Bab 5 Baper?

942 Words
Mobil pengantin berhenti di depan rumah dinas Leo saat gerimis mulai turun. Langit malam tampak sendu. Lampu teras menyala redup, memantulkan bayangan dua orang yang baru saja resmi menjadi suami istri. Nesya membuka pintu mobil perlahan. Gaun pengantinnya terlalu panjang untuk langkah kecilnya. Hak tinggi yang ia kenakan membuatnya sedikit goyah saat menyentuh aspal yang basah. Leo sudah lebih dulu turun. Ia berdiri beberapa detik, menatap istrinya yang kesulitan menahan bagian belakang gaun agar tidak terseret air. Awalnya, ia hanya memperhatikan. Tanpa bergerak dan tidak berniat membantu. Namun, saat melihat Nesya berusaha berjalan sendiri dan ujung gaunnya mulai basah, Leo merasa bersalah. Sebuah payung terbuka di atas kepalanya. Nesya menoleh. Leo berdiri di sampingnya, memegang payung dengan satu tangan. Wajahnya tetap dingin. “Jangan sampai sakit. Aku tidak mau menjelaskan pada orang tuamu kalau kamu masuk rumah sakit di hari pertama menikah,” katanya datar. “Oh… terima kasih,” jawab Nesya pelan. Leo tidak menatapnya lagi. Ia hanya berjalan lebih dulu, memastikan payung itu tetap menutupinya sampai mereka mencapai pintu. Bukan perhatian, hanya sopan santun atau mungkin sekadar kewajiban. Nesya berusaha untuk tidak memasukkannya ke dalam hati agar tidak salah memahami tindakan Leo barusan. Pintu rumah terbuka. Begitu lampu dinyalakan, d**a Nesya terasa sesak. Ruang tamu itu luas dan rapi, modern dan terkesn minimalis. Namun hampir semuanya… biru. Sofa biru langit. Karpet dengan aksen biru lembut. Vas kaca dengan bunga berwarna biru pucat. Bahkan lukisan abstrak di dinding menampilkan gradasi biru yang menenangkan. Warna kesukaan Maria. Sejak dulu, Maria selalu menyukai biru langit. Katanya warna itu membuatnya merasa bebas. Sedangkan Nesya… Ia membenci biru. Namun kini ia berdiri di rumah yang seluruh napasnya terasa seperti ditujukan untuk Maria. Dia seperti manusia yang salah masuk, tetapi dia yang memilih ini. Terlalu terlambat untuk menyesal sekarang. Tatapannya bergerak perlahan ke rak foto. Di sanalah ia melihatnya. Foto Leo dan Maria sedang liburan di pantai. Maria tertawa lepas dalam balutan dress tanpa lengan. Leo berdiri di sampingnya, tersenyum tipis tapi nyata. Nesya menelan ludah. Ia adalah istri Leo yang sah, tapi rumah ini masih menyimpan bayangan wanita lain di setiap sudutnya. Leo menutup pintu dengan bunyi klik pelan. “Kamar tamu di sebelah kanan,” katanya tanpa basa-basi. “Kamu bisa pakai itu.” Nesya menoleh. “Kita… tidak tidur di kamar yang sama?” tanyanya hati-hati, meski sudah tahu jawabannya. Tatapan Leo tetap lurus. “Kamu lupa? Kita menikah tanpa cinta.” Ia berjalan melewati ruang tamu tanpa melihat kembali foto-foto itu. “Barang-barangmu bisa menyusul besok atau lusa. Untuk sementara, kamu bisa pakai pakaian yang sudah ada.” Nesya terdiam. “Pakaian… yang sudah ada?” Leo berhenti sebentar. “Yang sudah disiapkan untuk Maria.” “Tinggimu hampir sama. Harusnya muat,” imbuhnya saat melihat Nesya hanya diam. Nesya mengangguk pelan. “Baik.” Tidak ada protes atau keluhan. Leo tidak akan mendengarkan apapun sekalipun dia melakukannya. Jadi, dia hanya bisa menerima. Ia melangkah menuju kamar tamu. Saat melewati ruang keluarga kecil, matanya kembali menangkap satu foto besar yang tergantung di dinding. Leo berdiri di belakang Maria, kedua tangan melingkari pinggang wanita itu. Ekspresi Leo di foto itu terlihat lembut. Tidak seperti tatapan dingin yang ia berikan padanya sekarang. Nesya berhenti sejenak lalu tersenyum kecil pada dirinya sendiri. Ini memang bukan rumahku. Pintu kamar tamu tertutup perlahan. Di luar, Leo berdiri sendiri di ruang tengah. Untuk sesaat, ia menatap foto-foto itu lalu mengalihkan pandangannya ke arah lorong tempat Nesya menghilang. Ada sesuatu yang terasa… tidak nyaman. Namun ia segera mengusirnya. Ini hanya pernikahan sementara. Dua tahun atau sampai Maria kembali. Di kamar tamu yang bernuansa netral itu, Nesya duduk di tepi ranjang dengan gaun pengantin yang belum ia lepas. Nesya berdiri di depan lemari yang baru saja ia buka. Deretan pakaian tergantung rapi. Dress tanpa lengan. Gaun dengan belahan paha. Atasan dengan potongan punggung terbuka. Rok ketat warna biru, biru muda, biru langit. Tidak ada satu pun yang terasa seperti dirinya. Semua seperti selera Maria. Ia menyentuh salah satu gaun satin tipis berwarna biru muda. Itu terlalu terbuka menurutnya, tapi ia tidak punya pilihan. Dengan napas pelan, ia mulai membuka resleting gaun pengantinnya sendiri. Gaun itu memiliki resleting panjang di belakang. Ia berusaha meraihnya. Terlalu tinggi. Ia mencoba lagi. Gaun itu terlalu ketat di bagian badan, membuatnya kesulitan bergerak. Beberapa menit berlalu. Tangannya mulai pegal. Akhirnya, dengan sedikit ragu, ia membuka pintu kamar. Leo sedang berdiri di lorong, melepas jam tangannya. “Ada apa?” tanyanya tanpa menoleh. “Aku… butuh bantuan.” Leo berhenti bergerak. Beberapa detik sunyi. Tidak ada yang bersuara. “Resletingnya tidak bisa kubuka sendiri,” lanjut Nesya pelan. Leo mendengus tipis, jelas tidak senang. Namun ia tetap melangkah masuk ke kamar tamu. Nesya berdiri membelakanginya. Rambutnya yang terurai menutupi sebagian punggungnya. Leo mendekat satu langkah. Cukup dekat untuk mencium aroma samar parfum yang berbeda dari Maria. Bukan wangi manis yang menyengat. Tangannya terangkat. Jari-jarinya menyentuh ujung resleting. Sentuhan itu membuat Nesya menahan napas. Leo menariknya perlahan ke bawah. Suara gesekan kain terdengar pelan di antara keheningan kamar. Resleting turun. Gaun itu sedikit terbuka memperlihatkan punggung putih yang mulus di bawah cahaya lampu. Kulitnya bersih. Tanpa noda dan tanpa aksesoris, berbeda dari Maria yang gemar memakai rantai tipis di punggung. Leo terpaku sepersekian detik. Punggung itu… bukan punggung yang biasa dia lihat. Justru karena itu, terasa asing sekaligus mengganggu. Tanpa sadar, jarinya bergerak, menyentuh punggung itu dengan jari telunjuk. "Akh..." Nesya mendesah perlahan. Sensasi dingin di kulit punggungnya membuatnya memekik pelan membuat Leo tersadar. Mereka saling menatap. Entah salah lihat atau bukan, tetapi wajah Leo memerah. Nesya bahkan merasakan detak jantungnya seperti akan meledak. Mata mereka terus bertatapan dan jarak di antara wajah mereka semakin menyempit. "Nesya..."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD