Ketika ketiga manajer yang dipanggil Lazuardi itu sedang bersusah payah menjelaskan penyebab tersendatnya pengerjaan pembangunan daerah yang seharusnya mereka sudah kerjakan bertahun-tahun yang lalu itu bersama dengan beberapa chief, ia malah mendapatkan email notifikasi mengejutkan dari ponselnya.
Lazuardi langsung berdiri. Melewati begitu saja salah seorang manager yang sedang menjelaskan untuk menelpon si penyebab email notifikasi itu...
Hanya ada tiga kartu kredit lain yang menyambung dengan rekening miliknya. Dan satu-satunya yang bisa memberinya kejutan tidak terduga hanyalah seorang wanita yang berjarak hanya satu lautan dengannya...
“Apa itu tadi tagihan rumah sakit? Eris! Apa yang terjadi denganmu?!” Lauzardi berteriak tanpa ia bisa tahan. Suara membuat banyak orang terkesiap karenanya. Membuatnya menghela napas kasar, menghadap ke dinding kaca yang menghadap ke sebuah danau yang berada tepat di sebelah kantor itu.
“Kumohon, jangan panik. Itu bukan aku.”
Lazuardi kemudian mendengar penjelasan Eris yang buru-buru dan terbata itu sambal bernapas lega. Karena jelas di dalam email notifikasi yang dibacanya sekilas itu menunjukkan “penanganan pasca cardiact arrest.” Walau Eris memang banyak jajan. Lazuardi yakin gadis itu masih cukup muda untuk tidak terserang henti jantung.
“Begitu? Mudah-mudahan aku tidak terdengar seperti seorang yag b******k, tapi aku senang bukan kau yang terbaring di UGD sana.” Lazuardi sambil mengacak-acak rambutnya.
“Tentu saja. Lagipula mungkin hanya dengan itu aku bisa menarik perhatianmu untuk memberi kabar.”
Lazuardi yang merasakan debaran jantungnya mulai mereda itu akhirnya berkata dengan lembut. Bersamaan dengan Galuh yang berlari dengan ekspresi mengerut ke arahnya, “Aku senang kau baik-baik saja. Tapi maafkan aku, carino. Keadaan disini masih cukup hectic. Aku berjanji akan menelponmu sesegera mungkin, oke?”
Terdengar suara menghela napas panjang di seberang sana. “Selama aku tidak mendengarnya lebih dulu dari TV…”
Lazuardi bisa membayangkan bibir Eris yang mencebik di seberang sana. “Tidak, carino. Akan aku pastikan aku menelponmu lebih dulu.”
Dan sambungan telepon-pun diputus. Lazuardi tidak sempat untuk bertanya apa yang terjadi arena pria muda itu sudah berkata, “Wartawan sudah di sini.”
Mendadak Lazuardi tertawa. Cukup keras sambil menutup mulutnya dengan punggung tangan.
“Pak Lazuardi baik-baik saja?” Galuh entah kenapa benar-benar terdengar khawatir.
“Si, saya baik-baik saja.” Lazuardi kemudian menoleh ke balik bahunya. “Kalau begitu mari kita kabari orang-orang yang tadi berusaha memberiku alasan kenapa mereka tidak melakukan pekerjaan mereka.”
Lazuardi masuk Kembali ke ruang rapat dengan para manajer yang sedang sibuk dengan ponsel mereka. Ketiganya langsung berdiri begitu Lazuardi berdiri di depan meja dan sambil menatap mereka bergantian, ia berkata,
“Daripada kalian susah-susah menjelaskan padaku. Lebih baik kalian menjelaskan langsung di depan sana. Kepada orang-orang yang kalian tahan haknya.”
Mereka saling pandang dan aneh rasanya karena mereka jelas tahu ada pendemo di luar sana.
“Ada wartawan di luar sana. Jaga-jaga kalau ternyata ada warga lain yang tidak ikut mendemo hari ini.”
Ketiga manajer itu langsung berlari keluar. Tentu saja mereka lebih takut dengan wartawan daripada para pendemo itu.
“Lebih baik kalian rangkum apa yang ingin kalian katakan pada mereka lebih dulu. Daripada keluar terburu-buru tanpa tahu apa yang kalian hadapi.”
Karena ketiganya tidak kunjung mengatakan sesuatu, begitu juga dengan para tamu rapat itu. Lazuardi terang-terangan memutar bola matanya. “Pertama yang kalian bisa lakukan adalah bagaimana sang Chief bisa sampai kecelakaan.”
Mereka juga saling pandang.
“Ey, Dios mio!” hardik Lazuardi, sekarang benar-benar frustrasi. “Kalian tidak punya imajinasi sama sekali, ya?”
“Para wartawan. Para wartawan itu bisa saja ditunggangi...”
“Walaupun memang benar demikian. Kalian tidak bisa langsung menuduh mereka seperti itu. Itu sama saja menyiram minyak ke api. Walau bagaimanapun untuk saat ini kalian harus meminta maaf. Karena jelas dari segi manapun kalian memang melakukan banyak kesalahan. Dan jangan bilang kalian tidak tahu bagaimana keadaan sang Chief itu sekarang?”
“Tidak! Kami tahu.” seru salah manajer yang tadi baru saja mengatakan kalau para wartawan di sana datang karena suruhan seseorang.
Setelah itu tanpa kata Lazuardi kemudian memberi isyarat tangan, mempersilahkan....
***
Teriakan itu membuat Bahlawan lebih siaga. Bahkan ia merasakan para polisi yang lain memegang tongkat baton mereka lebih erat di depan tubuh. Kehadiran para wartawan dengan kamera mereka membuat para pendemo entah kenapa menjadi lebih semangat..
Dan terjadilah. Seseorang mulai mendorong dari belakang para pendemo. Menekan Bahlawan dan rekannya ke belakang dengan punggung mereka menyentuh pagar yang tinggi. Sebagai polisi, mereka tidak boleh menyerang para pendemo lebih dulu. Jadi mereka hanya dalam posisi siaga, menjadi pagar badan dari para pendemo yang semakin mendorong….
Hingga ia mendengar suara pengeras suara yang dihidupkan. Membuat semua orang dalam gerombolan tidak beraturan itu membeku sejenak sebelum sama-sama mencari asal suara. Banyak dari para polisi yang tertarik untuk melihat apa yang sedang terjadi. Namun Bahlwan hanya menoleh dari atas bahunya.
Tiga manajer utama itu berdiri di sana. Bahlawan ingat wajah mereka padahal hanya beberapa kali kesempatan ketiganya muncul di saat yang bersamaan. Biasanya yang menyangkut dengan peresmian sesuatu ataupun acara yang diselenggarakan oleh pemerintah di daerah mereka.
Mereka bertiga berdiri bersama. Dengan seseorang yang memegang pengeras suara di tangan satu dan ponsel di tangan yang lain. Wajahnya mengerut tegang, begitu juga dengan kedua manajer di setiap sisinya.
Bahlawan mendengar seorang di sebelahnya memberinya desis penuh peringatan. Menyuruhnya untuk kembali menghadap ke depan dan saat itu juga ia lakukan. Namun entah kenapa ia malah tertarik dengan sesuatu yang sedang para wanita bisikkan dengan para mereka. Bisik-bisik dengan senyum merekah dan telunjuk yang menuding di atas bahu Bahlawan. .
Jadi sekali lagi Bahlawan kembali menoleh ke belakang. Mencaritahu siapa yang tengah para wanita itu ceritakan. Seseorang di sana – jelas bukan ketiga manajer yang tengah menjelaskan dengan nada sangat membosankan itu - namun kepada pria yang bridi cukup jauh. Jelas berasal dari luar negeri. Bahkan dari jarak sejauh ini Bahlawan mengetahuinya. Tinggi, besar, dengan jambang yang membuatnya seperti keluar dari telenovela.
Bahkan para wanita itu mulai mengikik. Membuat salah satu dari polisi muda di dekat Bahlawan itu mengerang pelan.
Para wartawan juga sepertinya lebih memusatkan perhatian kepada pria asing itu daripada penjelasan para manajer. Walau begitu mereka masih berbaik hati memberi beberapa pertanyaan soal janji-janji lain yang tidak pernah terealisasikan itu. Pengeras suara kemudian berpindah tangan. Sekali lagi mereka mendengar sebuah janji baru yang direspon dengan sangat dingin...
Bahlawan menyadari jika seandainya bukan karena pria asing itu. Mungkin ketiga manajer tersebut sudah berada dalam amukan massa....
***