Persiapan pernikahan selesai dilakukan. Nesya, yang pada awalnya hanya menjadi keluarga dari mempelai wanita, kini berubah menjadi mempelai wanita. Wajahnya dirias, pakaian sudah diganti dan keputusan ini telah disetujui. Meski sempat mengalami penundaanya, nyatanya, acara tetap akan digelar dengan semestinya.
Gereja itu sudah dipenuhi cahaya. Bunga putih menghiasi setiap sudut altar. Musik sakral mengalun lembut, seolah tidak terjadi kekacauan apa pun satu jam sebelumnya.
Kini, semua mata tertuju pada satu hal. Pengantin wanita. Bisik-bisik mulai terdengar saat Nesya melangkah masuk dengan gaun putih yang sebenarnya dirancang khusus untuk Maria.
“Bukannya itu adiknya?”
“Kenapa bukan Maria?”
“Apa yang terjadi sebenarnya?”
Nesya bisa merasakan tatapan-tatapan itu seperti jarum menusuk kulitnya. Tangannya dingin, meski ia berusaha tetap tersenyum.
Di ujung altar, Leo berdiri tegap. Wajahnya kembali tanpa ekspresi seolah kejadian yang hampir membuat pernikahan ini batal, bukan tertunda, tidak pernah terjadi.
Saat Nesya sampai di sisinya, pria itu menoleh sekilas. Tatapan mereka bertemu. Keduany saling mengabaikan, tatapan itu tidak bertahan bahkan dari dua detik.
Keadaan sedikit canggung, tapi Leo tetap menyodorkan tangannya. Nesya menerimanya, mereka saling menggenggam. Hal kecil tapi cukup untuk membuat para tamu terdiam.
Mereka berpegangan tangan dengan erat seolah-olah keduanya memang menginginkan hal itu terjadi di sana. Nesya terkejut sepersekian detik saat genggaman tangan Leo menguat.
Mereka saling melirik, tetapi berusaha tidak terlalu bereaksi.
Upacara pemberkatan pernikahan pun dimulai. Pendeta berbicara tentang komitmen, tentang kesetiaan, tentang cinta yang tumbuh dalam proses. Setiap kata terasa ironis karena mereka bukan pengantin yang menyatu dan berjanji di hadapan Tuhan karena cinta yang manis, melainkan karena keterpaksaan dan tekanan keluarga.
Ketika giliran Leo mengucapkan janji, suaranya dalam dan mantap.
“Aku, Leo Pradipta, menerima Nesya Arunika sebagai istriku…”
Ada jeda sangat tipis sebelum ia melanjutkan.
“…untuk kukasihi dan kuhormati seumur hidupku.”
Suaranya tidak bergetar. Dia terdengar tidak ragu atau terpaksa.
Jika orang tidak tahu apa yang terjadi di belakang layar, mereka akan percaya itu tulus.
Nesya menatapnya sejenak.
Bagaimana mungkin pria yang satu jam lalu menolak menyentuhnya kini menatapnya dengan sorot selembut itu? Ia sama sekali tidak bisa menemukan jawabannya.
Ketika giliran Nesya berbicara, suaranya sedikit gemetar. Akan tetapi ia tetap menyelesaikan janjinya.
Tepuk tangan terdengar setelah kedua mempelai memberikan janji. Namun drama belum selesai.
Saat sesi foto slide perjalanan cinta diputar—sesuai konsep acara yang sudah dirancang—layar besar menampilkan foto-foto Leo bersama Maria saat tertawa, liburan dan foto pre-wedding mereka.
Desas-desus kembali menggema. Semua tamu heran kenapa foto di layar berbeda dengan pengantin yang kini berdiri di hadapan mereka. Sebagian mereka kasihan, sebagian lagi merasa seperti ini sebuah konflik antar saudara. Bahkan, ada yang berbisik kalau ini adalah sebuah perselingkuhan. Jelas, semua itu hanya asumsi tak berdasar.
“Itu Maria…”
“Kenapa yang menikah Nesya?”
"Apa... mereka main belakang?"
Suasana mulai tidak nyaman.
Ayah Nesya terlihat tegang. Ibu Leo kembali pucat. Namun sebelum kegaduhan membesar, Leo melangkah maju.
Ia mengambil mikrofon. Ruangan perlahan sunyi karena aura karismatik dari sang perwira.
“Saya rasa saya perlu menjelaskan sesuatu,” ucapnya tenang.
Tangannya masih menggenggam tangan Nesya. Dia seolah lupa kalau genggaman itu sebenarnya boleh dilepas.
“Saya memang sempat menjalin hubungan dengan Maria.”
Bisikan makin keras.
“Tapi dalam proses persiapan pernikahan ini… saya menyadari sesuatu.”
Leo menoleh pada Nesya. Tatapannya lembut dan penuh makna. Yang akan membuat siapapn berpikir mungkin Leo sangat jatuh cinta pada Nesya saat ini.
Akting yang sempurna, pikir Nesya.
“Saya dan Nesya menjadi semakin dekat. Kami berdua saling memiliki perasaan istimewa dan Maria mengetahui perubahan itu.”
Semua orang menahan napas.
“Maria tidak pernah ingin menjadi penghalang kebahagiaan kami. Ia memilih pergi… agar saya bisa bersama orang yang benar-benar saya cintai. Mungkin, bagi kalian ini sebuah kesalahan, tapi bagi kami, ini sebuah kebenaran.”
Hening. Semua tamu diam seolah sedang memuat reaksi yang benar untuk pernyataan seberani dan selugas itu. Tak lama, terdengar helaan napas lega. Bahkan tepuk tangan. Beberapa tamu bahkan terlihat tersentuh dan meneteskan air mata.
“Jadi tidak ada yang perlu disesali,” lanjut Leo mantap. “Saya menikahi Nesya hari ini bukan karena terpaksa. Namun atas nama cinta.”
Tepuk tangan menggema. Beberapa orang bahkan tersenyum haru. Maria kini bukan lagi pengantin yang kabur. Ia menjadi wanita yang “mengalah demi cinta” dan Leo—pria yang tegas memilih hatinya.
Semua aib tertutup dengan sempurna, bersih dan tanpa cela. Asumsi tentang reputasi yang mungkin hancur, kini berhasil diselamatkan dengan pidato dan akting berkelas dari Leo.
Nesya berdiri di sampingnya hanya diam.
Jadi kamu bisa berbohong seindah ini… Hatinya berbisik, ada perih yang tidak bisa dijelaskan tumbuh. Sebab sekarang, dia menjadi wanita yang merebut pengantin kakaknya atas nama cinta sejati. Jelas, itu bukan julukan yang patut dibanggakan.
Ia memaksakan senyum saat kamera-kamera menyorot mereka.
"Kamu terlihat marah," bisik Leo membuat Nesya sadar akan ekspresinya yang mungkin terlihat kesal.
"Tersenyumlah, bukankah ini yang kamu mau?" imbuh Leo membuat Nesya hanya bisa menguatkan diri agar tidak menonjok sang perwira narsis di sampingnya.
Nesya akhirnya ikut bermain dalam drama. Ia ikut tertawa kecil, pura-pura malu saat Leo merangkul pundaknya untuk sesi foto. Semua orang yang menyaksikan seolah bisa melihat keduanya saling mencintai. Padahal, mereka saling membenci.
Saat mereka akhirnya berjalan turun dari altar, Leo mendekatkan wajahnya sedikit.
“Aktingmu awalnya kaku,” bisiknya tipis tanpa senyum. “Sekarang, jauh lebih baik seolah kamu bisa jadi aktris.”
Nada itu kembali dingin. Perkataan itu jelas membuat Nesya marah, tetapi wanita itu menahannya. Tangannya terkepal sempurna.
Nesya menoleh pelan.
“Aku juga tidak tahu, kamu bahkan berbakat menjadi sutradara,” balasnya lirih.
Leo menatapnya sekilas.
“Terima kasih pujiannya, Pengganti. Kamu mendapatkan apa yang kamu inginkan.”
Kata-kata itu seperti tamparan.
Nesya terdiam. Tadi ia memang mencoba tersenyum, mencoba terlihat bahagia—karena jika ia tidak melakukannya, semua kebohongan Leo akan runtuh. Namun di mata pria itu, ia justru terlihat munafik.
Leo kembali tersenyum lebar ke arah kamera. Tangan mereka saling menggenggam untuk foto berikutnya seperti pasangan sempurna.
Tak ada yang tahu bahwa di balik kilatan kamera dan tepuk tangan meriah, dua orang itu baru saja membangun rumah tangga di atas kesepakatan tanpa cinta.
Di antara mereka, ada jarak yang bahkan lebih dingin dari altar yang baru saja mereka lewati yaitu sebuah janji kosong bernama pernikahan.