bc

ISTRI PENGGANTI YANG TERLAMBAT DICINTAI

book_age18+
6
FOLLOW
1K
READ
dark
love-triangle
contract marriage
family
HE
fated
forced
opposites attract
friends to lovers
pregnant
police
neighbor
heir/heiress
drama
sweet
bxg
lighthearted
serious
loser
office/work place
small town
illness
lies
war
substitute
like
intro-logo
Blurb

Di hari pernikahan kakaknya, Nesya tak pernah membayangkan dirinya yang akan duduk di kursi pengantin.

Maria kabur. Leo ditinggalkan di altar. Demi menyelamatkan harga diri keluarga, Nesya dipaksa menggantikan kakaknya.

Tanpa cinta. Tanpa pilihan.

Bagi Leo, Nesya hanyalah bayangan Maria—perempuan yang selalu lebih dipuji dan dicintai. Ia bersikap dingin, menjaga jarak, bahkan tak pernah benar-benar menganggap Nesya sebagai istri.

Namun satu malam yang tak seharusnya terjadi mengubah segalanya.

Ketika hati Leo mulai goyah dan Nesya mungkin mengandung, Maria justru kembali—membawa air mata, tuduhan pengkhianatan, dan cinta lama yang belum selesai.

Di antara kebohongan dan luka yang terungkap, Leo harus memilih.

Cinta masa lalu yang penuh ilusi…

atau istri yang selama ini ia sakiti, namun justru paling tulus mencintainya.

chap-preview
Free preview
Bab 1 Pengantin Yang Menghilang
Gaun putih itu masih tergantung anggun di dalam kamar pengantin. Makeup Maria, calon pengantin wanita, juga sudah hampir selesai. Buket bunga mawar putih tergeletak di atas meja rias. Musik pernikahan bahkan sudah mulai diputar pelan di aula resepsi yang dipenuhi tamu undangan dari berbagai kalangan. Semua terlihat lancar, sampai Maria meminta waktu, sendiri. Tidak ada yang curiga, sampai Mona, sepupu mereka, datang untuk memeriksa dan memastikan apakah semua baik-baik saja, tetapi yang terlihat ruangan itu kosong. Calon pengantinnya… tidak ada. Panik, tapi tetap tenang. Mona berusaha mencari Maria di kamar mandi, di ruang sebelah sampai ke koridor, tetapi tidak ada. Maria seakan lenyap ditelan bumi. Dia menjadi tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya dan kepanikannya lagi. Ia keluar mencoba memeriksa barang kali anggota keluarga yang lain tahu di mana Maria. “Tan, Kak Maria nggak ada di kamar!” Suara panik Mona, sepupu mereka membuat darah Nesya serasa berhenti mengalir. Ia yang sejak tadi membantu merapikan veil kakaknya, langsung berdiri. “Maksudnya nggak ada gimana?” “Kosong. Aku sudah cari ke mana-mana. Tasnya juga nggak ada.” Dunia mendadak terasa sunyi. Nesya berlari ke kamar pengantin. Pintu terbuka setengah. Gaun pengantin masih di sana. Sepatu hak tinggi yang tadi dipilih Maria juga masih tersusun rapi. Dia mengambil ponselnya, berusaha menelpon Maria. Namun, ponsel kakaknya tidak aktif. "Bagaimana, Nesya?" tanya ibunya. "Tidak aktif, Ma." Nesya menjawab dengan sesal. “Cari lagi!” suara ayahnya meninggi untuk pertama kalinya dalam hidup Nesya. “Jangan sampai tamu tahu!” Di luar, para tamu mulai berdatangan. Musik bertambah keras. MC sudah bersiap. Di sisi lain gedung, keluarga calon pengantin pria tampak duduk dengan wajah tegang. Di tengah ruangan itu, berdiri seorang pria berseragam rapi dengan bahu tegap dan rahang mengeras—Leo Pradipta. Sorot matanya dingin seolah ia sudah merasakan sesuatu yang tidak beres. Tiga puluh menit kemudian. Ponsel ibu Nesya bergetar. Satu pesan masuk. Dari Maria. Ma, aku nggak bisa nikah hari ini. Aku pergi. Jangan cari aku. Tangan ibu mereka gemetar hebat. “Apa maksudnya ini?!” Suara ayah mereka hampir tak terkendali. Nesya membaca pesan itu sekali lagi. Tidak ada penjelasan, penyesalan atau rasa bersalah. Hanya kalimat singkat yang menghancurkan segalanya. “Maria kabur?” bisik salah satu kerabat yang entah sejak kapan sudah mengetahui. "Kenapa? Bukannya mereka saling mencintai?" "Apa terjadi sesuatu padanya?" Desas-desus mulai menyebar cepat seperti api. “Keluarga Arunika dipermalukan…” “Pengantinnya kabur…” “Kasihan pihak laki-laki…” Ayah mereka memijat pelipisnya. Wajahnya pucat. Dia tidak akan bisa menghadapi keluarga besannya bila ini terus terjadi. Apalagi sebagai pihak yang melarikan diri, tentu semua kesalahan akan mengarah pada keluarga mereka. Semua reputasi yang dibangun bertahun-tahun akan runtuh dalam sehari. Jelas, hal itu tidak boleh terjadi. “Kalau ini sampai jadi skandal… bisnis kita bisa hancur. Nama baik semuanya...” Ibu mereka menangis terisak. “Harus ada solusi.” Kalimat itu meluncur pelan dari salah satu paman Nesya yang terlihat tenang di antara semua anggota keluarga yang panik dan penuh kemelut. Suasana ruangan keluarga berubah mencekam. “Pernikahan sudah diumumkan. Tamu sudah datang. Media juga ada.” “Kalau dibatalkan sekarang, ini jadi aib besar.” "Apa yang bisa dilakukan agar pernikahan ini tetap terjadi?" Tidak ada yang bicara. Namun, tiba-tiba pamannya mengatakan sesuatu. "Bukannya kakakku ini memiliki satu lagi anak perempuan?" "APA?" Semua mata mendadak beralih ke satu orang. Nesya. Jantungnya berdegup tidak normal. “Apa maksud Paman…?” Ibu menggenggam tangannya erat dengan tangan gemetar. "Pamanmu benar, Nesya." Alis Nesya terangkat sebelah, "Apanya yang benar, Ma?" “Nesya… kamu bisa menggantikan kakakmu, kan?” Pertanyaan itu seperti sebuah perintah, bukan permintaan. Nesya termangu, rasanya ini salah dan nuraninya berteriak untuk menolak. "Benar, kamu harus menikah dengan Leo." Ayahnya ikut menegaskan. Hal itu membuat dunia Nesya benar-benar runtuh kali ini. “Aku apa?! Menikah?” Suaranya pecah. “Ini demi keluarga,” ayahnya berkata tegas, meski matanya menghindar. “Kamu satu-satunya yang bisa menyelamatkan keadaan dan reputasi keluarga kita, Nesya.” Ada rasa bersalah, tapi juga rasa takut di suara ayahnya. Jelas, dibandingkan reputasi atau putrinya, ayahnya akan selalu memilih yang pertama. Sejak dulu, selalu begitu. "Mama mohon, Nesya. Menikahlah menggantikan kakakmu..." Ibunya ikut memohon. Nesya merasa napasnya tercekat. Itu bukan keputusan kecil. Itu hidupnya. Juga, sebuah pernikahan. Yang paling membuat tidak nyaman adalah, pengantin prianya adalah Leo. Pria yang sejak dulu hanya menatapnya dengan dingin, seolah keberadaannya selalu menjadi masalah. “Nesya,” ibunya memohon dengan suara bergetar. “Tolong Mama. Kalau ini gagal… kita hancur.” Di luar, MC sudah mengumumkan lima menit lagi prosesi dimulai. Sedangkan di ruang keluarga itu, seorang wanita sedang berdiri di antara kehormatan keluarga dan masa depannya sendiri. Air mata menggenang di pelupuk matanya. “Kalau… kalau aku menggantikan Kak Maria,” suaranya lirih, “apa Kak Leo mau?” Tidak ada yang menjawab. Karena semua tahu—Leo tidak pernah menyukainya. Bahkan mungkin… membencinya. Beberapa menit kemudian, pintu ruang tunggu pria diketuk. Leo menoleh tajam ketika ayah Nesya masuk. Wajah pria dewasa itu tegang. “Ada perubahan kecil,” katanya pelan. Tatapan Leo berubah curiga. “Maria… tidak bisa hadir hari ini.” Rahang Leo mengeras. Firasat buruk yang dirasakannya sejak tadi seolah menunggu waktu untuk menjadi kenyataan. “Apa maksudnya tidak bisa hadir, Pa? Ini pernikahan kami.” Jelas, ada rasa kecewa dan amarah yang ditahan di nada suaranya. Ayah Nesya menelan ludah. "Maria kabur..." Pupil mata Leo membulat, "Tidak mungkin. Bagaimana bisa?" "Kami juga baru tahu, oleh karena itu..." Ayah Nesya terlihat berkeringat dingin. Tekanan dari keadaan ini dan tatapan Leo membuatnya tidak nyaman. “Putri kedua kami… Nesya… akan menggantikan Maria.” Keheningan kali ini terasa seperti dentuman bom. Mata Leo membeku. “Nesya?” ulangnya dingin. Nama itu seperti sesuatu yang pahit di lidahnya. Satu-satunya wanita yang menurut Maria selalu lebih dipilih. Yang selalu lebih dipuji dan yang membuat Maria, pujaan hatinya, merasa tidak pernah cukup bagi keluarganya. Pengantinnya tiba-tiba menghilang dan sekarang… wanita itu akan berdiri di sisinya sebagai istri? Sungguh kebetulan yang mencurigakan atau takdir yang menggelikan.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

(Bukan) Istri Simpanan

read
52.5K
bc

Kusangka Sopir, Rupanya CEO

read
36.6K
bc

Gadis Tengil Milik Dosen Tampan

read
7.6K
bc

Desahan Sang Biduan

read
55.5K
bc

Godaan Hasrat Keponakan Istri

read
15.2K
bc

Lagi! Jangan Berhenti, Om!

read
8.7K
bc

Unchosen Wife

read
5.2K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook