Lampu kristal di ballroom berkilau lembut, memantulkan cahaya ke setiap sudut ruangan seperti ribuan bintang yang sengaja dijatuhkan ke langit-langit. Musik romantis mengalun pelan dari orkestra kecil di sudut panggung. Para tamu berdiri mengantre untuk memberi selamat, wajah mereka dipoles senyum dan rasa ingin tahu yang belum sepenuhnya padam.
Leo berdiri di sisi Nesya dengan postur tegap, bahu lurus, dagu terangkat. Wajahnya nyaris sempurna tanpa cela—tenang, terkendali, seperti tidak ada kekacauan yang terjadi beberapa jam sebelumnya. Tangannya sesekali melingkar di pinggang istrinya—cukup lama untuk terlihat mesra di depan kamera, cukup singkat untuk tidak terasa nyata.
“Selamat ya, akhirnya jodohnya memang adiknya,” celetuk salah satu rekan bisnis ayah Nesya sambil tertawa kecil, nada suaranya menyiratkan gosip yang sudah dikunyah sejak siang.
Nesya tersenyum sopan. Senyum yang sudah ia latih sejak remaja—cukup ramah, cukup tertutup.
Leo lebih cepat merespons. “Kadang Tuhan memang mempertemukan kita dengan orang yang tepat di waktu yang tidak terduga.”
Kalimatnya halus. Terlatih. Disampaikan dengan intonasi yang pas, tatapan mata yang meyakinkan.
Beberapa tamu terlihat terharu. Bahkan ada yang mengangguk-angguk setuju.
Nesya menoleh sedikit ke arahnya.
Bagaimana bisa suaramu terdengar setulus itu?
Leo membalas senyum ke arah kamera. Tangannya mengerat sesaat di pinggang Nesya, tekanan lembut tapi jelas. Isyarat tanpa kata: jangan salah langkah.
Slide foto kembali diputar saat sesi makan malam dimulai. Layar besar di belakang panggung menampilkan foto-foto baru—hasil edit cepat dari tim dokumentasi. Potongan gambar yang disusun ulang: Leo menatap Nesya, Nesya tertawa di samping Leo, jari mereka hampir bersentuhan. Frame yang seolah menunjukkan mereka saling jatuh cinta.
Desas-desus memang masih terdengar di beberapa meja, tapi sudah melemah.
“Ya sudahlah, yang penting keluarganya sepakat.”
“Maria mungkin memang sadar diri.”
“Lagipula mereka terlihat cocok.”
Empati perlahan bergeser. Dari keluarga yang dipermalukan menjadi kisah cinta yang ‘berubah arah’. Publik selalu menyukai cerita yang bisa disederhanakan.
Di meja keluarga, suasana tidak sehangat di atas panggung.
Ayah Nesya lebih banyak diam, memutar gelas di tangannya tanpa benar-benar meminumnya. Ibu mereka masih sesekali menghapus mata, entah karena haru atau karena kelelahan menahan malu yang berubah arah. Ayah Leo terlihat tegang, rahangnya kaku, sementara ibu Leo berusaha tersenyum setiap kali tamu menghampiri.
“Nesya,” suara ibu Leo lembut, nyaris bergetar, “terima kasih sudah menyelamatkan keadaan hari ini.”
Kata menyelamatkan terdengar seperti pengakuan sekaligus beban.
Nesya mengangguk pelan. “Saya hanya melakukan yang seharusnya, Ma.”
Leo tidak ikut bicara. Ia memotong steak di piringnya dengan gerakan presisi, pisau dan garpu bergerak tenang, seolah percakapan itu tidak melibatkannya sama sekali.
Beberapa menit kemudian, salah satu sepupu pria mendekat dan bercanda, “Kapten, akhirnya resmi juga ya. Tadi sempat deg-degan kami kira batal.”
Leo tersenyum tipis. “Seorang prajurit tidak lari dari tanggung jawab.”
Tepuk tangan kecil terdengar dari meja sebelah. Ada yang bersiul kagum.
Nesya menatapnya sebentar. Tanggung jawab, bukan cinta.
Ketika sesi dansa pertama diumumkan, ruangan kembali hening. Lampu diredupkan, menyisakan sorot lembut di tengah lantai dansa.
Leo berdiri dan mengulurkan tangan pada Nesya.
Gerakannya elegan, terukur. “Boleh?” tanyanya pelan, cukup keras untuk terdengar manis di mikrofon yang masih aktif.
Beberapa tamu terkekeh gemas.
Nesya menyambut tangan itu. Sentuhan pertama mereka yang disadari publik.
Hangat di telapak tangan. Kuat. Pasti.
Namun saat mereka bergerak mengikuti irama, Leo sedikit merunduk. Bibirnya mendekat ke telinga Nesya tanpa mengubah ekspresi wajahnya yang lembut.
“Jangan salah langkah,” bisiknya tanpa senyum.
Nesya menahan napas.
“Aku tidak akan menginjak kakimu,” balasnya pelan.
Leo mendengus tipis. “Pastikan itu.”
Mereka terus menari. Dari luar terlihat harmonis dan serasi. Tinggi badan mereka seimbang, gerakan selaras. Bahkan beberapa tamu berseru kagum melihat wibawa mereka sebagai pasangan. Namun jarak di antara mereka tetap terjaga. Ada ruang kecil yang sengaja dipertahankan.
Nesya bisa merasakan tatapan orang-orang. Kamera berkilat. Bisikan-bisikan yang kini berubah nada.
“Lihat, ternyata memang sudah dekat.”
“Mungkin dari dulu sudah ada benih.”
Kisah ditulis ulang malam itu dan mereka adalah aktor utamanya.
Malam semakin larut. Satu per satu tamu berpamitan. Ucapan selamat mengalir seperti air, membawa doa dan harapan panjang umur rumah tangga yang bahkan belum benar-benar dimulai.
Nesya merasa lelah, jiwa dan raga. Senyum yang ia pakai sejak siang mulai terasa kaku di sudut bibir.
Di pintu keluar ballroom, mobil pengantin sudah terparkir. Dihias pita putih dan bunga kecil di kap mesin. Lampu kilat masih menyala.
“Bahagia selalu!” teriak seseorang.
Beberapa rekan Leo bersiul menggoda. “Kapten, jangan terlalu galak malam ini!”
Tawa pecah.
Leo hanya tersenyum tipis, nyaris tidak bereaksi.
Saat mereka berjalan menuju mobil, tangan Leo kembali meraih tangan Nesya. Kali ini lebih erat. Jari-jarinya mengunci, seolah benar-benar enggan melepaskan.
Sorot lampu kamera masih mengikuti.
Nesya menoleh sekilas ke arah para tamu. Semua terlihat puas dan lega. Drama telah diselesaikan dengan solusi yang rapi.
Begitu pintu mobil tertutup dan sorakan di luar terdengar sayup, keheningan langsung menyergap.
Leo melepaskan genggamannya. Nesya menatap lurus ke depan, pura-pura tidak terganggu. Gaun putihnya terasa berat, seperti membawa sisa-sisa tatapan dan ekspektasi semua orang.
“Hari ini melelahkan,” ucapnya pelan, mencoba memecah sunyi.
Leo tidak langsung menjawab. Ia menatap keluar jendela, pantulan lampu kota berkelebat di wajahnya.
“Kamu puas?” tanyanya akhirnya.
Nada suaranya datar.
Nesya menoleh. “Puas?”
“Berhasil menjadi istriku.”
Kata itu tidak terdengar manis. Lebih seperti tuduhan yang dibungkus formalitas.
Nesya menghela napas pelan. “Aku tidak pernah ingin merebut posisi siapa pun.”
Leo tertawa pendek tanpa humor. “Tapi kamu tetap berdiri di sana.”
Mobil melaju di jalanan malam yang lengang. Lampu kota memantul di kaca jendela, membentuk bayangan samar di wajah mereka.
“Kalau aku tidak berdiri di sana, apa yang akan terjadi?” tanya Nesya pelan. “Keluargamu dipermalukan. Keluargaku ikut terseret. Semua orang akan punya cerita yang lebih buruk.”
Leo terdiam.
“Itu keputusan yang rasional,” lanjut Nesya. “Bukan ambisi.”
“Rasional?” Leo menoleh tajam. “Pernikahan bukan kontrak bisnis.”
“Bagimu mungkin bukan,” balas Nesya lirih. “Tapi malam ini… rasanya seperti itu.”
“Kita sudah resmi,” ujar Leo akhirnya, suaranya lebih rendah. “Apa pun alasannya.”
Nesya mengangguk pelan.
Mobil berbelok memasuki halaman rumah yang kini akan menjadi tempat tinggal mereka.
Leo membuka pintu lebih dulu, lalu menoleh ke arah Nesya. Untuk sesaat, dia terlihat ragu lalu mengulurkan tangan.
Nesya menyambutnya dan turun dari mobil meski sempat terkejut.
Ketika pintu rumah itu tertutup di belakang mereka, dunia luar berhenti menyaksikan. Malam itu… benar-benar sebuah permulaan bagi dua orang yang menikah tanpa cinta.