Hal pertama yang disadari oleh Eris untuk siang hari ini adalah:
Ia belum mendengar kabar apapun dari Lazuardi sejak keberangkatannya semalam.
Eris ingat ia telah mengirim pesan menanyai kabar pria itu dan sampai sekarang ia belum mendapatkan jawaban. Ia memandangi pesannya yang telah terbaca lengkap degan centang biru tanpa jawaban itu sambil menghela napas...
Eris membawa dirinya kembali ke warung mie ayam favoritnya sejak pindah ke apartemen yang dibelikan Lazuardi untuknya itu dan mendapati para pengunjung warung mie ayam masih menunggunya di sana. Dengan wajah khawatir yang tulus mereka mendekati Eris dan berkata,
“Tidak pantas rasanya kami kabur begitu saja.” Salah satu pengunjung. Lalu ia mengulurkan tangan. “Ini uang makan kami. Memang sengaja dilebihkan. Untuk ibunya. Sampaikan salam kami pada beliau, ya Mbak.”
Eris menerima isi dari uluran tangan itu dan mendapati beberapa lembar pecahan lima puluh di sana. Ia mengucap terimakasih dengan lirih. Mengawasi kepergian sisa pengunjung sebelum ia sendiri duduk di salah satu kursi dengan membungkuk sambil memegang lutut.
Setiap dua kali setahun sekali pihak hotel tempatnya bekerja memberi para karyawannya pelatihan first aid dan setiap dua bulan sekali akan ada simulasi pemadaman kebakaran. Kejadian ia harus memberi seseorang CPR hari ini adalah kejadian kedua untuknya. Pertama, ketika seorang pejabat negara yang tiba-tiba tumbang setelah semalaman bersama simpanannya mengalami serangan jantung dan sang simpanan berlarian mencari bantuan keluar kamarnya dengan panik dan Eris berada di waktu yang salah. Setelah lebih dari tiga menit melakukan CPR bergantian dengan salah satu staf lainnya. Pria itu tidak tertolong. Dan untuk menyelamatkan muka pria itu, pihak hotel membawa mayatnya dengan kereta dorong laundry ke pintu belakang hotel...
Itu adalah satu dari sedikit cerita yang terjadi di hotel yang tidak akan pernah ia bagi dengan Lazuardi. Padahal Eris selalu memberitahu pria itu segalanya yang terjadi pada pekerjaannya...
Seseorang berdeham di dekatnya. Membuat Eris mendongak. Ia mendapati pria yang tadi membantunya melakukan CPR itu berdiri di sebelahnya dengan sikap tidak yakin. “Maaf, tapi apa Mbak bisa menyelesaikan pesanan saya? Saya lapar sekali.”
Dahi Eris mengerut dalam. Butuh waktu lama ia menyadari apa yang dimaksud oleh pria itu. Pesanan pria itu memang sudah setengah jadi dengan mie dan sawi hijau yang sudah diseduh dan tinggal diberi topping ayam kecap dan kuah saja.
“Yah, benar. Maaf.” Eris menggeleng-geleng sejenak sebelum bangkit berdiri.
Jadi Eris menyelesaikan pesanan itu dengan berusaha keras untuk tetap fokus. Tangannya sempat terkena sedikit percikap air panas, namun selebihnya ia baik-baik saja hingga menaruh mangkuk mie ayam itu di depan sang pria yang sekarang duduk di seberangnya dengan segelas jus jeruk yang esnya sudah meleleh.
Karena tinggal mereka saja di dalam warung itu, membuat Eris merasa canggung. Jadi ia menyibukkan diri dengan mengumpulkan piring-piring kotor yang ditinggalkan (ridak lupa dengan mie ayamnya yang tinggal setengah) di setiap meja dan tidak lupa mengelapnya. Warung itu hanya terdiri dari ruang cuci dan kamar mandi seadanya. Dan ketika Eris baru akan menggulung lengan jaket hoodie-nya, tiba-tiba a mendengar suara pria berseru.:
“Tinggalkan saja. Nanti saya akan selesaikan.”
Melalui balik tirai, Eris berkata dengan nada tidak yakin setelah menyadari pria itu pasti harus segera kembali bekerja dengan lengan wearpack yang terikat di pinggangnya. “Saya bisa sendiri terimakasih.”
“Setelah apa yang terjadi tadi. Saya tidak yakin Mbak bisa menyelesaikan pekerjaan itu sendiri.”
Pria itu menjawabnya tanpa berbalik badan dan diikuti oleh suara seruput mie yang sangat keras.
Eris menatap tumpukan piring kecil dan mangkuk itu sejenak sebelum kembali ke depan. Ia baru saja akan mendebat pria itu lagi ketika disaat yang bersamaan seorang gadis muda dengan seragam SMA datang dengan raut kebingungan.
“Mbak Eris? Bapak dan Ibu mana?”
Eris melirik ke arah pria yang masih menunduk dan mengunyah itu sebelum menarik gadis itu di meja yang lain dan mulai menjelaskan. Setelah ia selesai sang gadis muda malah menangis histeris. Eris membawa gadis itu ke pelukannya, mengusap-usap punggung sang gadis dengan lembut berusaha menenangkannya. Eris menyadari sang pria masih makan dengan lahap di sana, seakan-akan tidak menyadari apa yang tengah berlangsung.
“Bapak dan Ibu baru saja membayar biaya aku untuk study tour... Dari tabungan mereka...”
Eris melonggarkan pelukan gadis iu dengan lembut dari tubuhnya agar ia bisa melihat wajahnya dengan jelas. Sambil mengelap air mata itu dengan tangannya sendiri, ia berkata, “Mbak akan bantu. Jadi kamu di sini sekarang. Biar Mbak yang menyusul orangtuamu ke rumah sakit, oke?”
Eris menunggu hingga sang gadis mengangguk setuju sebelum melepaskan pelukannya. Pada saat bersamaan sang pria telah menyelesaikan makanannya dan sedang menegak minumannya langsung. Eris menunggu hingga si pria selesai mengelap mulutnya dengan tisu, “Kau tidak perlu melanjutkan jualan...”
Dan tanpa kata si pria langsung membawa mangkuknya sendiri ke belakang. Membuat sang gadis kebingungan. Membuat Eris menarik gadis itu mendekat, agar ia menjelaskan siapa pria itu tanpa harus dicuri dengar dan merasakan si gadis muda perlahan merileks.
Eris membantu sang gadis muda membenahi warung selama si pria mencuci piring di belakang. Selama itu juga ia mendengar suara ponsel yang terus berbunyi dan bukan berasal dari ponselnya. Tidak berapa kemudian sang pria muncul dengan sikap tubuh yang sangat santai. “Saya sudah menyelesaikan bagianku.” Ia kemudian mengambil sesuatu dalam saku celananya dan menyelipkan ke dalam tangan sang gadis muda. “Saya harap Bapak-mu bisa cepat sembuh.” Lalu kemudian berlalu begitu saja diikuti oleh suara ponsel yang terus berbunyi...
Eris merasa ia pernah melihat pria itu, tapi lupa entah di mana. Tapi sekarang ia tidak punya waktu untuk berleha-leha. Setelah warung sudah tutup sepenuhnya keduanya menyusul ke rumah sakit dengan taxi online. Eris bisa melihat dengan jelas betapa khawatirnya anak perempuan itu bahkan ketika mereka sampai di UGD. Si gadis muda langsung menubruk ibunya dan memeluknya erat.
Tanpa kata Eris malah berbalik menuju meja administrasi. Meminta sang suster di meja itu untuk mengurus secepatnya rincian biaya yang telah keluar. Dengan cepat ia mengeluarkan kartu hitam yang ia dapatkan semalam dengan suara yang berbisik-bisik kepada sang suster. Padahal sebenarnya ia tidak perlu bersikap seperti itu karena ibu dan anak itu sedang berbincang...
“Kalau ada apa-apa. Tolong semua biayanya masukkan ke dalam tagihan kartu itu, bisa?”
Dan tidak butuh waktu yang lama untuk Eris sendiri mendapatkan telepon dengan suara menggelegar diujung sana,
“Apa itu tadi tagihan rumah sakit? Eris! Apa yang terjadi denganmu?!”
***