Salju turun semakin deras, menyelimuti marmer putih Katedral Duomo dengan lapisan dingin yang mematikan. Rania berdiri menggigil, tangannya mendekap erat tas ransel kecilnya. Di depannya, Dante Moretti berdiri dengan keanggunan seorang predator.
"Kakakmu sudah berada di Jeddah, Rania," ucap Dante. Suaranya terdengar lembut, namun ada nada dingin yang tersembunyi. "Dia aman. Tapi kau? Kau adalah masalah besar bagi otoritas Italia dan klan Valenti."
Rania menatap mata Dante, mencoba mencari kejujuran yang ia harapkan. "Tuan berjanji akan membantu saya pulang. Itu sumpah Anda."
Dante melangkah maju, melanggar batas jarak tiga langkah yang ditetapkan Rania. Rania segera mundur, namun punggungnya membentur pilar batu katedral yang dingin.
"Aku akan membantumu pulang," bisik Dante, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang licik. "Tapi tidak sekarang. Kau adalah saksi kunci yang bisa menghancurkan klan Valenti di pengadilan internasional. Jika aku menyerahkanmu ke polisi atau membiarkanmu pulang, aku kehilangan kartu as-ku."
Rania tertegun. "Jadi... Tuan juga menahan saya?"
"Aku 'melindungimu', Nona. Itu kata yang lebih halus," sahut Dante. "Valenti menculikmu karena kesalahan, tapi aku menahanmu karena kebutuhan. Kau adalah sandera paling berharga yang pernah jatuh ke tanganku."
Dante mengangkat tangannya ke arah kemegahan Kubah Duomo. "Aku bersumpah di bawah rumah Tuhan ini, aku tidak akan membiarkan Valenti menyentuhmu. Tapi sebagai bayarannya, kau harus tetap di bawah pengawasanku. Kau akan tinggal di villa rahasiaku di Danau Como."
Rania merasa dadanya sesak. Gadis lulusan Madrasah itu menyadari bahwa dia bukan diselamatkan, melainkan hanya berpindah kandang dari serigala satu ke serigala lainnya. Dante sengaja tidak membiarkan Rania menghubungi Yusuf agar Rania tetap merasa "butuh" perlindungannya.
"Tuan Dante," suara Rania bergetar, namun matanya tetap tajam menatap dari balik cadar. "Ayah saya mengajari bahwa sumpah yang diucapkan dengan niat licik adalah hutang yang akan ditagih di akhirat. Anda mungkin bisa menahan raga saya, tapi Anda tidak akan pernah bisa mengendalikan saya."
Dante hanya tertawa kecil, suara tawanya ditelan oleh angin badai. "Kita lihat saja, Rania. Di Milan, prinsip tidak akan memberimu kehangatan, tapi kekuasaanku bisa."
Dante memberi isyarat kepada anak buahnya yang bersiaga di kegelapan alun-alun. Sebuah mobil van hitam mendekat tanpa suara, seperti peti mati berjalan di atas salju.
"Masuklah. Dan jangan coba-coba lari. Salju ini akan mencatat setiap langkahmu, dan anak buahku jauh lebih cepat daripada doa-doamu," ancam Dante dengan tenang.
Rania menggenggam tasbihnya di dalam saku hingga buku jarinya memutih. Ia menyadari satu hal: untuk menghadapi mafia yang licik, ia tidak bisa hanya mengandalkan doa. Ia harus menggunakan siasat yang lebih cerdik daripada yang pernah ia pelajari di buku mana pun.
Pintu geser van hitam itu tertutup dengan dentum berat yang memutus suara badai salju di luar. Seketika, suasana menjadi sunyi yang mencekam, hanya menyisakan deru mesin mobil yang halus dan aroma kulit jok yang bercampur dengan bau obat-obatan dari luka Dante.
Rania duduk di pojok paling belakang, merapatkan abayanya agar tidak sedikit pun menyentuh pria bersenjata yang duduk di bangku tengah. Dante duduk di hadapannya, dipisahkan oleh meja kecil berisi layar monitor yang memantulkan cahaya biru ke wajahnya yang pucat namun bengis.
"Kita akan ke mana, Tuan?" tanya Rania. Suaranya rendah, berusaha menyembunyikan getaran ketakutan.
Dante tidak menoleh. Jemarinya yang panjang menari di atas layar, memantau pergerakan musuh melalui satelit. "Ke sebuah tempat di mana salju tidak akan pernah membiarkanmu meninggalkan jejak kaki, Nona. Sebuah villa di pegunungan Alpen, dekat perbatasan."
Rania menyadari satu hal: mobil ini kedap suara dan jendelanya tidak bisa ditembus cahaya dari luar. Namun, ia tidak membiarkan rasa paniknya menang. Sebagai lulusan Madrasah yang terbiasa menghafal ribuan ayat dan pola kaligrafi, ia mulai mengaktifkan indranya yang lain.
Ia menutup matanya di balik cadar. Ia tidak perlu melihat jalan, ia hanya perlu merasakan.
Satu tikungan tajam ke kanan—jalanan menurun.
Bunyi ban yang berubah dari aspal ke paving blok—daerah pemukiman tua. Detak jarum jam di dasbor mobil. Ia menghitung setiap detik di dalam hatinya. Ia sedang memetakan rute pelariannya sendiri, sebuah siasat yang tidak disadari oleh Dante.
"Kau sangat tenang untuk ukuran seorang sandera," ucap Dante tiba-tiba, memecah keheningan. Matanya yang dingin menatap Rania tajam. "Atau kau sedang berdoa agar Tuhanmu menjatuhkan petir ke mobil ini?"
Rania membuka matanya, menatap balik pria itu dengan keberanian yang lahir dari kepasrahan. "Saya tidak mendoakan celaka untuk Anda, Tuan. Saya hanya mendoakan agar janji Anda di bawah kubah Duomo tadi tidak menjadi pemberat langkah Anda di pengadilan Tuhan nanti."
Dante tertawa getir. "Tuhan tidak punya urusan di Milan, Rania. Di sini, hanya ada Moretti dan Valenti."
Saat mobil berguncang melewati lubang, tas ransel Rania terjatuh. Butiran tasbih kayu yang tadi sempat ia kumpulkan berserakan di lantai van. Salah satu anak buah Dante hendak memungutnya, namun Rania segera mengangkat tangan.
"Jangan! Jangan sentuh barang saya!"
Pria itu terhenti karena kewibawaan dalam suara Rania. Rania menunduk, memunguti butiran kayu itu satu per satu. Namun, ini bukan sekadar memungut. Dengan gerakan yang sangat cepat dan halus, ia sengaja menjatuhkan tiga butir tasbih ke dalam celah di bawah kursi van—sebuah jejak rahasia jika suatu saat kakaknya atau pihak berwenang menemukan mobil ini.
"Kau sangat menghargai kayu murah itu," gumam Dante melihat Rania mengumpulkan sisa tasbihnya.
"Bagi Anda, ini kayu murah. Bagi saya, ini adalah pengingat bahwa di mana pun saya berada, saya tidak pernah sendirian," jawab Rania sambil memasukkan kembali tasbihnya ke saku.
Tiba-tiba, mobil berhenti mendadak. Suara pintu gerbang besi yang berat terbuka terdengar di depan.
"Kita sudah sampai," ucap Dante sambil berdiri. "Selamat datang di penjara emasmu, Rania. Ingat, jangan pernah mencoba lari. Hutan di sekitar villa ini dipenuhi jebakan yang jauh lebih kejam daripada uap panasmu."
Rania melangkah keluar dari van, disambut oleh hawa dingin Alpen yang menggigit. Di depannya, sebuah bangunan batu besar berdiri kokoh, terisolasi dari dunia luar. Ia tahu, babak baru dalam siasat ini baru saja dimulai.
Villa itu berdiri seperti benteng bisu di lereng pegunungan Alpen yang terjal. Dinding batunya yang kasar tertutup lumut beku, dan jendela-jendelanya kecil seperti mata yang mengawasi. Dante berjalan di depan, langkahnya masih sedikit menyeret akibat luka di bahu, sementara Rania mengikuti dengan jarak lima langkah, menjaga agar ujung abayanya tidak menyentuh bayangan pria itu.
Begitu mereka masuk, aroma kayu ek tua dan lilin menyengat indra penciuman Rania. Tidak ada kemewahan modern; tempat ini terasa seperti tempat persembunyian kuno yang dibangun untuk bertahan dari pengepungan.
"Ini kamar Anda," ucap Dante, berhenti di depan sebuah pintu kayu jati yang tebal di lantai dua. "Tidak ada kunci di luar, tapi ada penjaga di setiap sudut koridor. Jika Anda butuh sesuatu, tekan bel di samping tempat tidur. Tapi jangan pernah berpikir untuk keluar tanpa izin saya."
Rania tidak langsung masuk. Ia berdiri di ambang pintu, matanya dengan cepat memindai ruangan. Kamar itu cukup luas, dengan perapian kecil dan sebuah jendela besar yang menghadap langsung ke arah hutan cemara yang tertutup salju.
"Tuan Dante," panggil Rania sebelum Dante berbalik pergi. "Anda bilang kakak saya aman di Jeddah. Jika memang begitu, biarkan saya mendengarkan suaranya. Sekali saja. Itu satu-satunya cara agar saya bisa mempercayai Anda."
Dante berhenti. Ia memutar tubuhnya perlahan, menatap Rania dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara kekaguman pada keberanian gadis itu dan rasa haus akan kontrol.
"Kepercayaan adalah kemewahan yang tidak bisa kuberi sekarang, Rania," jawab Dante dingin. "Lagipula, jalur komunikasi di sini sedang diputus untuk alasan keamanan. Bersabarlah. Jika kau kooperatif, mungkin besok aku akan mempertimbangkannya."
Begitu pintu ditutup dan langkah kaki Dante menjauh, Rania segera bergerak. Ia tidak menangis. Baginya, air mata hanya akan mengaburkan pandangan yang ia butuhkan untuk tetap hidup.
Ia mendekati jendela. Angin Alpen melolong di luar, memukul-mukul kaca dengan butiran salju yang tajam. Ia melihat ke bawah; jaraknya sekitar lima meter dari tanah—terlalu tinggi untuk melompat, terutama dengan salju yang menutupi kemungkinan adanya batu tajam di bawah sana.
Namun, perhatiannya teralih pada sebuah benda kecil yang tergeletak di meja samping perapian: sebuah pemantik api perak milik Dante yang tertinggal, dan di sampingnya terdapat sebotol minyak lampu untuk penerangan darurat.
"Dia pikir saya hanya gadis kecil yang takut gelap," bisik Rania pelan.
Rania mengingat satu hal yang pernah diceritakan kakaknya tentang kode darurat. Jika ia tidak bisa menelepon, ia harus mengirim sinyal. Ia tahu bahwa di kaki gunung ini terdapat sebuah desa kecil atau mungkin pos penjaga perbatasan.
Rania mengambil kain mukena putihnya dari tas. Dengan hati-hati, ia merobek sedikit bagian pinggirnya. Ia membasahi kain itu dengan minyak lampu, lalu melilitkannya pada sebuah pipa besi kecil yang ia temukan dari rak perapian.
Ia mematikan lampu kamar, membiarkan ruangan tenggelam dalam kegelapan. Ia menyalakan pemantik api. Nyala api kecil itu memantul di matanya. Ia berdiri di depan jendela, namun tidak menyalakan kainnya secara terus-menerus. Ia mulai menutup dan membuka api itu dengan telapak tangannya, menciptakan pola kedipan yang beraturan.
Tiga kedipan pendek. Tiga kedipan panjang. Tiga kedipan pendek.
S-O-S.
Ia tidak tahu siapa yang akan melihatnya—apakah polisi, penduduk desa, atau bahkan anak buah klan Valenti. Tapi bagi Rania, siapa pun yang datang lebih baik daripada terus terperangkap dalam "perlindungan" licik Dante Moretti.
Tiba-tiba, suara kunci pintu diputar dari luar. Rania dengan cepat memadamkan api dan menyembunyikan kain berminyak itu di bawah tempat tidur tepat saat pintu terbuka.
Dante berdiri di sana, memegang sebuah nampan berisi makanan. Matanya menyapu ruangan yang gelap. "Kenapa lampunya mati?" tanyanya curiga.
Rania berdiri tegak, tangannya memutar tasbih di balik saku. "Saya lebih terbiasa berbicara dengan Tuhan dalam kegelapan, Tuan. Cahaya di sini terasa... palsu."