bersama dua puluh orang lain. Pekerjaan pembangunan scaffolding di sumur minyak milik perusahaan milik negara di laut Sumatra. Rencana kerjanya kurang lebih empat sampai enam pekan. Itupun jika tidak ditambah dengan cuaca buruk. Andaru menyeret dirinya untuk bangun pagi agar ia bisa pergi menemui keluarga pemilik kontrakannya terlebih dahulu sebelum berangkat bekerja. Dan tentu saja kali inipun Andaru disambut dengan kelewat antusias. “Saya akan membayar uang sewa untuk dua bulan ke depan sore ini setelah pulang kerja.” Andaru sengaja berbicara di depan pagar dan bersikap seperti buru-buru. “Tidak masalah. Kau juga bahkan bisa membayar setelah kau pulang dari proyek juga tidak masalah.” Ibu pemilik kontrakan berjinjit-jinjit sambil sesekali melihat ke arah pintu rumahnya. “Lagipula kau adalah penyewa terlama kami.” Andaru tersenyum sekenanya dan ketika ia membuka mulut untuk mengucap pamit. Putri tertua dari ibu pemilik kontrakan muncul dengan seragam putih abu-abunya sambil menenteng sepatu sekolahnya. “Kalau begitu...” “Mas Andaru, maaf sekali. Bisakah Mas Andaru mengantar anak saya sekolah? Ayahnya sedang tidak enak badan sejak semalam...” Klasik. Belum lagi ditambah anak gadis itu mendongak untuk melemparkan pelototan kepada ibunya, namun tidak diindahkan. Sekarang tengah menunduk diam dalam sambil memakai kaos kaki di lantai teras. “Tentu saja. Jika Ibu tidak keberatan. Tapi saya tidak punya helm cadangan” SI Ibu tanpa ragu mengangguk. Menarik anak gadisnya itu berdiri dengan paksa. “Dia punya helm sendiri.” Andaru menatap mereka bergantian, tersenyum sopan. Menunggu anak gadis itu selesai dengan entah apa yang diucapkan oleh ibunya sebelum memakai helm dan menghampirinya. Mereka sempat saling pandang sebelum gadis itu memanjat bagian belakang motornya. Duduk sejauh mungkin dari Andaru yang tengah mengangguk sekali ke arah ibu kontrakannya yang terlihat sedang susah payah menahan senyum dan melambai antusias mereka. Tidak ada percakapan sepanjang perjalanan yang singkat itu. Kecuali ketika Andaru berhenti mendadak ketika seorang wanita menyeberang tiba-tiba dan gadis itu berseru nyaring dengan bahasa gaul dari “anjing”. Andaru tertawa lepas. Jelas gadis itu pasti tidak akan berani berkata seperti itu di depan ibunya. Ketika mereka sampai ditujuan gadis itu. Andaru memberhentikan motornya tepat di depan gerbang dan sudah pasti menarik perhatian sebagain besar orang yang berada di sana. Termasuk dua guru yang tengah berjaga di sana. “Walau mungkin Mas Andaru sudah tahu, tapi tolong maafkan ibuku.” Gadis itu berkata setelah mengedarkan pandangan. “Well, mengantarmu sekolah sama sekali tidak ada ruginya.” Gadis itu memutar bola matanya terang-terangan. “Mas Andarau tahu apa yang saya maksud.” Andaru menyeringai. “Toh, Mas Andaru bukan tipeku,” katanya sambil menujukkan gambar di layar ponselnya. Andaru merasa pernah melihat siapa pria muda di layar itu entah di mana. Tapi tidak sempat mengingat siapa karena gadis itu sudah menarik ponselnya dari depan wajah Andaru. “Seokjin adalah tipeku. Jadi jangan takut.” Kemudian gadis itu melambai riang ke arahnya dan berbalik pergi. “Senang mengetahuinya.” Andaru berteriak ke arah gadis itu, namun cepat-cepat ia menuutp matanya karena kedua guru di depan gerbang itu sekarang memelototinya. Andaru merasa apapun yang terjadi padanya hari ini tidak akan lebih aneh dari ini. Atau mudah-mudahan seperti itu. Karena ia datang cukup pagi dan sampai setengah jam lebih cepat dari jadwal. Andaru membeli beberapa botol kopi kemasan dan juga beberapa roti selai di mini market yang berada di basement apartemen itu. Tapi ternyata tidak. Ia datang lebih dulu dari partner-nya. Hanya mendapati Dane sedang memeriksa tali-tali gandola seorang diri bersama dengan alat-alatnya yang berserakan. Mereka tidak pernah bisa membersihkan gedung yang sama dalam sehari. Jadi mereka meminta izin untuk menyimpan perkakas mereka tetap berada di rooftop. Dane berhenti dari apapun yang tengah ia kerjakan sekarang dan memandang Andaru mendekatinya dengan sebotol kopi kemasan dan senyum mengembang. “Hilangkan seringai di wajahmu. Kau membuatku ngeri.” Dane lalu mengucapkan terimakasih dengan kopinya dan menegaknya saat itu juga. “Hari ini cerah sekali, ya?” Andaru kemudian mengambil bagiannya sendiri. “Berhenti. Sebelum kau membuatku mual.” Dane meletakkan botol kopinya di dekat kakinya. Meraih harness yang teronggok di lantai dan melemparkannya ke dalam pelukan Andaru. Pria itu meringis begitu besi-besi keras itu mengenai kulitnya. “Jangan bilang itu karena kau mendapatkan pekerjaan baru setelah ini?” Dane menuding. Andaru hanya menyeringai. Menghabiskan isi botolnya sambil berbalik badan...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD