Pintu yang Terkunci.

1336 Words

​Koridor lantai tiga gedung utama universitas sore itu terasa jauh lebih sunyi dari biasanya, seolah-olah seluruh aktivitas akademik sengaja menarik diri untuk memberikan ruang bagi takdir yang sedang berdenyut kencang di depan sebuah pintu kayu jati yang kokoh. Kairi Takemi berdiri mematung di sana, napasnya terasa pendek dan panas, meninggalkan uap tipis yang ia rasakan sendiri di balik bibirnya yang pucat. Tubuhnya masih mengirimkan sinyal-sinyal peringatan; rasa dingin yang menusuk hingga ke sumsum tulang beradu dengan gelombang panas demam yang membuatnya merasa seakan kepalanya sedang ditekan oleh beban tak kasat mata. Ia merapatkan pelukan pada draf skripsi di dadanya, kertas-kertas itu kini sedikit lembap karena keringat dingin yang terus merembes dari telapak tangannya. ​Dunianya

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD