Petang di ibukota malam hari ini sangat pengap. Tidak ada angin yang berhembus ditambah dengan kendaraan terus yang berlalu-lalang membuat semuanya terasa menyesakkan. Apalagi ketika Andaru sepanjang hari merutuki dirinya sendiri akibat apa yang ia telah pilih lakukan hari ini.
Kenapa pula Andaru berpura-pura menjadi keren tadi ketika ia punya banyak kesempatan untuk berkenalan secara resmi dengan “Eris.”
Itu juga alasan kenapa wajahnya terus bersungut-sungut sepanjang ia menyelesaikan sisi kedua dari gedung apartemen mewah itu. Bahkan sang partner memilih untuk tidak banyak beekrja selama mereka bekerja. Terlebih dengan Dane, karena pria itulah yang terus saja menelponnya siang tadi sehingga Andaru malah melupakan apa yang seharusnya ia lakukan setelah sekian lama ini.
Hingga Dane mengajaknya untuk menghabiskan waktu sejenak disebuah warkop murah di daerah gang sempit yang tidak jauh dari warung mie ayam itu. Andaru sempat mencuri pandang ke arah warung tersebut dan mendapati warung itu terutup dan gelap.
“Aku mendengar sebuah cerita secara tidak sengaja dari tempatku makan siang tadi. Tentang dua orang yang menyelamatkan pemilik warung mie ayam dari serangan jantung.” Dane membuka percakapan karena sedari tadi Andaru memunggunginya sambil terus mengepulkan asap rokok. “Dan entah kenapa aku bisa menebak salah satunya adalah kau.”
Andaru masih menolah untuk berbalik.
“Kalau kau mau memberitahuku apa yang terjadi ketika aku menelponmu siang tadi. Aku mungkin bisa memberimu lebih banyak waktu.” Dane lalu menyesap kopi hitamnya keras-keras.
“Kau memberiku banyak waktu? Kau yang “on-time freak?” Andaru akhirnya berbalik. Salah satu sudut bibirnya terangkat tinggi.
Dane terlihat tersinggung. “Karena apa yang kau lakukan itu adalah heroik. Semua orang punya waktu “heroik” mereka masing-masing. Dan untukmu –entah kenapa-bertepatan dengan jam kerjamu.”
***
(Special – Andaru)
Melihat lagak Andaru saat ini. Pasti banyak yang menyangka ketika sekolah dulu Andaru adalah anak yang popular?
Well, tidak juga. Ia malah nyaris tidak terkenal selama tahun pertamanya di sekolah menengah. Itu sebelum ia menonjok wajah sang ketua osis di tengah-tengah lapangan sekolah dalam kelas olahraga kelas gabungan. Kejadian itu terjadi sekitar 10-11 tahun yang lalu.
Alasannya? Karena mulut sang ketua osis dengan mudahnya memilih mengejek tubuh salah seorang gadis teman sekolahnya setelah kalah sebagai perwakilan debat sekolah, alih-alih tim debat sang ketua osis.
“Lihatlah, bagaimana bisa wajah seperti itu bisa mewakili sekolah kita?” Sang ketua osis sengaja membesarkan suaranya agar di dengar sampai di kumpulan teman sekelas Andaru yang sedang melakukan pemanasan.
Andaru muda menggeram jauh di dasar tenggorokannya. Ia ingat betul sang teman sekelas yang menjadi bahan candaan itu sudah menggeleng sangat cepat, untuk memperingatkannya. Ada guru olahraga yang sedang memusatkan perhatiannya pada kelas lain.
“Aku sudah melihat para peserta dari sekolah lain.” Ia menyebut nama sekolah swasta yang memang terkenal dengan anak-anak dari kalangan keluarga kaya. Dan kau tahu, mereka...”
Tapi Andaru sudah tidak tahan. Menyeruak di antara temannya yang sedang berbaris. Andaru menepis lengan yang mencoba menahannya dengan kasar ke samping. Menonjok wajah sang ketua osis yang bahkan tengah dikelilingi oleh teman sekelasnya itu.
Andaru muda mengaduh, mengibas tangan yang ia pakai menonjok itu sambil bersumpah-serapah. Sang ketua osis terkapar di tanah lapangan sekolah yang panas itu. Memuntahkan darah…
Sudah jelas mereka dimasukkan ke Ruang BK bersama. Duduk berdampingan. Andaru menggigit bagain dalam pipinya karena akhirnya ia merasakan denyut menyakitkan berasal dari buku-buku jarinya. Seorang guru BK masuk, membawa kompres air dingin untuk sang ketua osis, tapi tidak untuk Andaru…
Sang guru BK – yang beruntungnya adalah guru lelaki termuda di sekolah itu – mau mendengar setiap versi cerita. Setelah itu guru tersebut mengehela napas panjang. Kepada sang ketua osis ia berkata,
“Kepala sekolah ingin menemuimu juga. Aku akan menyusul sebentar lagi.” Andaru dan sang ketua osis saling pandang dengan sengit sebelum pemuda menyebalkan itu menuntup pintu di belakangnya dengan cukup keras.
Jadi tinggallah ia bersama Andaru muda yang masih mnolak untuk melihat wajah sang guru.
“Ini tidak mungkin hanya aksi heroik karna teman sekelasmu diejek, kan?” Sang guru lelaki itu lembut.
Andaru mendengus. “Bapak pikir saya menyukainya, Pak?”
“Well, setelah apa yang tejadi hari ini. Semua orang akan berpikir kau menyukainya, Andaru.”
“Tidak bisakah kita membantu seseorang – khususnya dari jenis kelamin berbeda – tanpa ada perasaan yang terlibat?” Andaru mengangkat wajahnya ke arah sang guru yang masih memberinya senyum penuh pengertian yan membuatnya muak.
“Oh tidak. Andaru. Tidak ada yang ingin berpikir sejauh itu. Setelah ap yang terjadi dalam hidup mereka. Sesuatu yang mudah dicerna adalah yang paling menarik perhatian.”
“Dengan berkata aku melakukannya karena aku menyukai gadis itu?”
“Benar. Dan kau ingat orang-orang yang tidak ingin berpikir sejauh itu adalah kita – para lelaki?”
Andaru hanya menggeleng-geleng. Membuat sang guru BK tertawa.
“Tapi bukan berarti kalian tidak mendapatkan hukuman.”
Andaru mendengarka apa hukuman yang ia dapatkan dengan setengah hati. Setelah itu dibolehkan untuk kembali ke kelas. Tapi Andaru mengambil jalan yang lain…
Dan ditengah koridor itu ia malah bertemu dengan gadis yang baru saja ia bela tadi. Andaru mencoba menyingkir, tapi gadis itu malah semakin menutup jalannya. Andaru mmbuang pandangan ke samping
“Itu terlihat sakit.” Si gadis berkata. Ia kemudian mengangkat minuman dingin dengan es batu ke depan wajah Andaru. “Aku rasa ini akan membantu.”
Andaru berjengit ketika sang gadis mengambil tangannya tanpa seizinnya dan mulai menaruh bungkus minuman itu di atas buku-buju tangannya yang memerah. Andaru mendesis tajam, tapi kelegaan yang ia rasakan begitu dingin mengurangi rasa sakitnya. Dengan lembut sang agdis menariknya ke pinggir. Duduk di bawah pohon rindang di bawah di sudut lapangan.
“Entah kenapa aku tahu kau akan melakukannya begitu kita bertukar pandang tadi.” Sang gadis berkomentar ketika sama-sama mereka memandang tangan Andaru berada di atas tangan sang gadis dengan bulir-bulir embun dari plastik minuman itu menitik ke atas tangan mereka.
Andaru sendiri terhanyut dengan apapun yang sedang ada di dalam kepalanya sekarang. Ia menyadari jika telapak tangan si gadis sangat lembut. Walau kulit punggung tangannya dan seluruh lengannya gelap akibat matahari.
Tapi ia bosan melihat teman-teman kelas perempuannya yang tiba-tiba wajahnya menjadi putih, namun lehernya masih hitam….
Beberapa lama mereka seperti itu. Hingga si gadis ingin menarik tangannya, namun Andaru sudah menggenggamnya erat.
Tangan mereka saling bertaut dan terasa basah…
“Apa kau mau jadi pacarku?” Pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut Andaru tanpa bisa ia tahan.
Si gadis itu malah mengerutkan dahinya dalam. “Tipemu bukan sepertiku, Andaru. Aku tahu kau sadar dengan itu.”
Andaru menggeleng cepat. “Tidak. Yang aku butuhkan kau!”
Si gadis sekarang mencoba melepaskan tangannya dari genggaman tangan Andaru. Tapi pemuda keras kepala itu malah menguatkan genggamannya.
Mungkin memang benar. Para lelaki hanya berbuat baik kepada gadis yang ia sukai saja. Tapi Andaru tahu dalam hati itu bukan berarti ia bisa bersikap b******k dengan gadis yang lainnya…