Udara di koridor gedung Fakultas Ekonomi pagi itu terasa jauh lebih menggigit daripada biasanya, atau mungkin itu hanya perasaan Kairi Takemi saja. Gadis itu berjalan dengan langkah yang diseret, jemari tangannya yang mungil mencengkeram erat tali tas ranselnya yang sudah mulai pudar warnanya. Setiap langkah yang ia ambil terasa seberat timah, seolah-olah lantai marmer kampus yang dingin sedang berusaha menyedot sisa-sisa energi yang ia miliki. Kepalanya berdenyut dengan irama yang menyakitkan, sebuah simfoni rasa sakit yang berpangkal dari tengkuk hingga ke pelipisnya, membuat pandangannya sesekali mengabur dan berbayang. Kairi berhenti sejenak, bersandar pada pilar beton besar di dekat pintu masuk ruang kuliah umum. Ia memejamkan mata, mencoba menstabilkan napasnya yang terasa panas d

