"Wanita itu calon istri yang selama ini kamu gembar-gemborkan di depan mama?"
"Bukan."
"Iya!"
Ranum dan Damar membalas serempak. Membuat wanita itu mengernyit bingung. Menatap sejoli yang baru saja memberi jawaban berbeda pada satu sama lain.
"Yang benar yang mana?" Decak wanita itu kesal.
"Kami sedang ada sedikit perselisihan. Jadi, tolong Mbak kasih pengertian," pinta Damar berusaha melepaskan diri dari interogasi sang kakak. Jihan—wanita itu hanya berbeda dua tahun dengannya.
"Dam, mama drop lagi."
"A—apa? Kok bisa?"
Menghela napas gusar. Wanita itu kemudian merogoh tasnya, mengambil sebuah amplop yang kemudian diserahkan pada Damar. "Gara-gara itu, mama langsung histeris terus nggak sadarkan diri."
Apa yang ditemukannya dari dalam amplop tersebut membuat Damar terbelalak. "S—Siapa yang memberikan semua ini sama mama?"
"Nama pengirimnya tidak ada. Waktu mama buka, isinya foto-foto kamu bersama pria asing. Dengan angle yang tampak mesra. Gara-gara itu juga, semua orang jadi berspekulasi, kalau keengganan kamu untuk menikah selama ini, karena memang tidak suka perempuan."
"Apa?! Omong kosong macam apa itu, Mbak?!"
Mengedikan bahu tak acuh, Jihan mengipasi wajahnya dengan tangan. Mulai mengeluh karena harus berpeluh. Dijamah terik matahari yang kian menyengat. "Apa tidak bisa mencari tempat lain yang lebih nyaman untuk bicara?"
"Tidak sekarang. Lebih baik Mbak pulang duluan saja. Nanti aku menyusul menengok mama."
Alih-alih mengikuti apa yang Damar minta. Wanita itu justru memangkas jarak dengan Damar, sebelum kemudian menyambar lengan Ranum tiba-tiba. Hingga membuatnya tertarik maju.
"Wanitamu Mbak sita. Setidaknya dia cukup berguna di situasi pelik seperti saat ini. Siapa tahu bisa membuat kondisi mama berangsur membaik."
"Mbak, dia sedang terluka."
Pernyataan Damar membuat Jihan meneliti kondisi Ranum. Dan memang benar. Ada beberapa luka di tubuh wanita itu. "Kamu apain sampe begini, Dam? Belum apa-apa udah bikin luka anak orang. Mbak nggak suka ya sama pria kasar."
"S—saya jatuh, Mbak." Bingung harus memanggil apa? Ranum akhirnya ikut memanggil Jihan dengan panggilan Mbak.
Merangsek maju, Damar berusaha mencegah Jihan membawa Ranum pergi. "Kami masih ada urusan yang belum selesai. Jadi tolong beri waktu. Setelah ini, aku akan menyusul menengok kondisi mama."
Meski enggan, Jihan akhirnya memberi anggukan. "Baik. Mbak akan tagih janji kamu. Awas saja kalau belum juga menampakan diri di rumah."
"Iya Mbak." Angguk Damar mencoba meyakinkan.
Sepeninggal Jihan yang telah berlalu dengan mobilnya. Damar menghela napas lega. Mengusap kasar wajahnya. Pria itu menyugar rambut. Mencoba mengurai sedikit ketegangan yang sempat terjadi.
Apa maksudnya ada yang mengirimi foto semacam itu pada ibunya?
Desakan perjodohan saja sudah membuat Damar pening. Sekarang ditambah isu lain jika ia tak menyukai perempuan.
"K—kalau begitu, saya permisi." Suara itu menyentak Damar. Membuatnya merutuki diri karena melupakan keberadaan Ranum.
"Tunggu. Soal yang tadi." Meringis, Damar mengusap kikuk belakang lehernya. "Saya minta maaf karena sudah menyeret kamu."
Tak menutupi rasa dongkolnya, Ranum tampak berekspresi keruh di depan Damar. "Saya tidak tau alasan Anda harus menciptakan kebohongan seperti itu. Tapi tolong, jangan libatkan saya."
"Ya, saya minta maaf. Tadi terlalu tiba-tiba dan situasinya begitu mendesak."
"Saya maafkan. Setidaknya untuk kali ini. Saya per—"
"Biar saya antar."
"Tidak perlu."
"Bukankah kita sudah bersepakat?"
"Kalau begitu, lupakan."
"Janji tetap janji. Saya benci orang yang tidak bisa menepati janjinya."
Menghela napas panjang. Ranum memejam sejenak. Memunguti ketenangannya yang berserakan ketika menghadapi kekeras kepalaan Damar. Enggan memperpanjang perdebatan, ia akhirnya memberi anggukan. "Baiklah."
Senyum Damar seketika merekah. Membukakan pintu depan bagian penumpang, ia persilakan Ranum masuk. Setelah memastikan wanita itu sudah duduk nyaman. Damar bergegas menyusul masuk menempati kursi kemudi. Menjalankan mobilnya menuju rumah sakit terdekat.
Berbeda dengan sebelumnya. Kali ini Damar membuka obrolan selama perjalanan berlangsung. "Saya minta maaf sekali lagi, karena sudah membuat kamu tidak nyaman."
"Harusnya Anda minta maaf pada wanita tadi yang sudah Anda bohongi."
Meringis, Damar menggaruk pelipis. "Hm, ya, ada alasan kenapa saya melakukan itu."
"Apa pun alasannya. Tidak ada pembenaran dalam sebuah kebohongan."
Mengetuk-ngetuk jari telunjuknya pada setir mobil, Damar berdeham. "Kamu tenang saja. Saya akan membuat alasan pada Mbak Jihan. Lagipula, saya masih cukup tahu batasan. Tak mungkin mengganggu istri orang."
"Siapa?"
"Kamu. Saya ingat, pertemuan pertama kita. Kamu sedang hamil." Refleks menjatuhkan pandangan pada perut Ranum yang kini telah rata. Damar segera mengalihkan tatapannya. Tak ingin dianggap kurang ajar. "Selamat."
"Untuk?"
"Kelahiran bayimu."
Mengukir senyum muram, Ranum menunduk sejenak menatap nanar bagian perutnya yang kini tak lagi dihuni putri ketiganya.
"Dia sudah berada di surga."
"A—apa?!" Damar terhenyak. Tak menutupi rasa terkejutnya. "Apa itu gara-gara saya?"
"Kenapa Anda berpikiran seperti itu?"
"Tentu saja saya mengira begitu. Bukankah kamu nyaris saya tabrak? Siapa tau, ada benturan yang luput dari pengetahuan saya?"
"Tidak. Kepergian putri saya sama sekali tidak ada hubungannya dengan insiden yang melibatkan kita."
"Sungguh?" Damar masih mencoba memastikan. Dan anggukan yang Ranum beri, ia coba anggap sebagai kebenaran. Lagipula, jika benar dirinya yang salah. Sejak awal pertemuan, Ranum pasti sudah mengamuk padanya, kan?
Setibanya di sebuah rumah sakit. Ranum segera mendapat penanganan. Padahal ia ingin segera pulang bertemu kedua putrinya. Membeli obat di apotek saja rasanya cukup. Karena lukanya tak terlalu serius. Tapi Damar bersikukuh membawanya ke Rumah Sakit.
Ketika akhirnya selesai. Mereka kembali melanjutkan perjalanan. Kali ini menuju kediaman Ranum yang terdengar berbeda dari sewaktu awal Damar mengantar. "Kamu pindah rumah? Maaf, bukannya saya bawel. Hanya ingin memastikan. Karena alamat yang kamu beritahukan berbeda dari yang waktu itu."
"Ya. Saya pindah, baru beberapa bulan."
Mengangguk, Damar tak lagi meributkan perihal kepindahan Ranum. "Nanti saya akan bantu jelaskan pada suami kamu. Dia pasti cemas melihat istrinya yang pulang penuh luka."
"Tidak perlu merepotkan diri. Saya sudah tidak punya suami."
Lagi. Damar dihantam rasa terkejut. Mendengar pengakuan Ranum. Kenapa ada banyak hal yang mengejutkan dipertemuan kedua mereka ini?
"M—maaf."
Mengukir senyum tipis, Ranum menanggapi dengan santai. "Tidak apa. Lagipula Anda 'kan memang tidak tau. Saya hanya menginformasikan."
Setelahnya, tak lagi ada obrolan. Damar memilih diam agar tak mengorek hal-hal sensitif yang tanpa sengaja ia pertanyakan pada Ranum.
Tiba di kontrakannya. Ranum segera melepas sabuk pengaman. Menoleh pada Damar dan mengucap terima kasih, sebelum akhirnya keluar dari dalam mobil pria itu.
Damar yang semula hanya memerhatikan kepergian Ranum. Tiba-tiba menyambar amplop coklat milik wanita itu yang ketinggalan. Lalu bergegas turun dari mobil.
"Hei, tunggu!"
Ranum yang baru menyentuh handle pintu, segera berbalik. Dan mendapati Damar yang telah menjulang di depannya. Membuat ia harus sedikit mendongak agar bisa bersitatap. "Ya?"
"Ini punyamu, kan?"
Menunduk, Ranum menerima amplop coklat yang sempat terlupakan. "Oh, terima kasih."
"Itu seperti lamaran kerja," tebak Damar tiba-tiba.
Mengukir senyum kecil, Ranum mengangguk tak mengelak, "memang benar. Ini amplop lamaran kerja saya."
"Kamu sedang mencari pekerjaan?" Selang satu detik melemparkan pertanyaan tersebut. Damar mengacak rambut dengan ringisan canggung. "Maaf, kadang suka refleks menanyakan hal yang sudah jelas jawabannya."
"Tidak apa-apa. Kalau begitu, saya permisi masuk dulu. Sekali lagi terima kasih sudah membawa saya ke rumah sakit dan mengantar hingga ke kontrakan. Padahal saya yang ceroboh, tidak hati-hati saat menyeberang."
"Sama-sama, tidak perlu sungkan." Melambai singkat, Damar berbalik dan menuju kearah mobilnya.
"MBAK RANUM!" teriakan seorang wanita yang tiba-tiba muncul, cukup memantik perhatian Damar yang sudah akan membuka pintu mobil.
Harusnya tak perlu peduli, itu bukan urusan Damar. Tapi raut panik yang terpampang di wajah wanita itu membuat Damar dijamah rasa penasaran.
"Mbak! Mbak Ranum!"
"Kenapa? Ada apa?" Meski belum tau, kabar apa yang hendak disampaikan oleh tetangga kontrakannya. Ranum ikut dibuat panik.
"Mbak, i—itu Mbak, anu, Safa—"
Mendengar nama putri keduanya membuat Ranum dikepung ke khawatiran. "Safa kenapa?! Apa yang terjadi sama putriku?!"
Mengais sisa ketenangan, wanita itu berusaha menjelaskan, "Safa ... kecelakaan, Mbak. Ketabrak."
"APA?!"
"Eh, Mbak!" Wanita itu panik saat Ranum nyaris ambruk, andai dirinya tak sigap menahan tubuh Ranum yang kini lemas. "Mbak nggak apa-apa?"
"A—anak saya di mana sekarang?"
"Rumah sakit, Mbak."
Usai mendapat alamat rumah sakit di mana putri keduanya dirawat. Ranum bergegas ingin pergi ke sana. Tapi kedua kakinya yang tiba-tiba gemetar dan pikirannya kacau, membuat Ranum yang kini seperti orang linglung. Tampak kesulitan mengambil tindakan.
"Saya antar." Damar tiba-tiba saja sudah muncul di depan Ranum. "Dan tolong jangan menolak. Situasinya tengah genting sekarang."
Mengejapkan matanya yang menyengat panas, Ranum kali ini tak melontarkan penolakan. Mengangguk setuju, ia bahkan tak menolak saat Damar menuntunnya memasuki mobil pria itu.
Pikirannya dijejali kecemasan pada sang putri yang kondisinya belum diketahui.
Tidak. Ranum mohon. Ia tak ingin kehilangan lagi.