Bab 3. Di Ujung Tanduk

1411 Words
"Bagaimana? Kamu bersedia dimadu?" Usai terperangkap senyap. Selepas Seno melontarkan keinginannya di depan Ranum. Pria itu mengajukan tanya dengan raut tak sabaran. Ingin segera mendengar jawaban sang istri. Tawa Ranum pecah. Wanita itu tergelak keras, hingga harus memeluk perutnya yang berdenyut nyeri. Respon tak terduga yang Ranum perlihatkan membuat Seno terheran-heran. Bagian mana dari kata-katanya yang terdengar lucu? Seno tak sedang membagi lelucon apa pun pada wanita itu. "Ranum. Berhenti tertawa," tegur Seno yang mulai tak senang. "Aku serius. Apa kamu bersedia dimadu?" Mengatur napasnya sembari mengusap sudut matanya yang basah. Ranum berusaha memunguti ketenangannya lagi. "Kamu masih tanya, Mas?" Menaikan satu alis mata. Senyumnya merekah, tapi berbanding terbalik dengan sorot matanya yang memantulkan kemarahan mendalam. "Tentu saja. Aku tidak sudi." Mengetatkan rahang. Seno jelas tak puas pada keputusan yang Ranum ambil. Dia merasa tertolak. "Aku sudah berbaik hati memberimu pilihan ini," geram Seno. "Terima kasih untuk kebaikan hatinya, Mas. Tapi aku tidak berminat membagi suamiku dengan pelakor." "Ranum! Jangan lancang. Kamu cuma sebatang kara. Jika bukan karena belas kasihanku. Mau bergantung pada siapa lagi, hah?" "Diriku sendiri." "Baik. Kita lihat, sejauh mana kamu bisa bertahan dengan keangkuhanmu itu?" ucap Seno sembari mendecih sinis. Bangkit dari duduknya, pria itu menatap remeh Ranum. "Padahal Elina sudah berbesar hati menjadi istri kedua. Dia tak mau merusak rumah tangga kita sampai harus adanya perceraian. Ikut memikirkan nasib kedua putri kita. Elina hanya meminta pertanggung jawaban berupa pernikahan, demi masa depan putra kami." Omong kosong macam apa yang tengah suaminya umbar saat ini? Berbaik hati tak ingin merusak rumah tangga mereka? Tapi wanita itu sampai hamil anak Seno? Bagian mana yang membuat Ranum harus menganggumi kebaikan hati pelakor itu? Mengangguk, Ranum memberi tepuk tangan singkat. "Baik hati sekali selingkuhanmu itu, Mas. Aku sungguh terkesan." Tak lupa mengumbar senyum sinis. Ranum menikmati raut jengkel di wajah Seno. Pujian yang Ranum lontarkan terdengar sangat menyebalkan. Jelas sekali. Jika wanita itu hanya ingin mengolok-olok. "Kalau kamu takut harus satu atap dengan Elina. Kamu tenang saja. Dia akan tinggal di rumah yang terpisah dengan kita. Tapi tentunya, akan ada pembagian hari. Di mana, kapan aku berada di sini, dan kapan aku harus berada di rumah yang di tempati bersama Elina." "Sebelumnya saja, waktumu untukku dan anak-anak sangat minim, Mas. Apalagi nanti? Ketika harus dibagi untuk wanita lain dan anak lelaki yang sedari dulu kamu dambakan?" "Kamu tenang saja. Aku akan bersikap adil," ucap Seno yang masih berusaha meyakinkan Ranum. Berharap bisa merubah keputusan sang istri. "Aku lebih percaya ada ikan yang bisa memanjat pohon kelapa, dibanding meyakini kamu bisa bersikap adil setelah menikahi pelakor itu, Mas." "Keras kepala!" "Memang." Ranum membenarkan sembari mengangguk. "Aku sudah lelah lahir-batin. Sisa kewarasanku tidak boleh dirampas. Karena masih ada dua putriku yang membutuhkan ibunya." "Apa maksud kamu dengan bicara seperti itu?!" Seno seketika merasa tersinggung. Ucapan Ranum tadi sudah menggores egonya. "Kita pisah saja. Tapi, kamu tidak boleh lepas tanggung jawab pada kedua putri kita. Aku mungkin akan menyandang status sebagai mantan istrimu. Tapi tidak dengan mereka. Karena tak akan pernah ada status mantan anak sampai kapan pun." "Baik. Tapi ingat, sekali pun kamu merangkak di bawah kakiku dengan cucuran air mata penyesalan, memohon agar kita bisa kembali bersama. Aku tidak akan pernah mau menerimamu lagi." "Tenang saja. Itu tidak akan terjadi. Aku tidak berminat menjilat ludah sendiri." Dengan rahang mengetat dan kedua tangan yang mengepal di masing-masing tubuh. Seno melengos, berderap cepat menuju pintu dengan gebukan kekesalan yang merongrongnya. Pria itu membanting pintu kamar dengan suara keras. Seolah ingin menunjukan pada Ranum akan kemarahannya. Sayangnya, tindakan tersebut tak memberi efek apa pun pada Ranum yang sudah mati rasa. Sementara di luar kamar. Seno sudah kembali bergabung bersama dua wanita beda usia yang menyambut kedatangannya dengan raut penasaran. "Gimana?" tanya Ratih sembari menimang bayi laki-laki. Yang sudah mendapat gelar sebagai cucu kesayangan. Usai mendudukan diri. Seno menghela napas gusar. Pria itu membungkuk, menumpukan kedua sikunya di atas paha, lalu menyugar rambutnya. Mencoba memunguti ketenangan lebih dulu. Setelah terlibat konfrontasi cukup sengit dengan Ranum tadi. "Seno?! Kok ya diem aja sih? Itu gimana si Ranum? Dia mau kan dimadu? Ck! Lagian ngapain sih repot-repot bilang ke dia kalau kamu mau menikahi Elina? Memangnya punya hak apa dia? Orang selama ini Ranum numpang hidup sama kamu. Dia mana berani minta cerai? Pasti takut jadi gembel." Menegakan posisi duduknya, Seno menatap Ratih dengan raut masam. "Ibu salah." "Hah? Salah apanya?" "Ranum tidak takut jadi gembel. Buktinya, dia lebih memilih kami pisah dibanding dimadu olehku." "Sombong sekali perempuan itu!" geram Ratih usai mendengar laporan putranya. "Yasudah, bagus kalau dia memilih enyah dari sini. Ibu juga sudah malas berurusan sama dia. Kasih cucu laki-laki saja tidak bisa." Elina menggigit bibir bawahnya. Berusaha menahan senyuman yang nyaris merekah. Dia harus menunjukan rasa simpati pada Ranum. Walau hatinya kini dijejali euforia kemenangan karena berhasil mendepak wanita itu. Dan akhirnya akan memiliki Seno sepenuhnya. "Ini semua gara-gara saya. Mungkin seharusnya, saya tidak pernah muncul dan memberitahukan perihal putra kami sama Mas Seno." "Loh, kok malah kamu yang merasa bersalah, Lin?" Ratih berusaha membesarkan hati calon menantu barunya. "Kamu nggak salah. Rumah tangga Seno memang sudah memburuk sejak lama. Sudah tau tidak harmonis, tapi selalu dipaksakan untuk bertahan. Sebagai orangtua, Ibu sungguh nggak tega. Syukurlah, berkat kamu. Seno bisa lepas dari istrinya yang toxic." Ketiganya tak menyadari. Ada sosok Ranum yang bersembunyi dan mendengar semua hal menyakitkan itu. Awalnya, Ranum ingin bicara dengan Seno. Mengingat pembicaraan sebelumnya, mereka tengah sama-sama dikendalikan oleh emosi. Siapa tau, Ranum bisa membujuk sang suami agar tak menikah lagi. Tak apa, jika ia harus menerima anak lain dari suaminya. Bayi itu tak bersalah. Yang salah adalah perbuatan Seno bersama selingkuhannya. Tapi usai mendengar obrolan tiga orang tadi. Keputusan untuk berpisah kembali menguat. Tak ada yang bisa Ranum pertahankan dalam rumah tangganya yang sudah porak-poranda. *** Ranum tak pernah menduga. Jika pernikahannya harus berakhir dengan perceraian. Demi kedua putrinya, Ranum kubur paksa semua kesedihannya. Kini, ia mulai menata kembali hidupnya yang baru. Meski Seno mengirimi uang bulanan untuk kedua putri mereka. Tapi sejak resmi bercerai. Baru sekali pria itu menampakan diri. Lihat? Adil apanya? Kabar terakhir yang Ranum dengar. Mantan suaminya tengah sibuk baby moon bersama keluarga barunya. Tak ingin ambil pusing. Ranum putuskan menyibukan diri dengan mencari pekerjaan. Enggan bergantung dengan uang bulanan yang diberikan mantan suaminya. Uang tersebut akan ia tabung, dan digunakan untuk kebutuhan kedua putrinya. Menyeka kening dan leher yang dibasahi keringat dengan punggung tangan. Ranum menggunakan amplop coklat berisi lamaran kerjanya sebagai kipas agar mengenyahkan gerah yang tengah menjamah. Di mana lagi ia harus mencari lowongan pekerjaan? Meski anak-anaknya ada yang menjaga. Kadang perasaan tak tega merayapi hatinya. Beruntung, pemilik rumah kontrakan yang kini di tempati Ranum bersama dua putrinya sangat baik. Wanita paruh baya itu merasa kesepian sepeninggal suaminya. Sementara anak-anaknya yang sudah berkeluarga tinggal di luar kota. Hanya sesekali datang berkunjung. Jadi, menemani kedua anak perempuan Ranum menjadi aktivitas baru yang sangat disenangi wanita paruh baya itu. Pikirannya yang tengah penuh membuat Ranum kurang memperhatikan sekitar. Hingga saat menyeberang, ia tak sadar ada sebuah mobil yang jaraknya sudah cukup dekat. Tubuh Ranum terserempet mobil tersebut. Membuatnya tersungkur. Mendesis menahan rasa sakit, ia dapati luka-luka pada siku dan lututnya. "Anda baik-baik saja?" tanya seseorang yang dilontarkan dengan nada panik. Membuat Ranum menoleh. Mungkin sadar salah bicara, pria itu meringis canggung. "Oh, maaf, pertanyaan saya tadi agak konyol. Mana mungkin kondisi Anda—tunggu." Pria itu mengernyit, berusaha mencongkel ingatan yang sudah tertimbun lupa. "Anda wanita yang dulu nyaris saya tabrak juga, kan?" "Apa?" Ranum mengejap bingung. Apa ini semacam modus penipuan? "Pertemuan pertama kita di parkiran rumah sakit. Saya pernah mengantar Anda pulang, sebagai bentuk menebus rasa bersalah karena Anda berkeras tak mau diperiksa setelah nyaris tertabrak mobil saya. Sama seperti yang terjadi hari ini." Terdiam, Ranum coba mengorek ingatan. Berbekal sepenggal informasi yang pria asing itu beri. Sampai akhirnya ... Ranum berhasil mengingatnya. Usai insiden yang melibatkannya dengan pria asing itu. Ranum justru mendapat insiden lain yang lebih mengerikan. Mungkin lebih baik saat itu ia benar-benar tertabrak saja. Agar bisa pergi bersama putrinya. Tunggu! Lalu bagaimana dengan dua putrinya yang lain? Ranum segera menggelengkan kepala. Mengenyahkan pikiran buruk yang tiba-tiba bercokol dalam benaknya. "Kepala Anda pusing?" "O—oh, tidak." Mencoba bangkit, Ranum meringis menahan rasa perih dari luka-lukanya. "Saya tidak apa-apa." "Maaf, tapi kali ini saya tidak percaya. Anda harus dibawa ke rumah sakit. Lihat? Luka-luka Anda terpampang nyata." Ranum sudah akan melontarkan penolakan, tapi suara lain sudah lebih dulu menginterupsi. "Jadi dia calon istri kamu, Damar?" Hah? Calon istri?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD