"Saya tahu ini situasi sulit. Tapi sebisa mungkin, kamu harus tetap tenang." Damar sadar, tak ada kata penghiburan yang bagus untuk Ranum saat ini. Ketika perasaan kalut tengah menghantamnya. Tapi setidaknya, ia harap wanita itu tak merasa sendirian.
Setibanya di Rumah Sakit. Dan berhasil mengetahui ruang rawat putri kedua Ranum. Mereka bergegas menuju ke sana.
Saat pintu ruang rawat terbuka. Tangis Ranum pecah seketika. Bersahutan dengan tangis seorang wanita paruh baya yang menghambur kearahnya.
"Maafin Ibu, Num. Nggak becus jagain Safa. Semua gara-gara Ibu."
Ranum tak bisa menumpahkan kesalahan sepenuhnya pada ibu pemilik kontrakan yang selama ini berbaik hati bersedia menjaga kedua putrinya tanpa pamrih.
Mengurai pelukan, dengan pipi basah teraliri air mata. Wanita paruh baya itu menarik napas panjang. Mencoba memunguti ketenangannya yang koyak. "Ibu ajak anak-anak beli es krim di seberang jalan dekat kontrakan. Saat sedang bayar, Safa luput dari pengawasan. Kata Mila, adiknya ingin beli balon yang ada di seberang. Sudah coba ditahan tapi Safa lari karena jalanan agak lengang. Dikiranya mungkin nggak ada kendaraan, tapi tiba-tiba ada mobil. D—dan akhirnya Safa tertabrak. Tadi sempat bantu bawa ke rumah sakit. Ibu nggak bisa salahkan sepenuhnya karena Safa yang duluan menyeberang tiba-tiba. Sekarang nggak tau orangnya kemana? Ibu panik mikirin Safa."
"Saya juga salah, Bu. Tidak bisa menjaga anak-anak sampai harus merepotkan Ibu."
"Num, kamu nggak boleh bicara begitu."
Mengusap pipi basahnya dengan punggung tangan, Ranum menjatuhkan pandangan kearah ranjang rawat yang kini di tempati putrinya. "Aku mau lihat Safa."
"S—silakan, Num."
Mengayunkan langkahnya yang memberat. Ranum memangkas jarak hingga akhirnya tiba di samping ranjang rawat putri keduanya.
Lagi. Tangis wanita itu pecah. Melihat tubuh kecil itu terbaring di sana dengan beberapa luka yang menyayat hatinya.
"Bunda." Seorang gadis mendekat kearah Ranum. Tapi coba ditahan wanita paruh baya yang berada di sampingnya.
"Mila sama Ibu dulu ya, Nak. Bunda sedang tengokin adek."
"Nggak mau!" Menggelengkan kepala dengan kencang hingga kunciran rambutnya bergoyang. Gadis itu masih merengek meminta perhatian Ranum. Menarik-narik ujung pakaian sang ibu agar mendapat perhatiannya.
Beralih pada putri pertamanya. Ranum menyambut uluran tangan Kamila yang meminta gendong padanya.
"Maaf ya Bunda. Kakak nggak bisa jaga adek."
"Ini bukan salah Kakak." Hati Ranum terenyuh karena putri sulungnya sampai harus digerogoti perasaan bersalah akibat insiden yang menimpa adiknya.
Damar yang memerhatikan sejak tadi merasa tak bisa hanya memposisikan diri sebagai penonton. Ada rasa iba yang menjamah hatinya. Melihat Ranum yang cukup kewalahan harus membagi perhatian pada dua putrinya.
Maka dari itu, alih-alih pamit undur diri usai mengantar Ranum ke rumah sakit. Damar justru mendekat pada Kamila. Bergabung bersama ibu dan anak yang tengah berinteraksi.
"Halo cantik," sapa Damar dengan raut ramah. "Om boleh kenalan?"
"Om siapa?" Mengejap bingung, Kamila menatap Damar dengan sorot penasaran. Meneliti sosok asing yang baru ditemuinya.
"Om teman Bunda kamu."
"Teman Bunda?" beo gadis itu. Mengernyitkan kening, Mila segera mengkonfirmasi pada Ranum. "Benar, Bunda? Om itu teman Bunda?"
Menoleh pada Damar sejenak. Pria itu hanya merespon dengan menaikan satu alis mata. Seolah menunggu balasan macam apa yang akan Ranum beri pada Kamila?
Memaksakan senyuman saat kembali bertatapan dengan sang putri. Ranum berdeham pelan. "I—iya, Om itu, teman Bunda," jawabnya kikuk. Tak mungkin mengelak karena Damar sudah lebih dulu memperkenalkan diri sebagai temannya di depan Kamila. Jika ia memberi penyangkalan. Putrinya bisa heran.
Usai mendengar balasan dari Ranum. Kamila kembali menjatuhkan atensi pada Damar. Memperhatikannya dengan sorot malu-malu tapi penasaran.
Damar yang menyadari itu mengulum senyum. Sebelum kemudian kembali mengajak bicara anak pertama Ranum. "Jadi, apa boleh Om tau nama kamu?" tanyanya sembari mengulurkan tangan.
Tak segera menjawab. Kamila beralih menatap Ranum. Seolah meminta pendapat sang ibu. Saat Ranum mengangguk, Kamila baru berani menerima uluran tangan Damar. "Kamila, Om."
"Kamila? Cantik sekali. Seperti pemilik namanya."
"Makasih. Om siapa?"
"Om?"
"Ya. Nama Om siapa?"
"Nama Om, Damar."
"Bagus namanya."
"Terima kasih cantik. Kamu pandai memuji. Om jadi merasa keren." Damar mengusap pelan kepala Kamila. Membuat gadis itu terkikik. "Kamu suka kelinci?" pertanyaan tak terduga yang Damar lontarkan membuat perhatian Kamila kembali terarah padanya.
"Kok Om tau?"
"Itu." Damar menunjuk jepitan rambut bergambar kelinci, begitu juga pernak-pernik lain yang dikenakan gadis itu. Seperti kaus serta sandal motif kepala kelinci.
"Gigi Mila juga kayak kelinci." Memamerkan gigi depannya, gadis itu mulai antusias berbincang dengan Damar.
"Ah, pantas saja, Mila menggemaskan seperti kelinci. Gendong sama Om ya? Mau? Kita lihat kelinci lucu dari ponsel Om."
"Jangan, nanti merepotkan," tolak Ranum dengan sopan. "Terima kasih sudah mengantar saya ke sini. Anda bisa pulang sekarang."
"Kamu mengusir saya?"
"B—bukan begitu. Tapi, anda pun pasti punya kesibukan lain."
"Saya mau istirahat sebentar sebelum kembali berkendara. Daripada memaksakan diri dan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan di jalanan. Bukankah akan lebih berbahaya?"
"Kalau begitu, anda bisa istirahat. Kalau Mila merecoki, nanti anda terganggu."
"Tidak. Sama sekali tak merasa begitu. Iya kan, cantik? Mila mau sama Om?"
Ranum mengejap kaget karena putrinya menyambut uluran tangan Damar. Tanpa paksaan, gadis itu dengan suka rela berpindah gendongan pada pria asing yang baru dikenalnya kurang dari satu jam.
"Tenang saja. Saya tidak akan menculik anakmu."
"S—saya tak ada pemikiran ke sana."
"Baguslah, itu artinya kamu cukup percaya. Saya jadi merasa lega. Padahal tadinya saya kira ada tampang-tampang penculik. Jadi patut dicurigai." Gurau Damar, sebelum kemudian menjatuhkan atensi pada gadis kecil yang mulai menodongnya dengan banyak pertanyaan perihal kelinci. Hewan yang selama ini begitu digemari.
"Mila mau punya kelinci. Tapi oma larang dan marah-marah sama Bunda."
"Oma hanya menunda sampai Mila sudah cukup besar. Biar bisa ikut rawat kelincinya, Sayang," elak Ranum. Tak ingin Kamila menilai buruk neneknya. Sekali pun hubungannya dengan Ratih tak terlalu baik. Tapi Ranum tak ingin kedua putrinya tak menyukai neneknya sendiri. Wanita paruh baya itu akan semakin memojokan dan memberi tuduhan pada Ranum. Sudah membawa pengaruh buruk pada kedua putrinya.
"Tuh, Bunda bilang boleh. Tapi tunggu nanti. Ayo, kita nonton kelinci lucu sama Om."
Tak bisa dielakkan, jika Ranum merasa terbantu dengan keberadaan Damar. Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit. Pria itu cukup hati-hati memberikannya kata-kata penenang. Membuat Ranum tak sekalut sebelumnya. Dan sekarang, tanpa diminta. Lagi-lagi pria itu melakukan inisiatifnya sendiri. Kali ini mengambil perhatian putri pertamanya. Padahal Kamila bukan tipe yang mudah akrab dengan orang baru. Sewaktu bersama ibu pemilik kontrakan saja, butuh penyesuaian yang cukup lama sampai akhirnya bisa dititipkan pada wanita paruh baya itu.
Karena putri pertamanya sudah ditangani Damar, Ranum bisa fokus sepenuhnya pada putri bungsunya. Teringat sesuatu, ia bergegas meraih ponselnya untuk menghubungi Seno. Sebagai seorang ayah, pria itu perlu tahu kondisi anak mereka.
Sayangnya, hingga panggilan ketiga yang coba Ranum lakukan. Seno tetap tak menanggapi telepon darinya.
Apa pria itu sedang sibuk? Hingga panggilan Ranum terabaikan olehnya. Atau mungkin, mantan suaminya memang enggan menanggapi telepon darinya?
***
"Nyonya, ada Non Ranum."
"Apa?" Raut wajah Ratih seketika berubah keruh. Usai mendengar nama yang selalu berhasil mengusik pendengaran dan merubah suasana hatinya menjadi buruk. "Ngapain dia ke sini?"
"Non Ranum mencari Den Seno."
"Siapa yang cari Mas Seno, Bu?"
"Eh, Lina?" Mendapati kedatangan menantunya, Ratih bergegas menghampiri. "Seno dan cucu Ibu mana?"
"Mas Seno masih di kamar, Bu. Lagi mandi. Kalau cucu Ibu baru selesai dimandikan sama baby sitternya. Mungkin masih siap-siap. Aku turun duluan, dan nggak sengaja dengar si Mbok bilang ada yang cari Mas Seno."
Mengangguk, Ratih kemudian memberi senyuman menenangkan. "Ada mantan istri Seno di luar. Tapi kamu tenang saja. Biar Ibu yang urus wanita itu."
"Dia mau apa ke sini, Bu?"
"Paling minta duit. Apalagi?"
"Ck! Tidak tahu malu. Bukannya sudah tidak menjadi tanggung jawab Mas Seno?"
"Ya begitulah. Makanya dari dulu Ibu tidak pernah suka sama Ranum. Cuma Seno terlalu keras kepala. Maklum, waktu itu dia lagi kasmaran, jadi susah dibilangin. Berkeras mau mempersunting Ranum yang hanya bermodal cantik doang. Keluarga pun nggak jelas asal-usulnya. Untung ... saja, sekarang Seno sudah disadarkan. Dan itu semua berkat kamu. Bikin Seno lepas dari benalu dan memberi cucu laki-laki buat Ibu."
Mengukir senyum pongah, Elina kian tinggi hati karena terus Ratih guyur dengan berbagai puja-puji.
"Aku mau ikut ke depan, Bu."
"Loh, ngapain? Sudah, biar Ibu saja yang urus Ranum."
"Aku kan sekarang istrinya Mas Seno, Bu. Jadi punya andil buat usir wanita yang mengganggu suamiku."
Memecah tawa bangga, Ratih menepuk-nepuk pundak Lina. "Baiklah, ayo kita enyahkan parasit itu sama-sama."
Mengangguk penuh semangat, Elina mengiringi langkah mertuanya. Siap melakukan konfrontasi pada mantan istri suaminya.