Bab 2. Menelan Kekecewaan

1347 Words
Hal pertama yang tertangkap penglihatan Ranum, adalah langit-langit ruangan berwarna putih. Ketika penciumannya menghirup aroma berbau obat-obatan. Kening wanita itu mengernyit. Mulai dijamah kejanggalan, atas keberadaannya saat ini. Mendesis menahan denyutan nyeri di kepala. Ranum berkejap-kejap. Berusaha memperjelas penglihatan yang sebelumnya masih memburam. Jantungnya bergemuruh ribut, ketika menemukan tangannya yang terpasang infus. Terlebih, saat kilas balik sebelum dirinya berakhir di sebuah brankar rumah sakit, berkelebat di kepala. Dengan tangan gemetar, Ranum meraba perutnya. Jantung Ranum rasanya meluncur jatuh. Ketika mendapati perutnya telah rata. Kemana bayinya? Anaknya belum seharusnya lahir! Atau mungkin, kondisi yang membuatnya lebih cepat melihat dunia? "Ck! Akhirnya sadar juga." Suara familiar itu membuat Ranum sontak menoleh kearah pintu. Menampakan sosok Ratih yang melenggang masuk. Diikuti Seno yang mengekor di belakang ibunya. "Saya kira kamu ikutan mati." "Bu," tegur Seno dan membuat Ratih menekuk wajah masam. "Apa sih Sen? Nggak usah sewot gitu. Ya 'kan Ibu cuma menduga. Abisnya Ranum lama banget sadarnya. Jadi wajar dong, kalau Ibu berpikiran dia bakal mati kayak anaknya." "Bu, tolong jangan bahas itu dulu. Ranum—" "Ibu kamu bohong 'kan, Mas?" Ranum menyerobot ucapan Seno. Pernyataan yang baru saja Ratih lontarkan kian membuatnya dipecut ketakutan. "Mana anak kita, Mas? DI MANA ANAKKU?!" "Telingamu bermasalah?" Ratih tersulut emosi, alih-alih bersimpati. "Saya kan sudah bilang, anakmu itu mati." "Pembohong!" "Eh, kurang ajar ya kamu. Beraninya—" "Bu, bukan saatnya ribut dengan Ranum. Dia baru saja sadar. Sebaikanya Ibu—" ucapan Seno tak terselesaikan karena Ranum tiba-tiba saja menjerit histeris. "KALIAN PEMBOHONG! KEMBALIKAN ANAKKU! KEMBALIKAN DIA! MANA PUTRIKU?! MANA?! TIDAK MUNGKIN DIA MATI!" Ratih mengejap kaget. Sebelum kemudian menggeser tubuh rentanya agar lebih menempeli putra semata wayangnya. Berharap mencari perlindungan, agar terhindar dari sang menantu yang kini tampak tak terkontrol. Takut menjadi sasaran amukan Ranum yang tengah hilang kendali. "Sen, Ibu takut. Jangan-jangan Ranum kesurupan." "Panggilkan Dokter, Bu." "Nggak mau, ah. Ibu takut." Menggeleng panik. Ratih mencengkram baju Seno. Tak ingin melepaskan diri dari putranya itu. Terlebih, di tengah situasi mencekam seperti sekarang. "Kalo gitu Ibu yang jaga di sini. Biar aku yang keluar cari Dokter." "Eh, kok malah gitu? Ibu tambah nggak mau. Kalau Ranum cekik Ibu gimana?" "Ya makanya, Ibu saja yang cari bantuan." "Ish! Ya kenapa nggak berdua aja sih perginya?" "Bu, aku takut Ranum nekat melukai diri sendiri jika ditinggal. Dia sedang tidak stabil sekarang. Jadi sebaiknya, harus tetap ada yang menunggu di ruangan ini untuk mengawasi." "Yaudah biar Ibu aja yang pergi! Ogah ditinggal berdua sama istri kamu yang lagi kayak orang kesurupan. Kalau tiba-tiba kena terkam gimana?" Meski enggan. Pada akhirnya Ratih menuruti apa yang Seno katakan. Wanita paruh baya itu bergidik melihat Ranum yang terus menjerit-jerit sembari memanggil putri ketiganya yang sudah tiada. Sepeninggal Ratih. Seno bergerak mendekati Ranum yang masih memuntahkan emosi. "Ranum. Tenang. Jangan seperti ini." Wanita itu menjatuhkan atensi pada sang suami. Tak lagi menjerit-jerit histeris mencari keberadaan putri ketiganya. Dengan napas memburu, wajah basah penuh air mata, dan rambut panjangnya yang kusut masai. Ranum melempar tatapan nyalang. Menahan rasa sakit yang menjamah tubuh serta hatinya yang remuk redam. Lalu, tanpa diduga, wanita itu tiba-tiba menyambar kerah baju Seno. Mencengkramnya erat hingga sang suami hampir tercekik. "Ranum!" Berusaha melepaskan diri. Seno agak kewalahan karena istrinya yang tengah dikepung amarah. "Sekarang puas?" desis wanita itu dengan mata nyalang memerah basah. Penuh kekecewaan dan luka mendalam pada pria di depannya. Putrinya yang malang akhirnya benar-benar pergi. Usai mendapat penolakan dari sang ayah dan neneknya sendiri. "Ranum, aku—" "Anakku ditolak oleh kalian, hanya karena dia seorang perempuan? Memangnya kamu bukan lahir dari seorang perempuan? Apa ibumu bukan perempuan?!" "Ranum—" "KEMBALIKAN NYAWA PUTRIKU! KEMBALIKAN!" "Jangan ngawur! Mana bisa seperti itu?" Seno kewalahan mengendalikan Ranum yang tengah dikepung kemarahan. Tenaga wanita itu bahkan menjadi lebih kuat darinya. Jika begini, bisa-bisa Seno dijadikan samsak hidup, sebagai pelampiasan ledakan amarah Ranum. Beruntung. Tak berselang lama. Ratih datang bersama seorang dokter dan perawat yang segera menangani Ranum. Seno bergegas mundur dengan baju kusut dan rambut semrawut, ketika akhirnya berhasil melepaskan diri dari cengkraman istrinya. Belum lagi beberapa luka cakaran yang diperolehnya dari amukan Ranum tadi. Menatap dokter dan perawat yang kini mengambil alih menangani sang istri. Ia beralih ke dekat Ratih. "Sepertinya Ranum sudah tidak waras. Bukankah dia bisa membahayakan kita? Gimana kalau sewaktu-waktu mengamuk seperti tadi?" bisik Ratih yang membuat perhatian Seno teralihkan. "Ranum hanya masih shock, Bu. Dia belum menerima kenyataan, jika anaknya tak terselamatkan." "Tidak ada salahnya antisipasi, Sen. Udahlah, pisah aja sama dia. Nikahi Elina. Kasihan putra kalian, nanti dia tidak memiliki orangtua lengkap." "Ranum baru saja keguguran, Bu. Bagaimana bisa sudah membahas pernikahan dengan Elina? Lalu, gimana sama dua cucu perempuan Ibu, kalau aku pisah sama Ranum? Bukankah kalau kami pisah, itu artinya mereka pun tak lagi memiliki orangtua lengkap?" balasan yang Seno beri membuat Ratih bungkam dengan raut kecut. "Yaudah kalau gitu solusinya gimana sekarang? Kan kamu yang bikin perkara duluan. Udah tau punya istri, tapi hamilin wanita lain." "Bu." Seno refleks memelotot. Takut jika ucapan Ratih tertangkap pendengaran dokter serta perawat yang tengah menangani istrinya. "Nanti saja bahasnya. Jangan di sini. Malu. Untuk sekarang, fokus dulu sama Ranum." "Kamu aja yang urus." Decak Ratih dongkol. Sebelum kemudian berbalik hendak pergi. Tapi ayunan langkah pertamanya terinterupsi oleh pertanyaan Seno. "Ibu mau kemana?" "Ke tempat Elina. Kangen mau nengokin cucu laki-laki Ibu." Usai menyampaikan hal tersebut. Ratih melenggang meninggalkan ruang rawat menantunya yang masih tengah berduka karena kehilangan putri ketiganya. *** Mata sembapnya nyaris sulit dibuka. Entah berapa banyak air mata duka yang Ranum tumpahkan? Tapi tetap saja. Masih belum mampu mengangkat sesak yang bercokol di hatinya. Andai Ranum tak lalai saat itu. Andai Ranum tak bertengkar di pertengahan anak tangga dengan Seno. Andai Ranum sedikit lebih sabar untuk menuntut penjelasan dari suaminya. Andai—entah apalagi? Karena semua pengandaian itu kini tak berguna. Tak akan mampu mengembalikan putrinya. Tidak. Ini bukan salahnya. Tapi gara-gara suami dan pelakornya. Dua orang itu yang membuat akal sehatnya tertutupi kemarahan. Sampai lupa untuk menjaga diri, padahal tengah mengandung putri ketiganya. Ranum tiba-tiba memecah tawa. Diiringi lelehan air mata yang kembali menganak sungai, membasahi kedua pipinya. Ketika dia sadar, tengah meratapi dukanya sendirian. Sementara suami dan ibu mertuanya sekadar bersimpati ala kadarnya. Sebelum kemudian beraktivitas seperti biasa. Seolah calon anak ketiga Ranum tak memiliki arti apa-apa bagi keduanya. Tak ada raut sedih yang menghiasi wajah dua manusia itu. Membuat Ranum kian tertohok kekecewaan. Ratih bahkan lebih tak punya hati. Sejak mengetahui memiliki cucu laki-laki. Sekali pun dari selingkuhan anaknya. Wanita paruh baya itu tetap menyambut penuh suka cita. Hingga abai pada dua cucu perempuannya. Suara pintu kamar yang terbuka, tak membuat Ranum menolehkan kepala. Wanita itu tetap memeluk lututnya. Duduk di sofa dekat jendela. Menatap hampa dunia luar dari dalam kamarnya. "Mau sampai kapan begini?" Suara Seno mengusik pendengaran Ranum. "Aku tau kamu kehilangan anakmu. Tapi tidak dengan menarik diri begini. Pikirkan juga anakmu yang lain." Anakmu? Sudut bibir Ranum terangkat membentuk senyuman geli. Pernyataan itu seolah-olah Seno tak memiliki andil pada anak-anak mereka. "Mau menangisi bagaimana pun. Anakmu tidak akan bisa kembali. Dia sudah tenang di sana." Menoleh dengan raut muak. Ranum menatap Seno yang sudah berdiri di dekat sofa yang tengah ia duduki. "Kamu benar. Lebih baik putriku pergi," ucapan Ranum membuat Seno mengukir senyum lega. Mengira jika Ranum akhirnya termotivasi oleh kata-katanya tadi. Tapi apa yang kemudian wanita itu ucapkan, membuat senyum di wajah Seno lenyap tak berbekas. "Daripada dia terabaikan seperti kedua kakaknya. Karena ayah dan neneknya terobsesi memiliki anak laki-laki." "Ranum!" Suara Seno meninggi. Siap memuntahkan emosi. Tapi, ketika ingat tujuannya mendatangi sang istri. Akhirnya ia coba redam kekesalan yang sempat merayapi. Berdeham-deham, pria itu kemudian mengambil tempat duduk di bagian kosong samping Ranum. "Aku tau sudah melakukan kesalahan besar yang sulit dimaafkan. Tapi, putraku tak seharusnya menanggung kebencian darimu. Atau pun orang lain. Karena dia tak tau apa-apa." Mengusap belakang lehernya, Seno berusaha mengendapkan kegundahannya. "Ranum, aku ingin bertanggung jawab." "Apa yang ingin kamu pertanggung jawabkan, Mas?" "Putraku. Maka dari itu. Aku akan menikahi Elina. Apa kamu bersedia untuk dimadu?" Ranum membeku. Apa yang Seno katakan seolah menambah luka baru. Membuat kondisi hatinya kian babak belur.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD