How They Apart (Not Really)

1807 Words
Entah Eris tahu apa tidak, tapi banyak sekali bawahannya di hotel tempatnya bekerja itu sering membicarakannya di balik punggungnya. Karena sikap tegas, perfeksionis, tanpa tedeng aling-aling yang sering ia tunjukkan selama bekerja. Belum lagi menjabat sebagai supervisor ia menjadi salah satu dari sedikit pegawai yang sangat dipercaya oleh general manager. Eris tidak pernah menghabiskan waktu istirahatnya bersama dengan para pegawai lain karena ia tidak pernah tahan dengan percakapan ringan. Dan sekarang setelah ia menyelesaikan semua pekerjaannya dan tinggal menunggu waktu untuk pulang. Ia menuju laundry room untuk mengambil pesanannya pada petugas binatu berpakaian serba putih lengkap dengan bandana berwarna senada. Wanita berumur, satu-satunya yang tahu bagaimana wajah Eris ketika wanita itu tersenyum di tempat kerja. Eris mengulum senyum ketika pandangan mata mereka bertemu. Wanita itu menyeringai sebelum menyelip masuk ke jajaran pakaian yang dibungkus plastik itu untuk membawa dua pasang setelan jas dan menaruhnya di atas konter. Sedangkan Eris mengeluarkan kantung pakaian kotornya yang lain di dekat pakaian itu. “Mereka masih sering bertanya, Eris. Siapa pemilik setelan-setelan jas ini?” Eris mengalihkan pandangan sambil mengeluarkan bukti bayarnya pada wanita itu dengan bibirnya yang sekarang terkatup rapat. Wanita berumur itu hanya menghela napas panjang sambil menerima secarik kerasnya itu. “Kau butuh bergaul.” Wanita pada akhirnya ketika Eris menyampirkan kedua setelan jas berplastik itu di lengannya. “Mereka tetap akan menghakimi bahkan tanpa aku menjelaskan apapun. Jadi tidak ada gunanya.” Mata Eris mengikuti kantung pakaian kotornya yang tengah ditimbang. “Ingatlah kalau kau tidak bisa mengubur jasamu sendiri kelak.” Wanita itu menulis sesuatu pada nota dan menyerahkannya pada Eris. Eris hanya memberi senyum tipis sebelum berbalik badan. Ia membalas salam para pegawai yang berjalan melewatinya dengan anggukan. Eris berbelok ke loker dan menghentikan langkah ketika ia mendengar dua orang berseragam laundry sedang mengobrol seru dengan namanya yang disebut-sebut di sana. “Semua orang tahu kalau Ibu Eris belum menikah!” Salah satunya sambil memperbaiki rambutnya terselip dalam kaos. “Kalau begitu dari mana asal setelan jas yang selalu beliau bawa ke laundry di sini?” “Dia jadi simpanan pengusaha, kali?” Eris mendengus akibat kalimat terakhir itu. Tapi terlalu keras sehingga membuat kedua pegawai wanita berjengit dan berbalik badan mencari asal suara. Eris tetap tenang bahkan ketika warna di wajah keduanya menghilang saat tahu ialah yang berdiri di sana. Setelah keduanya membungkuk memberi salam dengan anggukan cepat. Cepat-cepat mereka menyelesaikan keperluan mereka dan meninggalkan Eris yang sekarang tengah membuka pintu lokernya untuk menggantung setelan jasnya selama ia berganti pakaian. Ketika ia selesai memakai jaketnya ponselnya mendadak berbunyi. Nama Lazuardi berkedip-kedip di layar. Membuat Eris tersenyum lebar. “Hanya memastikan.” Suara Lazuardi diujung sana. “Karena aku sudah lapar sekali.” “Tentu saja. Beri aku lima belas menit.” Eris memeriksa pantulannya sekali lagi di cermin. Memastikan penampilannya sekali lagi sebelum mengambil dua setelan jas itu alu membanting pintu lokernya. Sepanjang perjalanan Eris menuju basement hotel ia sama sekali tidak berusaha untuk menyembunyikan dua setelan jas tersampir di lengannya ketika semua mata sepertinya menuju ke arah apa yang ia pegang itu alih-alih wajahnya. Lazuardi ternyata mendapatkan parkir di area VIP. Membuat Eris menyeringai. Itu biasanya terjadi tergantung dengan merk mobil yang dipakai pengunjung hotel. Eris berdiri di pintu penumpang di samping kursi pengemudi dan mengetuk kaca. Lazuardi membuka kunci pintu saat itu juga. Eris sedapat mungkin menaruh dua setelan jas itu baik-baik di kursi belakang sebelum melemparkan diri duduk di sebelah Lazuardi. Eris mencondongkan diri, mengecup pipi pria itu yang sekarang bersih tanpa jambang sebelum memakai sabuk pengamannya. “Jadi di mana kita akan makan malam?” tanya Lazuardi sambil memutar roda kemudi meninggalkan parkiran basement. Eris menyebutkan nama restoran seafood dan lokasinya dengan sangat bersemangat. Setelah ia selesai, Lazuardi menoleh ke arahnya dengan dahi mengerut. “Seingatku kita tidak pernah makan di sana.” Eris menganggu-angguk. “Karena memang belum pernah. Restoran itu masuk liputan TV beberapa hari lalu dan menu-menunya terlihat menggiurkan. Aku ingin mencobanya.” Lazuardi mengulum senyum. “Terserah padamu, cariño.” Senyum Eris perlahan menghilang. Ia mendapati Lazuardi melirik arlojinya lebih sering dari seharusnya dan ia memutuskan untuk menunggu pria itu menjelaskan sendiri. Lima tahun ada waktu yang cukup untuk Eris tahu batasan-batasan yang tidak boleh ia langkahi dalam kehidupan Lazuardi. Eris menghabiskan perjalanan mereka menuju restoran yang dimaksud dengan membaca Google Maps. Karena mereka sampai di sana cukup malam, Lazuardi bisa memarkirkan mobil mahalnya cukup mudah. Dari balik tirai restoran itu tampak hanya melayani beberapa pengunjung. “Carilah meja lebih dulu. Aku ingin menelpon seseorang sebentar.” Eris mengerutkan dahi, namun tidak membantah. Eris langsung menggigil ketika ia turun dari mobil. Setengah beralri memasuki restoran seafood yang hangat dan terang-benderang. Mereka memakai sistem menulis sendiri pesanan dan Eris mengambil kertas menu dan pulpen dari meja kasir. Duduk di meja terdepan. Meja bertaplak terpal tebal berwarna merah yang terlihat bercak bekas lap basah dengan sekotak tisu, botol kecap yang lengket, dan kotak tusuk gigi. Cepat-cepat Eris mengambil beberapa lembar tisu dan mengelap mejanya sendiri. Setengah, karena kebiasaan. Setengah yang lain, karena Lazuardi pasti akan mengomentarinya... Eris mengulum senyum akibat ekspresi Lazuardi yang mengerut dengan mata menyipit ketika memasuki restoran. “Ey Dios, restoran ini terang sekali,” komentar pria itu sambil menarik kursi di depan Eris. “Tentu saja. Untuk menghindari tulang ikan yang lupa dibuang.” Eris mencoba melucu dan berhasil. Ia membuat pria itu mendengus keras dengan mulut terkatup rapat. Sekarang Eris menaruh kertas menu di depan Lazuardi dan mulai menjelaskan. Lazuardi penyuka seafood, makanya Eris berani membawa pria itu ke sini. Hanya saja tidak boleh terlalu sering. Lazuardi sangat ketat dengan menunya dan itu bukan hanya karena usianya yang sudah menginjak lima puluhan. Setelah Eris mengembalikan kertas itu ke meja kasir. Sekali lagi ia mendapati Lazuardi kembali mengecek arlojinya. Sikap tubuhnya tegang dengan dagu yang ditopang dengan satu tangan. “Bolehkah aku tahu apa yang sebenarnya ada di dalam kepalamu sekarang?” Eris setelah ia duduk kembali ke kursinya. Mencondongkan diri ke arah pria itu dengan kepala sedikit dimiringkan. Sudut bibir Lazuardi terangkat. Tangannya yang besar dan hangat menangkup wajah Eris. Ibu jarinya mengelus tulang pipi wanita itu sebelum berkata, “Nanti, cariño. Setelah kita makan.” Dan Eris memutuskan untuk menunggu. Karena Lazuardi memang seperti itu. Jadi mereka hanya saling pandang sampai akhirnya pesanan tiba. Udang gala goreng, sepiring kerang rebus, dan kepiting saus asam manis. Tanpa nasi, tentu saja. (Eris tahu kalau ia memesan nasi juga, Lazuardi akan memelototinya.) Pria itu langsung menampar lembut tangannya yang mencoba meraih ke piring kepiting jumbo itu. “Kalau ini biar aku saja.” Bibir Eris mencebik. Jadi ia menarik piring udang ke arahnya. Dan begitu ia mencoba mematah kepala udang, tangannya selip, dan air dan minyak dari dalam udang terpercik keluar. Lazuardi mengelak di saat-saat terakhir, dan bukan berarti Eris bisa seperti itu juga. “Dios, Eris. Apa yang bisa kau lakukan tanpaku?” Lazuardi terdengar geli sambil mengelap wajah Eris yang basah dan amis itu dengan tisu. Eris menutup mata selama pria itu mengelap wajahnya. Dan ketika ia membukanya ia menyadari sebagian pengunjung tengah mengawasi mereka dan langsung berbalik badan begitu menyadari Eris mengetahui apa yang mereka lakukan. Ia tidak lagi merasa risih setiap kali itu terjadi. Lazuardi tampak benar-benar cemerlang di bawah sorot lampu terang restoran seafood ini. Memakai kemeja yang digulung hingga siku. Tubuh tinggi di atas rata-rata dan jelas bukan berasal dari negara ini. Lazuardi menaruh tisu tersebut sebelum menyuap Eris dengan daging kaki kepiting. Eris mengunyah dan menyukai sensasi manis dari daging kepiting itu di lidahnya. Lazuardi tertawa, menjilat sisa saus di jemarinya. Eris yang akhirnya berhasil mengupas kulit udang juga menyuap Lazuardi. Reaksi Lazuardi tidak secepat reaksinya, namun pria dengan selera tinggi itu tidak mengatakan apapun. Berarti kepiting itu lolos seleksi. Diam-diam Eris menghela napas lega. Eris makan dengan lahap. Hanya sekali Eris mendapatkan pandangan tidak setuju dari Lazuardi, ketika ia meminta tambahan sambal untuk kerangnya. “Ini terlalu malam untuk makan pedas terlalu banyak.” Lazuardi ketika Eris menyendok sambal banyak-banyak menggunakan daging kerang dan menyuapnya ke mulut. Eris bahkan belum selesai makan ketika sopir Lazuardi tiba-tiba muncul dengan wajah penuh tanya. Wanita itu tersedak dan memandang Lazuardi dengan pandangan menuduh disela-sela ia menyesap air dari botol kemasan. Matanya berair dan tenggorokannya terasa panas ketika ia berusaha untuk memelankan batuknya. “Sebaiknya saya tunggu di luar.” Sang sopir terdengar bersalah dengan jempol menunjuk ke arah belakang tubuhnya. Lazuardi menarik satu tisu lagi ke arah Eris agar wanita itu bisa mengelap air mata yang mengalir ke pipinya. “Tidak perlu begitu. Apa kau sudah makan?” “Sudah, Pak,” jawab pria itu saat itu juga. “Lebih baik saya tunggu di mobil saja.” Dengan punggung membungkuk ia menadahkan tangan untuk meminta remote kunci dari Lazuardi. Lalu berbalik pergi saat itu juga. “Apa yang beliau lakukan di sini?” Eris dengan suara serak dan mata merah. “Karena aku memanggilnya. Aku perlu dia untuk membawa pulang mobil setelah mengantarku ke bandara.” Eris mengerutkan dahi. “Aku harus ke Kalimantan untuk urusan pekerjaan. Malam ini juga.” Lazuardi menunduk, membersihkan kulit-kulit seafood yang berserakan ke atas piring kosong. Eris butuh waktu untuk mencerna semua informasi itu sebelum akhirnya ia menyadari sesuatu, “Itukah alasan kenapa sedari tadi kau terus memeriksa arlojimu?” Lazuardi menyeringai. “Tidak ada yang lepas dari pengamatanmu, ya?” Eris memutar bola matanya. “Jadi pukul berapa penerbanganmu?” Lazuardi menyebutkan jadwalnya membuat Eris berdiri saat itu juga. “Astaga, kalau begitu kita harus cepat.” Dan ia nyaris terselip dengan kakinya sendiri ketika mencoba melangkah keluar dari meja mereka. Lazuardi menangkap lengan Eris dengan cepat sebelum wanita itu mempermalukan dirinya sendiri. Mesin mobil langsung menyala begitu keduanya selesai. Kedua setelan jas Lazuardi juga sudah tidak terlihat di kursi penumpang di belakang sopir. Lazuardi menutup pintu mobil untuk Eris sebelum ia sendiri duduk di sebelah wanita itu. Sudah menjadi kebiasaan Lazuardi untuk mengurus Eris sendiri bahkan ketika sang sopir berada di sana. “Kita antar Eris pulang dulu sebelum kita ke bandara,” Lazuardi menjelaskan dan sang sopir menggumam mengiyakan. Eris menoleh ke arah jendela dengan bertopang dagu. Mereka sudah beberapa hari tidak bertemu dan sekarang pria itu harus pergi lagi. Tanpa sadar menghela napas beberapa kali selama perjalanan mereka membawa pulang Eris. Mobil berhenti di depan lobby apartemen yang sangat sepi sekarang. “Kau bisa membiarkan setelan itu di sana,” Lazuardi berkata untuk menghentikan Eris mengambilnya. Wanita itu mendapati dua tas Lazuardi di bagasi belakang bersama setelan-setelan sebelum kembali duduk baik di sebelah Lazuardi. “Aku tahu kau kecewa,” Lazuardi melanjutkan dengan Bahasa Inggris. Dalam temaram mobil Lazuardi menyelipkan sesuatu di sana. “Tapi aku akan kembali secepat yang aku bisa, oke?” Lazuardi mengecup pelipisnya lama sebelum ia turun dari mobil. Mengawasi kepergian Lazuardi dengan pikiran yang campur-aduk lengkap dengan kartu hitam dengan berlogo bank asing yang ada dalam genggamannya itu...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD