08

1833 Words
-- Magrib baru saja lewat, dan Mika tidak menyukai kesunyian area perumahan Keluarga Angkasa. Tidak ada adzan berkumandang serta keramaian yang ditingkahi dari orang-orang yang pulang kerja atau anak sekolahan yang juga pulang telat sebelum magrib. Maka Mika sengaja menyetel adzan sebagai alarm pada lima waktu yang sesuai. Ia tidak suka rumah yang bernuansa suram ini. Rasanya seperti memasuki dunia film horor yang biasanya sang tokoh utama pindah rumah ke area terpencil demi mendapatkan rumah dengan harga yang murah. Tak jauh berbeda darinya yang memang mengharapkan warisan ayah kandungnya itu dan mau repot-repot pindah ke kota kecil di Jawa Barat ini. Mika sudah berniat akan membuka koper-kopernya selepas isya. Namun ia duduk cukup lama di lantai yang dingin. Meringis karena bengkaknya semakin menjadi saja. Juga merasa ragu untuk mengeluarkan barang-barangnya. Ia menoleh ke pintu jendela balkon yang tidak tertutup tirai, menampakan kegelapan di luar sana. Namun pemandangan balkonnya tampak indah dengan pot-pot tanaman dan bunga mekar. Lampu-lampu balkonnya menyala terang. Tak jauh dari balkon kamarnya, di tengah-tengah halaman luas itu terdapat kolam air mancur yang juga memiliki lampu-lampu kecil, bersinar redup dalam kegelapan di tengah halaman. Mika tidak suka tirai pintu balkon terbuka. Tapi ia juga tidak suka ketika tirai itu tertutup dan menampakkan bayang-bayang pot-pot tanaman yang tampak membesar di tirai. "Ah, masa bodo," gumam Mika yang segera bangkit berdiri, menarik kruk yang bersandar di ranjang, lalu berjalan mendekati pintu jendela balkon. Ia pun menarik tirai, menutupnya sempurna. Benar saja, bayangan pot tanaman menempel di tirai dengan ukuran dua kali lipat lebih besar. Menyeramkan. Mika berusaha membiasakan diri. Tadi siang tirai jendelanya memantulkan bayangan sosok raksasa yang rupanya bayangan Nata. Nata tidak mungkin kembali ke balkon kamarnya pada saat malam hari kan? Mika kembali ke lantai di depan kopernya. Sekali lagi ia masih ragu mengeluarkan semua barang-barangnya. Jika ia mengeluarkan barang-barangnya, lalu menatanya, itu artinya ia benar-benar telah menyatakan diri sebagai pemilik kamar ini. Apakah dia benar-benar berniat akan tinggal di sini? Bodoh. Mau bagaimana lagi? Dia dan Henry sudah sepakat untuk menjalani hidup baru ini. Mereka sudah keluar dari kos lama mereka yang luas itu. Sekarang Henry tinggal sendirian di kos baru yang sempit dan murah. Jika Mika mundur, mustahil ia kembali dan tinggal bersama Henry dengan kos satu kamar. Mereka tidak punya uang untuk mencari kos yang lebih besar untuk tempat tinggal berdua. Tentu Henry akan mengalah dan memilih mendaftar ke asrama rumah sakit. Tidak, dia harus menerima kehidupan barunya. Lagi pula ini adalah haknya. Ia diberikan warisan oleh ayah kandungnya. Tidak peduli jika ia tidak pernah bertemu dengan pria bernama Louis itu, tetap saja Louis memiliki tanggung jawab besar untuk kesejahteraan putri kandungnya ini. Mika menarik dua bingkai foto. Foto pertama adalah foto keluarganya. Ia yang baru berusia 13 tahun dan ibunya yang pada saat foto itu diambil masih terlihat sangat sehat. Hari itu Farhan resmi menjadi ayah tirinya, dan Henry yang berusia empat tahun lebih muda darinya tampak manis dan tampan. Ia mengira hubungan Ibunya dan Farhan benar-benar resmi, namun kenyataannya tidak begitu. Ibunya, Hanna, tidak pernah benar-benar menikah dengan Farhan. Mereka berdua mengenakan cincin imitasi sebagai tanda perkawinan palsu mereka. Tentunya saat itu Hanna sudah mengira akan meninggalkan Mika dikarenakan penyakit kankernya yang sudah parah. Ia mencari pria yang dapat dipercayakan untuk menjaga Mika yang masih belia. Maka Farhan lah pilihan terbaiknya. Farhan juga bukan pria asing. Mika dan ibunya sudah bertetangga dengan Farhan sejak mereka pindah di Jatinangor, ketika itu Mika berusia delapan tahun dan Henry berusia empat tahun. Farhan juga seorang single parent karena istrinya telah meninggal setelah melahirkan Henry. Farhan sebenarnya pria yang sangat baik namun dia memiliki penyakit suka berjudi. Meski suka berjudi Farhan tidak pernah kurang ajar pada wanita mana pun, mungkin itulah penyebab Hanna mempercayai Farhan sebagai pria dewasa yang dapat menjaga Mika ketika ia tidak mampu lagi berada di sisi Mika. Figura kedua adalah foto Mika dan Herny, sudah dewasa tentu saja, tepatnya pada saat wisuda Henry. Henry yang bertubuh tinggi dan tampan mengenakan kostum wisuda. Mereka berdua tersenyum bahagia bersama saat itu. Mika bisa mengingat rasa bangganya karena Henry dapat lulus dengan nilai sempurna. Henry akan menjadi dokter terbaik, pikir Mika yakin. Melihat ketampanan Henry, mau tidak mau ia teringat dengan Nata. Ia sebenarnya tidak begitu memperhatikan wajah orang-orang. Setiap orang memiliki keunikan tersendiri. Kebaikan adalah yang paling dicari-cari oleh Mika. Tapi terkadang ia harus mengakui jika Tuhan menurunkan cobaan dengan menciptakan makhluk-Nya yang tidak dapat kita elakkan sebagai manusia rupawan. Contohnya seperti Henry, Nata, dan untuk wanita seperti Nadia dan Fleur. Kadang Mika hanya iseng membanding-bandingkan pria tampan mana saja dengan adik tirinya. Bahkan ia berani membandingkan boygroup Korea paling tampan dengan Henry, dan Henry selalu menang di matanya. Tapi kali ini, ia menemukan pria tampan lainnya dan sedikit menggeser Henry. Nata memiliki ketampanan yang berbeda, ia sulit menjelaskan kepada dirinya sendiri. Tapi mata yang besar dan iris yang cokelat terang itu, struktur wajah Nata tegas namun ekspresinya polos dan menenangkan. Apalagi suara Nata yang tipis-tipis berat. Mika menggeleng-gelengkan kepala. Heran kepada dirinya sendiri yang bagaikan seorang yang bekerja sebagai analisis ketampanan pria saja. Tapi penilaiannya masih terus berlanjut dengan kurang ajarnya. Henry adalah pemuda berpendidikan dan lulus dari fakultas kedokteran yang sekarang sedang menjalankan program profesinya. Sementara Nata adalah pria tampan yang bekerja sebagai tukang kebun dan pelayan serabutan di dalam Keluarga Angkasa. Kontras sekali. Ponselnya berdering memecahkan kesenyapan di dalam kamar, sukses membuat Mika terperanjat kaget. Ia mengusap-usap dadanya sambil menerima panggilan itu. Dari Henry, ia tersenyum bahagia melihat nama Henry menari-nari di layar ponselnya. Pasti Henry sudah pulang dan berebah di atas ranjang kos baru itu. "Assalamualaikum..." Sapa Mika dan dibalas oleh suara Henry yang riang. "Kok udah kedengaran ceria?" Tanya Henry, nada suaranya terdengar heran. "Perasaan tadi siang ngomel-ngomel." "Yah, mau bagaimana lagi?" Mika mengedikkan bahu tanpa sadar. "Kamu lupa kalau aku lumayan jago dalam beradaptasi di mana aja." "Tunggu aja sampai ada panggilan dari cewek yang nangis-nangis karena sudah nggak tahan di sana," ledek Henry di seberang sana. "Eh, seenaknya ya..." Kata Mika jengkel, namun tidak tersinggung. Henry memang tempatnya berkeluh-kesah. Bahkan ia tidak akan malu menangis sampai ingusnya meler di depan Henry. Karena hanya Henry satu-satunya yang ia miliki di dunia ini. Bahkan meski ia memiliki keluarga kaya raya ini, hanya Henry seorang yang paling ia percayai. "Bagus deh kamu nggak sedih lagi." Kata Henry. "Aku cemas seharian mikirin kamu." "Hehe, sori ya bikin cemas." "Ada yang mau diceritain?" Tanya Henry, terdengar baru saja menguap. Mika merasa ragu untuk menceritakan banyak hal yang terjadi dalam satu hari ini. Namun Henry kedengaran tampak lelah. Ia tidak ingin menambah beban pikiran Henry dengan masalahnya sendiri. "Aku nggak lelah. Ceritain aja," Henry seolah tahu yang dipikirkan Mika. "Bagaimana kakimu?" "Sudah lumayan," Mika berbohong karena bengkak di kaki terkilirnya semakin membesar. "Tenang saja. Ada dr. Laurie. Aku dikasih obat pereda sakit dan salep untuk bengkak. Ohya, kamu kenal dr. Laurie nggak?" "Dr. Laurie?" Ulang Henry. "Belum pernah dengar sih." "Coba deh cari, pokoknya yang namanya ada embel-embel Angkasa, kemungkinan itu keluarga ayah kandungku. Oh ya, dokter itu juga punya anak di fakultas kedokteran UNPAD. Namanya Gerald, pasti ada Angkasa-nya juga." "Gerald?" Ulang Henry. "Ada satu anak yang namanya Gerald, satu tingkat di bawahku. Orangnya rese." "Kayaknya anak yang sama deh. Muka anaknya si dokter itu menyebalkan. Dia disuruh bantuin kakiku tapi nggak mau." "Ngeselin ya? Yang begituan mau jadi dokter. Cih." Henry tidak tahan mengutarakan kekesalannya terhadap anak-anak kaya yang sombong dan mudah mengambil jurusan kedokteran, sementara Henry perlu mendaftar beasiswa sana-sini demi cita-citanya itu. "Yakin nggak mau aku datang ke sana?" Tanya Henry. "Kasih deh alamatnya. Kalau ada masalah aku segera ke sana." "Jangan deh," kata Mika tidak enak. Tidak bisa ia bayangkan Henry melupakan pekerjaannya di rumah sakit gara-gara mendengarkan tangisan kakak tirinya yang dirundung oleh keluarga kakaknya. Sebab Henry pernah melakukan hal konyol semacam itu. Mika ingat pada saat Henry sedang ulangan pertengahan semester di kelas dua belas, Mika yang sedang menstruasi hari pertama sakit dan pingsan di kantor. Sang adik tiri begitu saja datang ke kantor ketika mendapat berita itu, meninggalkan kertas ulangannya, yang untungnya sudah ia kerjakan 80% dan benar semua. Ckck. "Aku sudah dewasa, Hen." Kata Mika, ia bangkit berdiri lalu merebahkan diri di atas ranjang. "Keluarga Angkasa ini aneh. Tapi mungkin mereka baik karena mau repot-repot mencariku. Mereka sebut aku anggota keluarga yang hilang." Ia cekikikan. "Justru itu yang membuatku khawatir," kata Henry. "Mereka baru mau repot-repot mencarimu karena ayah kandungmu itu menyebut namamu di dalam surat wasiat ahli waris. Apa benar semua harta warisan itu diberikan ke kamu?" Henry memang berada di sana menemani Mika ketika Lenka datang dan memberitahu perihal masalah keterlibatan Mika sebagai ahli waris. "Masalah itu akan dibacakan Sabtu malam nanti dengan notaris yang berwenang," kata Mika. "Aku bertemu lagi dengan Tanteku yang bernama Lenka itu, dia tidak mau membahasnya." "Mereka nggak akan mau bahas," kata Henry. "Sebab kamu adalah ahli waris, Kak. Kayaknya kakak sulung mereka itu benar-benar lebih kaya dari mereka. Siapa tahu mereka iri sama kamu. Jadi hati-hati aja deh. Warisan itu uang dan kekuasaan yang bisa menggelapkan mata banyak manusia." Mika malah cekikikan mendengarkan peringatan Henry yang tampak begitu serius. "Aku serius, loh." Kata Henry dengan nada jengkel. "Aku khawatir." "Iya... Iya..." Mika menahan nada suaranya agar tidak terdengar geli. Bisa dibilang ini pertama kalinya Mika dan Henry berpisah jauh. Tapi ia mengerti sikap protektif Henry kepadanya sebagai saudara. "Jadi benar istri ayah kandungmu itu muda banget?" Tanya Henry kemudian. "Iya. Sebaya sama aku. Cantik banget lagi." Jawab Mika. Ia pun menghabiskan waktu sepuluh menit menceritakan setiap orang yang baru saja ia kenal di dalam keluarga ini, tak lupa ia sampaikan pendapat pertamanya ketika mengenal mereka secara langsung. Tentang ketidaksukaannya dengan Nadia mau pun perasaan bersekutunya karena Nadia masih dianggap orang asing oleh keluarga Angkasa. "Ada juga para pengurus rumah." Mika teringat dengan Nata namun tidak ingin menceritakan seorang pria muda tampan yang menarik perhatiannya itu kepada Henry. Paling-paling perasaan Mika hanya kekaguman sesaat. Dia pernah punya junior yang juga tampan dan ramah dulu di tempat kerjanya, dan sekarang juniornya itu sudah selevel dengannya dan mungkin siap menggantikan tempatnya ketika ia didepak nanti. Si junior tampan itu masih ramah dan baik hingga sekarang namun Mika tidak memiliki perasaan apa pun padanya, rasa kagum pun tidak. Baginya si junior yang rupawan itu hanya seorang manusia yang tidak perlu diistimewakan karena wajah semata. Mika mendengar Henry menguap. Ia pun menyuruh sang adik tiri untuk tidur, tak lupa berterima kasih karena sudah mau mendengarkan obrolannya. "Nggak apa-apa," kata Henry. "Pokoknya telepon aku sering-sering ya." Mereka berdua pun berpamitan. Mika menghela napas. Karena asyik mengobrol ia sampai tidak sadar sudah berbaring di atas ranjang bergaya klasiknya. Aku tidak akan mau menurunkan kelambunya, pikir Mika sambil menatap tirai kelambu yang dijepit di setiap pinggir tiang ranjang. Sama seperti tirai pintu balkon, ia tidak suka penutup itu memantulkan bayangan yang menakutkan. Mika memutuskan untuk ke kamar mandi. Sikat gigi dan cuci muka. Ia juga harus sholat isya yang sempat tertunda. Kamarnya kembali sunyi senyap setelah tidak ada lagi suara Henry di telinganya. __*__
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD