Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Light Novel That Time We Got Separated in the Another World ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
1. Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
2. Sempatkan tinggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja termasuk komentar kok(。•̀ᴗ-)✧
_________________________________________
Pada sore hari di sekolah, aku masih melakukan kegiatan ekskul bisbol seperti biasanya pada hari selasa.
Selain itu, akhir-akhir ini cuaca sedang membaik, sehingga kami dapat berlatih di lapangan sekolah. Di sekeliling lapangan, beberapa siswa menonton kami sebagai waktu luang mereka sebelum pulang, salah satunya adalah teman dekatku yang memberikan teriakan keras.
"Semangat Shin!" Suaranya begitu mungil.
Aku gagal memukul di lemparan pertama. Kemudian, pukulan kedua dan sekaligus yang terakhir.
Aku berhasil.
"Home run!"
Setelah melakukan pukulan keras aku berhasil mendapatkan poin terakhir dari latihan bisbol hari ini.
"Kerja bagus, Shin!"
"Kalian juga."
Kami saling menyentoskan tangan sebagai rasa apresiasi dan juga salam dari akhir ekskul bisbol.
"Pukulan tadi, benar-benar hebat!"
"Yah, sepertinya aku terlalu bersemangat saja."
Setelah itu, salah satu siswa dari kelas satu ingin mengemas bola-bola bisbol yang berserakan dimana-mana, namun aku berkata padanya.
"Biar aku saja."
"Terima kasih, Senior!" Adik kelas mengangguk dan pergi untuk mengambil tas.
Aku pun mulai mengambil satu persatu bola lalu memasukannya kedalam ranjang cukup besar. Tidak lama kemudian, seorang perempuan menghampiriku dan menawarkan bantuan.
"Biar aku bantu."
"Oh. Terima kasih, Nene."
Dia adalah Nene, teman masa kecilku, dia mempunyai rambut merah dengan ikat ekor kuda dan sebuah jepitan rambut yang membuat dirinya terlihat beda dari yang lain.
"Kamu tidak perlu berterima kasih, lagipula aku adalah temanmu sejak kecil 'kan, Shin?"
Tatapanku membeku.
Wajah Nene terlalu dekat, hingga membuat pipiku memerah. Aku bisa melihat helai rambutnya yang panjang dan terurai, ditambah bulu matanya tipis dan kulitnya yang putih. Aku memahami perasaan ini, tapi jika saja dia adalah orang lain, mungkin aku akan langsung jatuh cinta padanya.
"Shin?"
"Ah, kamu benar juga. Dari dulu, kamu tidak pernah berubah ya, Nene."
Nene memiliki perawakan yang ramping dan tinggi hampir menyamai tinggi badanku, yaitu 170 cm. Selain itu, Nene orang yang energik dalam berolahraga maupun bersosialisasi. Dia sangat antusias ketika mendengar kata ‹olahraga› maupun ‹musik› Karena dia sangat menyukai dua cabang tersebut.
"Kamu juga, Shin."
Tanpa kami sadari, wajah kami sangat dekat hingga beberapa detik kedepan mata kami saling tertuju dan menatap tanpa berkedip. Namun, di sela waktu tersebut, beberapa kelompok timku telah menggagalkan momen romcom barusan.
(“romcom” search mbah google lah :v)
"Ehem, ehem. Cie… yang berdua disana.".
Aku dengan kesal membalas ejekan mereka.
"Kalian, berisik!"
"Ahaha! Bercanda kok, Shin."
Yang lain melambaikan tangan, dan mengatakan kata perpisahan.
"Kalau gitu, kami duluan."
"Ah, sampai ketemu besok."
"Ya."
Aku berdiri mengambil sebuah bola yang tersisa, setelah semua bola ada di dalam keranjang, aku dan Nene mengangkat keranjangnya bersama sampai ke ruangan penyimpanan, lalu meminta Nene menunggu untuk mengganti baju olahragaku dengan baju sekolah.
Hari ini bertepatan dengan awal tahun, meski begitu cuacanya masih agak dingin sama seperti tahun lalu. Oleh karena itu, aku sengaja membawa syal dari rumah sebelum ke sekolah.
Setelah selesai memakai syal berwarna merah, aku pun kembali untuk menemui Nene di luar ruang ganti.
"Pulang yuk."
"Oke." Nene mengangguk.
Selesainya mengerjakan tugas itu. Dengan begitu, kami bisa pulang.
Rumah Nene dan aku searah dan sangatlah dekat, dengan kata lain, kami bertetangga. Setiap hari, setelah pulang sekolah kami berdua selalu pulang bersama.
Di tengah perjalanan, Nene berhenti sejenak.
"Shin, mau temani aku ke toko itu bentar?"
Nene menunjuk dengan jarinya menuju toko peralatan musik.
"Baiklah."
Aku mengangguk dan berjalan mengikuti Nene hingga masuk ke dalam minimarket.
"Omong-omong Nene, kamu mau beli apa sih?"
"Ah, itu. Aku mau beli piano. Sudah lama sekali sejak dulu aku gak memainkan piano, kupikir aku ingin mencobanya sesekali gitu."
"Oh. Dulu kamu memang suka banget mainin piano, yah meski musiknya kurang jelas sih."
Nene tertawa.
"Haha, benarkan." Nene menyipitkan kedua matanya dengan melas melanjutkan. "Jadi, nostalgia."
Beberapa saat kemudian, Nene menemukan piano yang dia cari dan langsung menuju kasir untuk membelinya. Aku menyusulnya secara perlahan.
"Terima kasih."
Setelah bernegosiasi dengan kasir, Nene langsung menghampiriku.
"Ayo."
Kami pun melanjutkan perjalanan menuju rumah. Di tengah perjalanan, Nene terlihat menggosok kedua tangannya secara bersamaan lalu meniup telapak tangannya sesekali. Tidak lama setelah itu, Nene bersin dan hidungnya kelihatan memerah.
Ketika menyadari bahwa Nene merasa kedinginan karena tidak memakai syal di lehernya, aku segera melepaskan syal milikku dan langsung memakaikannya pada Nene.
"Te-terima kasih."
Kedua pipi Nene tiba-tiba memerah dan agak sedikit menunduk ke jalan. Namun, Nene sepertinya merasa lebih bersemangat daripada sebelumnya, berjalan mendahuluiku di depan, sambil berkata:
"Shin. Mau liat foto kita sejak kecil? Aku masih menyimpannya lho."
"Apa? Kamu masih memilikinya?"
Kami berhenti sejenak, Nene menaruh pianonya di tanah dan meraih tasnya untuk mengambil foto itu.
Nene langsung memperlihatkannya, kami melihatnya bersama-sama.
"Tuh, dulu aku masih kecil banget."
"Ini foto sejak kapan… Lah?! Bukannya itu kita masih kecil."
"Haha. Liat kamu imut banget."
"Mana, mana? Kok aku gak liat?"
Aku merebut foto itu dari Nene, dan melihat seorang bocah dengan rambut acakan di sampingnya.
"Tidak mungkin… itu tidak mungkin aku."
"Kalau tidak salah, yang motoin kita itu…" suaranya tertahan, Nene menunduk terlihat sedikit murung.
"...Almarhum ibuku, ya." Aku tidak keberatan mengatakannya, karena ini sudah menjadi kenyataan bagiku, dan satu-satunya orang bisa memahami perasaan itu, tidak lain hanyalah dia… Nene.
"M-maaf Shin… aku tidak bermaksud…"
"Sudahlah, tidak apa-apa. Lagipula, ini foto kenang-kenangan."
Untuk beberapa saat detik ke depan, kami menatap foto itu bersama dan tersenyum.
Namun. Di saat-saat inilah suatu hal ironis menimpa kami.
Tanpa sadari, cahaya biru dan sebuah lingkaran misterius muncul secara tiba-tiba tepat di bawah kaki kami. Lingkaran misterius itu memiliki bentuk yang unik.
Aku dan Nene sontak kaget dan bertanya-tanya.
"A-apa ini?"
"Eh? Aku tidak tahu, apa yang terjadi?"
Aku merasakan firasat buruk tentang ini, kemudian tanpa pikir panjang aku mendorong Nene keluar dari lingkaran tersebut.
"Menjauh dari sini Nene, jangan mendekat! Sepertinya lingkaran ini hanya mengincar diriku."
Langkah Nene agak sedikit mundur dan menjauh dariku.
"T-tapi Shin, aku tidak ingin kamu terluka."
"Aku pun juga begitu, Nene..." aku memelas dan menurunkan alisku agak kebawah.
Selama beberapa detik lingkaran misterius ini merubah warna cahayanya menjadi merah, aku tidak tahu apa yang terjadi, kupikir ini sedikit mirip seperti dalam game, tapi aku sekarang tidak sedang bermimpi.
Apakah ini fenomena yang belum diketahui dunia? Yah, meskipun aku berpikir keras itupun tidak ada guna nya, sepertinya aku akan berpisah dengan Nene. Sebenarnya, aku ingin mengatakan sesuatu yang penting padanya, tapi aku tidak memiliki banyak waktu untuk itu.
"Shin!"
Nene melompat, dan langsung merangkul tanganku, memegang tanganku dengan erat.
"Nene... tolong, tinggalkan aku sendirian dan menjauhlah–"
"Aku takkan meninggalkanmu sendirian!!"
.....Nene, membantah perkataanku....?
Aku bengong tidak sempat berpikir lagi, setelah melihat cahaya merah tersebut meledakan sinar jingga yang menusuk penglihatan, aku masih bisa bernafas meski tubuhku seakan dilahap oleh cahaya, aku melihat wajah Nene dan berusaha ingin meraih tanganku, aku pun begitu.
Hingga suatu ketika… Nene memanggilku untuk terakhir kalinya.
"Shinnnn!!"
"......"
Nene menghilang.
Aku tidak dapat melihat wajahnya lagi, dia sepenuhnya menghilang dari penglihatan ku, sepertinya aku dan Nene tidak akan pernah bertemu lagi.