Leo tertawa pendek, "Jadi ini solusi yang bisa anda tawarkan? Bukannya kalian harus mencari Maria?"
Ayah Nesya menelan ludah, "Kami sudah berusaha menghubunginya, tapi tidak tersambung. Juga, dia meninggalkan pesan singkat pada istriku."
Alis Leo terangkat sebelah, "Pesan apa?"
Ayah Nesya kemudian memanggil istrinya, Nesya dan yang lainnya. Orang tua Leo juga dipanggil. Mereka harus mencari solusi di waktu yang terbatas dengan cepat dan mufakat.
"Aku tidak percaya," ujar Leo setelah membaca pesan yang disodorkan padanya. "Bagaimana bisa dia meninggalkanku di hari pernikahan? Kami saling mencintai selama dua tahun!"
Suaranya jelas meninggi.
Ayah Nesya menunduk merasa bersalah. Mereka juga bingung karena semua terasa mendadak.
Semua orang diam karena kemarahan Leo jelas bukan sesuatu yang tidak bisa dimengerti. Sebagai korban, Leo pasti merasa diterlantarkan.
Ruangan hening selama beberapa waktu sampai Leo sepertinya terlihat sudah mengambil keputusan. Semua orang menunggu dengan hati was-was.
“Aku tidak akan menikah.”
Suara Leo Pradipta terdengar datar, tapi cukup untuk membuat ruangan itu membeku. Ayah Nesya terdiam. Ibu Nesya menutup mulutnya yang gemetar. Beberapa kerabat saling pandang dengan wajah pucat.
Di luar, para tamu mulai bertanya-tanya mengapa prosesi belum juga dimulai.
“Apa maksudmu tidak akan menikah?” Suara ayah Leo terdengar menahan amarah.
Leo berdiri tegak dengan seragam yang masih rapi sempurna. “Wanita yang akan aku nikahi hari ini adalah Maria. Bukan Nesya.”
Nama itu terdengar seperti luka yang masih terbuka.
Ia menoleh ke arah pintu, tepat saat Nesya berdiri di ambang dengan gaun putih yang belum sempat dikenakan.
Tatapan mereka bertemu. Nesya menelan ludah, tatapan Leo terasa dingin dan menusuk.
"Kalian yakin Maria kabur karena keinginannya?"
Semua orang menatap heran pada Leo. Jelas, pria itu sedang curiga.
“Atau mungkin,” lanjut Leo pelan, “ini semua memang rencana?”
Semua orang terdiam.
“Maksud kamu apa?” Suara ayah Nesya meninggi. Dia jelas tidak terima dituduh, apalagi Leo sepertinya mencurigai putri keduanya.
Leo menatap Nesya tanpa berkedip. “Bukankah aneh? Kakaknya kabur, lalu adiknya langsung siap menggantikan. Terlalu kebetulan.”
Seperti ditampar tanpa tangan, napas Nesya tercekat.
“Aku tidak pernah—” suaranya gemetar.
“Leo!” ibu Leo berdiri dari kursinya. Wajah wanita paruh baya itu pucat. “Jangan menuduh sembarangan.”
“Tapi ini tidak masuk akal, Ma!” Leo membalas tegas. “Maria mencintaiku. Dia tidak mungkin kabur tanpa alasan.”
Semua orang tahu alasannya. Pesan singkat itu sudah cukup jelas. Namun harga diri Leo terlalu besar untuk menerima kenyataan bahwa ia ditinggalkan.
“Nesya yang paling sibuk mengurus pernikahan ini,” Mona ikut angkat bicara. “Dia yang mengatur vendor, dekorasi, bahkan mencarikan hadiah untuk keluarga pihak pria. Mustahil dia membantu Maria kabur.”
“Betul,” tambah yang lain. “Kalau dia ingin menggantikan, kenapa repot-repot menyiapkan semuanya untuk kakaknya?”
Leo terdiam. Logikanya mulai goyah. Namun hatinya masih keras.
“Aku tetap tidak akan menikah,” katanya dingin.
Kalimat itu seperti palu terakhir.
Ibu Leo tiba-tiba memegang dadanya.
“Ma!” Ayah Leo panik saat wanita itu terhuyung.
Ruangan kembali ricuh.
“Panggil dokter!”
“Ibu Leo pucat sekali!”
Nesya spontan berlari membantu, memegangi lengan calon mertuanya.
Wanita itu menatap Leo dengan mata berkaca-kaca. “Jangan mempermalukan keluarga kita, Nak… Mama tidak sanggup…”
Wajah Leo berubah. Untuk pertama kalinya, terlihat konflik nyata di matanya. Ia baru saja ditinggalkan di altar. Harga dirinya diinjak. Sekarang… ibunya hampir tumbang karena rasa malu.
Sepuluh menit kemudian, setelah keadaan sedikit lebih tenang, Nesya berdiri di depan Leo.
“Boleh aku bicara berdua denganmu?” tanyanya pelan.
Leo menatapnya lama sebelum akhirnya mengangguk kaku.
Mereka masuk ke ruangan kecil di belakang gedung. Pintu ditutup. Nesya berdiri dengan kedua tangan saling menggenggam, mencoba menahan gemetar.
“Aku tidak membantu Kak Maria kabur,” ucapnya pelan tapi tegas. “Aku bahkan tidak tahu dia akan pergi.”
Leo hanya menatapnya dengan sorot mata tajam.
“Lalu kenapa kamu mau menggantikannya?” tanyanya dingin. “Atau memang ini yang kamu tunggu sejak awal?”
Daada Nesya terasa perih.
“Aku melakukan ini untuk keluargaku. Aku juga tidak mau, tapi... orang tuaku memohon.”
“Keluarga?” Leo tersenyum tipis, sinis. “Atau untuk membuktikan kamu memang selalu lebih unggul dari Maria?”
Kata-kata itu menyakitkan. Namun Nesya tidak mundur.
"Tidak seperti itu, aku melakukannya karena mama memohon.” Suaranya mulai bergetar. “Aku tidak pernah ingin mengambil apa pun darinya bila bisa, tapi Leo, aku tidak bisa melihat mamaku terluka dan....”
“Jadi demi mamamu, kamu bisa menikah denganku?” Leo memotong tajam.
Hening. Nesya menunduk sesaat sebelum kembali menatapnya.
“Aku akan melakukannya demi mama. Kamu juga sama, kan? Aku melihat matamu goyah saat mamamu...”
"Kamu berniat menggunakan kelemahanku?"
"Tidak, aku hanya bilang, kita punya orang yang dilindungi."
Jawaban itu terlalu jujur dan benar. Entah kenapa, membuat Leo semakin terganggu.
“Baik,” katanya akhirnya, suara kembali dingin seperti baja. “Kalau kamu tetap ingin pernikahan ini terjadi, maka dengarkan syaratku.”
Nesya menelan ludah.
“Ini hanya pernikahan di atas kertas. Tidak ada sentuhan. Tidak ada cinta. Jangan pernah berharap lebih dariku. Kamu mengerti? Cintaku hanya untuk Maria.”
Setiap kalimat terasa seperti jarum.
“Kita akan menjalani ini maksimal dua tahun atau sampai Maria ditemukan.” Tatapannya mengeras. “Setelah itu, kita bercerai.”
Dua tahun. Hanya sementara dan dirinya hanya istri pengganti.
Nesya memejamkan mata sejenak. Ia tahu ini bukan pernikahan yang diimpikannya, tapi jika ini bisa menyelamatkan keluarga dan harga diri semua orang…
“Aku setuju,” ucapnya pelan.
Leo menatapnya, seolah menilai keteguhan di balik wajah lembut itu.
“Satu lagi,” lanjutnya. “Jangan pernah berharap aku mencintaimu.”
Nesya tersenyum kecil seolah itu juga bukan hal yang diharapkan olehnya.
“Aku tidak akan memaksamu mencintaiku, Kak Leo.”
Panggilan itu membuat rahang Leo menegang.
Untuk pertama kalinya hari itu, ia merasa sesuatu di dalam dirinya goyah.
Mereka keluar dan memberitahu keluarga, semua orang berpelukan dengan bahagia seolah ini keputusan yang paling mereka inginkan.
Di luar, musik pernikahan kembali dimainkan. Beberapa menit kemudian, Nesya berjalan menuju altar—bukan sebagai pengantin wanita yang bahagia, melainkan sebagai pengganti yang diterima dengan syarat tanpa cinta.