Bab 6. Terusir

1480 Words
"Ngapain kamu kemari?" pertanyaan dengan nada ketus itu membuat Ranum mendongak. Segera bangkit dari duduknya, wanita itu mendekat kearah Ratih. "Bu." Uluran tangan Ranum menggantung di udara cukup lama. Saat Ratih mengabaikan niatnya untuk menyalami wanita paruh baya itu. Alih-alih membalas uluran tangan sang mantan menantu. Ratih justru bersedekap dengan raut masam. Menebalkan sabar. Ranum coba menepikan rasa tak nyaman atas sikap Ratih yang seakan menunjukan rasa tak suka secara terang-terangan atas kedatangannya. "Ibu apa kabar?" "Ck! Ah, sudahlah. Kamu itu tidak perlu kebanyakan basa-basi. Langsung saja ke intinya. Ngapain pagi-pagi udah nongkrong di rumah saya?" "Maaf, jika mungkin, kedatangan saya membuat Ibu kurang nyaman." "Itu kamu tau. Jangan ganggu anak saya yang sudah bahagia sama kehidupan barunya." Cibir Ratih pada sang mantan menantu. "Tapi Mas Seno masih punya tanggung jawab atas dua putrinya. Punya keluarga baru, bukan berarti Mas Seno bisa lepas tangan." Balasan yang Ranum berikan membuat ketidak sukaan Ratih kian meningkat. Mengurai tangannya yang tadi bersedekap. Wanita paruh baya itu menunjuk Ranum. "Heh! Jangan asal bicara. Anak saya orang yang bertanggung jawab. Buktinya dia masih mau mengirim uang bulanan untuk anak-anak kamu." "Memang benar. Tapi selain uang, anak-anak kami juga butuh perhatian Mas Seno." "Anak kamu sudah besar. Masih saja serakah mengemis perhatian sama Mas Seno." Kali ini Elina yang menanggapi ucapan Ranum. "Bandingkan dengan putra kami yang masih kecil. Jadi sangat wajar, kalau anakku lebih butuh banyak perhatian dari ayahnya. Ketimbang anak-anak kamu." Ranum beralih menjatuhkan atensi pada wanita yang sudah memporak-porandakan rumah tangganya. "Kamu tidak perlu ikut campur. Ini urusan saya dengan Mas Seno." "Heh! Yang sopan kalau bicara sama menantu saya." Ratih segera pasang badan untuk Elina. Merasa tak terima atas sikap Ranum pada menantu barunya. "Enak saja saya tidak boleh ikut campur! Mas Seno sekarang suami saya. Sementara kamu apa? Cuma mantan. Sudah jelas, saya yang lebih berhak atas Mas Seno." "Tapi anak-anak saya pun masih memiliki hak atas ayahnya. Kamu tidak bisa serakah, memonopoli Mas Seno hingga membuatnya menelantarkan kedua putrinya." "Ranum!" Wajah Ratih memerah terjamah amarah. "Jangan menyudutkan Elina. Harusnya kamu ngaca! Semua hal sulit yang sekarang kamu terima itu, akibat ulah kamu sendiri. Jangan mengkambing hitamkan orang lain. Sana introspeksi diri! Sudah bagus Seno menawari kamu untuk dimadu. Elina bahkan berbesar hati menjadi istri kedua. Tapi apa? Kamu terlalu sombong! Menolak mentah-mentah dan dengan angkuh meminta bercerai pada Seno. Terbukti kan sekarang omongan saya? Tanpa anak saya, hidup kamu blangsak." Ratih memecah tawa yang disahuti Elina. Ranum sudah kebal dengan kata-kata pedas yang sering Ratih lontarkan padanya. Bahkan sedari dirinya masih menyandang status sebagai menantu wanita paruh baya itu. Jika bukan karena kepentingan putrinya. Ia pun enggan menginjakan kaki ke rumah ini lagi. Terlebih, pelakor itu pun kini tinggal di sini. "Berhenti merongrong Seno. Kerja sana! Jangan cuma ongkang-ongkang kaki, minta jatah transferan sama anak saya. Seno sekarang punya anak dan istri yang jadi tanggungannya. Kamu itu sudah bukan tanggung jawabnya lagi." "Tapi anak kami—" "Cih! Kamu selalu menjadikan anak-anakmu sebagai alasan memeras Seno." "Saya tidak pernah memeras Mas Seno." "Dan kamu kira saya percaya?!" "Saya tidak akan memaksa Ibu untuk percaya. Karena sedari dulu, apa pun yang saya lakukan pasti selalu salah di mata Ibu." "Oh, jadi kamu anggap saya semena-mena?" Elina mengusap lengan Ratih, sembari melempar pelototan kearah Ranum. "Heh! Kamu itu sungguh keterlaluan. Sama Ibu pun tidak bisa berlaku sopan. Padahal, walau sudah jadi mantan mertua, tetap harus hormat." "Itulah Lin, kedoknya sekarang udah lepas. Jadi wujud aslinya makin kelihatan setelah dilepeh sama Seno. Kalau saja tak ingat dengan dua anaknya yang masih dibiayai Seno. Perempuan itu sudah jadi gelandangan sekarang." "Ibu tidak perlu khawatir. Uang dari Mas Seno untuk anak-anak, sepenuhnya saya tabung. Dan hanya digunakan jika ada keperluan mereka." "Kalau sekadar omongan saja, semua orang juga bisa. Padahal duitnya habis kamu belanjain yang nggak-nggak, 'kan? Terus sekarang ludes. Makanya kamu datang ke sini pagi-pagi, mau pasang muka melas depan Seno biar dikasih uang lagi." "Saya ke sini bukan untuk meminta uang." Memunguti kesabarannya yang tercecer, ketika berkonfrontasi dengan Ratih dan Elina. Ranum berusaha keras agar tak terhasut hingga membuatnya hilang kendali. Mencoba untuk tetap mengingat tujuan awalnya mendatangi kediaman mantan suaminya. "Safa kecelakaan. Mas Seno tak bisa dihubungi. Maka dari itu saya datang ke sini untuk mengabari langsung." "Mas Seno sedang keluar kota. Dia memang lagi sibuk-sibuknya. Jadi wajar tidak menanggapi hal remeh-temeh yang hanya akan membuang waktunya." Elina segera membalas. Mencuri pandang pada sang mertua. Ia memberi kedipan penuh arti pada Ratih yang sempat terheran-heran dengan ucapannya mengenai Seno yang di klaim tengah berada di luar kota. Padahal jelas-jelas pria itu masih berada di rumah ini. Memilih untuk mensukseskan kebohongan menantunya, Ratih mengangguk dengan raut wajah yang coba ia tampakan terlihat meyakinkan. "I—itu benar. Apa yang Elina katakan memang benar. Seno sedang ada di luar kota." "Kapan Mas Seno kembali, Bu?" "Masih lama. Orang perginya juga baru kemarin sore. Ya ... paling cepat mungkin semingguan." "Lalu kenapa Mas Seno tidak bisa dihubungi? Nomornya selalu saja tidak aktif." Tentu saja. Karena nomor Ranum sudah Elina blokir diam-diam, tanpa sepengetahuan Seno. Lalu sengaja merubah nomor mantan istri suaminya itu hingga Seno berpikiran jika Ranum sudah ganti nomor. Karena saat dihubungi, yang menerimanya adalah orang lain yang tak dikenal. Lalu, setiap kali pria itu hendak menengok dua putrinya. Elina akan mencari cara untuk menggagalkannya. Ia enggan berbagi perhatian Seno. Sekali pun dengan dua anak tirinya itu. Takut mereka akan menjadi jembatan penghubung antara Seno dengan Ranum, yang bisa saja bersatu kembali. "Ck! 'Kan udah dibilang tadi. Mas Seno sibuk. Kalau nggak penting-penting amat ya mending diskiplah! Daripada nambahin beban pikiran." "Putri kami bukan beban. Mas Seno ayah kandungnya. Jadi dia berhak tahu kondisi Safa sekarang." "Makanya yang bener jagain anak. Gitu doang nggak becus!" Dengkus Ratih. "Bu, memangnya saya mau dapat musibah semacam ini? Kalau pun bisa. Lebih baik saya saja yang terluka. Tidak dengan anak-anak saya." Sungguh! Ranum tak habis pikir. Apa tak ada seujung kuku pun rasa simpati yang bisa Ratih beri untuk cucunya sendiri? Apa hanya karena anak Ranum bukan cucu laki-laki yang didamba Ratih, jadi wanita paruh baya itu sama sekali tak peduli? Elina mendekatkan wajah ke telinga Ratih, sembari melirik Ranum, lalu mulai berbisik di telinga mertuanya. "Bu, kita harus segera mengusir perempuan ini. Sebelum Mas Seno turun. Jika tidak, maka kebohongan yang tadi kita buat akan berakhir kacau." Benar juga. Bisa gawat kalau Seno muncul tiba-tiba. Berdeham-deham, Ratih mengangkat dagu sembari menatap Ranum dengan sinis. "Sudah dengar kan, kalau Seno sedang di luar kota? Jadi lebih baik, sekarang kamu pergi. Jangan merusak pagi kami yang indah ini." Ranum jelas kecewa. Tak bisa mengabari Seno perihal putri bungsu mereka yang tengah menjalani perawatan di rumah sakit. "Apa Ibu ada rencana menjenguk Safa?" Bagaimana pun, putrinya cucu Ratih juga, 'kan? Jadi seharusnya wanita paruh baya itu ikut dijamah cemas mengetahui cucunya terluka. Sayangnya, harapan yang baru saja Ranum pupuk harus berakhir sirna. Ketika penolakan secara gamblang dari Ratih yang kemudian di dapatkannya. "Saya sibuk. Lain kali saja jika ada waktu luang." Mengibas-ngibaskan tangan sambil lalu, Ratih menggelengkan kepala. "Mohon maaf, Bu. Tapi saya mengajak Ibu untuk menjenguk Safa. Bukan mengajak bertamasya. Jadi, bagaimana mungkin Ibu bilang perlu mencari waktu luang?" Sebagai mantan menantu. Ranum jelas tahu kegiatan wanita paruh baya itu. Bisa dibilang, ada banyak waktu luang yang dimiliki Ratih. Jadi kesibukan yang tadi digembar-gemborkan, tak lebih dari sebatas alasan. "Kamu kok maksa? Ya terserah saya dong. Mau jenguk atau nggak?" "Maaf, Bu. Saya tidak bermaksud memaksa. Tapi apa salahnya menjenguk cucu sendiri? Kondisi Safa cukup parah. Walau sekarang sudah berangsur membaik. Tak apa jika Ibu tak pernah menyukai saya. Tapi tolong, perlakukan Kamila dan Safa dengan adil. Mereka juga cucu Ibu." "Heh! Kamu kenapa jadi menyudutkan mertua saya?" Elina menatap geram. Merangsek maju, ia kemudian menarik paksa tangan Ranum. "Lo bebal ya? Dibilang Ibu nggak mau ya jangan maksa. Nggak usah ganggu-ganggu kami lagi." Ranum memberontak, berusaha melepaskan diri dari Elina yang mencengkram kasar pergelangan tangannya hingga terasa perih. Tapi Ratih justru ikut membantu sang menantu baru menyeret Ranum keluar dari rumah itu. Ranum tersungkur usai di dorong kasar oleh dua wanita beda usia yang kini menyeringai puas menatap ketidak berdayaannya. "Enyah sana! Jangan mengotori rumah saya. Dasar tidak tahu malu. Sudah dicerai Seno masih mengemis perhatian sama dia." "Ya gimana Bu? Dia 'kan benalu. Mungkin gagal menggaet pria lain yang bisa dia poroti. Makanya gangguin Mas Seno lagi." Decih Elina, sebelum kemudian memasang raut muram. "Bu, pokoknya aku nggak mau ya, dia kembali jadi istri Mas Seno. Walau dulu aku sempat bersedia dimadu. Kali ini aku nggak mau! Apalagi dia yang jadi istri keduanya Mas Seno." "Ih, ya nggaklah, Lin. Ibu nggak sudi. Seno juga mana mau mungut dia lagi? Udah, ayo masuk. Lebih baik kita sarapan daripada mengurusi perempuan itu." Dengan senyum sumringah. Elina menyambut ajakan Ratih. Keduanya kembali memasuki rumah. Meninggalkan Ranum yang menatap kepergian mereka dengan sorot penuh kemarahan. Karena harga dirinya kembali dicabik-cabik.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD