--
Seperti yang sudah diduga oleh Mika, ia tidak bisa tidur nyenyak sepanjang malam. Ia terpaksa membiarkan lampu menyala karena ia merasa ngeri berada sendirian di dalam kamar yang besar dan bergaya kuno. Segala hal membuatnya merasa takut. Bahkan lemari kayu besar itu terlihat mengerikan baginya seolah-olah akan ada sosok-sosok mengerikan keluar dari dalamnya.
Imajinasi liar yang menakutkan tak terbendung muncul di dalam benak Mika. Jadi Mika tidur dengan lampu menyala. Ia menggunakan kain penutup mata bergambar panda guna menghalangi cahaya lampu dari matanya. Ia juga lebih memilih memeluk ranselnya ketimbang guling. Pokoknya ia merasa was-was sepanjang malam.
Mika bangun lebih awal, frustasi karena kesulitan tidur. Ketika langit mulai sedikit terang, ia pun mematikan lampu, membuka tirai pintu balkon, lalu duduk di depan pintu kaca. Ia tidak yakin akan keluar dengan udara yang masih cukup dingin. Maka ia hanya duduk di depan pintu kaca, mengawasi langit yang perlahan menjadi terang benderang.
Halaman di depan balkon pun tidak terlihat menakutkan lagi. Kolam air mancur dengan ornamen piring-piring besar bertingkat mulai menyala, lampu-lampu kecilnya pun padam.
Mika segera berdiri, ia juga telah mematikan lampu balkon kamar, lalu membuka pintu balkon. Seketika saja udara dingin pagi hari menyusup masuk. Mika yang sudah mengenakan jaket, merapatkan jaketnya karena merinding merasakan udara dingin itu menyentuh permukaan kulitnya. Ia pun berjalan di lantai balkon mendekati pagar balkon.
Mika baru menyadari jika ada bagian seperti pintu pada pagar balkonnya. Ia bernapas lega karena tidak perlu meloncati pagar itu. Ia memang belum mengecek balkonnya dengan seksama. Ia pun membuka engsel pagar balkon, lalu kakinya yang mengenakan sendal menjejak di tanah berumput yang basah karena embun.
Mika berjalan timpang di halaman itu. Mengamati pemandangan area perumahan asing yang akan menjadi tempat tinggalnya mulai dari sekarang. Ia tidak bisa menutupi rasa takjubnya ketika melihat empat bangunan putih bertingkat dua terletak saling berhadapan dengan air mancur sebagai porosnya.
Mika sampai di depan air mancur. Ia menyodorkan tangannya hingga terkena siraman air yang jernih dan dingin. Ia pun duduk di pinggiran kolam air mancur yang terbuat dari bebatuan, menikmati udara pagi.
Kemudian Mika melihat seseorang berlari menuju ke arahnya. Seorang pemuda yang mengenakan kaos biru dan celana training berhenti di dekat Mika dengan napas sedikit ngos-ngosan.
"Pagi," sapa Gerald.
"Pagi," balas Mika, kikuk. Gerald bukanlah orang yang ia harapkan muncul di depannya sepagi ini.
"Suka jogging nggak?" Tanya Gerald. Ia tersenyum menyeringai. Wajahnya tampan perpaduan antara Laurie dan Fleur. Laurie mungkin tidak terlalu tampan dengan wajah lebar, tapi Fleur memiliki wajah kecil berbentuk hati dan bentuk wajah itu terwariskan dengan baik pada Gerald.
"Kadang-kadang," jawab Mika.
"Gimana kakinya?" Gerald mengangguk ke arah sebelah kaki Mika yang masih dililit perban.
"Ya begitu," jawab Mika tidak pasti.
Gerald menyeringai. "Hati-hati kalau jalan, siapa tahu ada tikus yang menggali lubang lagi."
Wajah Mika yang lembab karena udara dingin hari terasa memanas mendengar kata-kata Gerald, tampak jelas Gerald mengejeknya.
Lalu Gerald melanjutkan kembali kegiatan joggingnya, meninggalkan Mika yang masih duduk di pinggiran kolam air mancur dengan wajah merah padam, memandang tidak suka pada punggung Gerald yang menjauh.
--
"Oh, oh!" Suara Nadia memekik ketika melihat Mika berjalan timpang dengan kruk melewati ambang pintu ruang makan. Nadia segera menghampiri Mika, memapah Mika sampai duduk di bangku. "Aku baru aja mau ke kamar kamu!" Katanya.
"Padahal kamu bisa makan di kamar aja, Mika." Kata Nadia lagi. "Aku dan Ina baru aja menyiapkan sarapan kamu."
Mika menemukan seorang wanita muda mengenakan celemek yang berdiri terpaku memandangnya. Pasti lah wanita ini adalah Ina yang bertugas sebagai ART di rumah utama. Sepertinya usia Ina pun tak jauh berbeda dengan Mika mau pun Nadia. Fakta tentang kesamaan usia itu pun semakin membuat kecanggungan di dalam rumah ini.
"Aku mau makan di sini," kata Mika.
"Oh, begitu?" Nadia mengangguk mengerti. Ia menoleh pada Ina yang masih diam saja. "Ina, siapkan sarapan untuk Mika di sini aja ya?"
"Ba-baik, Non!" Ina seperti mencicit ketika mendengar perintah Nadia. Kontras dengan wajahnya yang takut-takut, Ina segera menyiapkan sarapan di depan Mika dengan gerakan cekatan yang sudah terlatih. Kemudian ia menghilang dari balik pintu dengan tanpa suara.
Mika masih terkagum-kagum dengan kinerja Ina yang cekatan dan tanpa keributan yang perlu.
"Ina sudah kerja di sini sejak lima tahun lalu," Nadia memberitahukan informasi itu.
Mika pun memikirkan informasi yang baru ia dengar itu. Lima tahun lalu ya? Berarti karir Ina dalam bekerja tak jauh berbeda dengan dirinya.
"Bagaimana tidur malam tadi? Nyenyak?" Tanya Nadia.
"Eum... Begitu deh," jawab Mika dengan tampang ragu.
Nadia cekikikan. "Pastinya sulit ya? Aku dulu juga ketika pertama kali pindah ke sini kikuk banget. Rasanya sekitar satu Minggu aku nggak bisa tidur dengan nyenyak. Mas Louis heran sekali..." Kata-kata terakhir Nadia yang belum selesai bagaikan menggantung di udara. Perasaan tidak nyaman itu pun terasa.
Mika menemukan kesenduan di wajah sang janda yang beberapa detik sebelumnya masih tersenyum ceria.
"Maaf ya, masih nggak percaya..." Wajah Nadia kini tampak murung.
Mika menduga Nadia telah melatih dirinya dengan sebaik mungkin untuk tidak terus terlihat sedih.
"Nggak mudah ya?" Tanya Mika pelan.
"Iya..." Nadia mengangguk. "Rasanya itu mendadak kosong begitu aja. Kamu tahu kan? Aku ke sini bersama dengan Mas Louis. Tapi... ketika Mas Louis nggak ada... Kosong banget. Bahkan Rumah Utama ini seperti asing banget buat aku. Padahal aku sudah berjuang semampuku untuk dapat beradaptasi di sini. Maksud ku... Kamu tahu kan? Beradaptasi di tempat ini agak sulit. Dan sewaktu aku sudah cukup mengikhlaskan kehidupanku di luar sana... Mas Louis... Dia malah..."
Nadia mulai sesengukkan.
Mika melihat sebutir air mata melesat jatuh ke pangkuan Nadia. Ia pun buru-buru mengambil kotak tisu, meletakkannya di depan Nadia. Lalu memberikan selembar tisu ke tangan Nadia.
"Duh, maaf ya..." Kata si Janda muda, menerima tisu dari Mika. Ia menyeka matanya yang basah dengan tisu itu. "Aku sudah berusaha untuk tetap terlihat tegar. Aku nggak menyangka akan bersedih di depan kamu."
"Nggak apa-apa..." Kata Mika ramah.
Malah lebih bagus begitu, karena Mika ingin melihat ekspresi kesedihan Nadia, dengan begitu dia bisa menilai seberapa besar rasa kehilangan Nadia. Tentu ia juga memikirkan ekspresi ketidaksukaan Lenka setiap kali mendengar nama Nadia.
Orang asing akan selalu sulit diterima. Apalagi orang asing ini menjadi seorang istri dari kakak sulung mereka yang sangat kaya.
Mika merasa telah mulai melunak dengan si janda. Tapi ia tetap tidak ingin mengakui jika Nadia adalah "ibu tirinya". Tidak akan pernah. Kesamaan usia sudah menjadikan batas terbesar bagi mereka.
"Lanjutkan sarapan kamu," kata Nadia yang kembali tersenyum riang.
Mika mengangguk, meski sebenarnya ia sudah selesai.
"Oh ya," kata Mika teringat. "Aku dengar dari Tante Lenka jika kakek masih hidup?"
"Kakek?" Ulang Nadia. Matanya yang besar-besar dengan iris hitam membelalak kepada Mika. "Oh! Ayah Faisal?" Ia memekik dan rasanya itu tidak perlu. "Benar, Ayah, kakekmu, masih hidup." Ia mengangguk dengan ekspresi antusias. "Kamu ingin menemuinya?"
"Kata Tante Lenka aku bisa menemuinya setelah dia memberitahuku."
"Ah," Nadia mengangguk-angguk. "Iya sih. Ayah memang sudah sangat tua dan lemah. Tapi..." Nadia terlihat ragu-ragu. "Meski begitu dia tetap terlihat menyeramkan."
Mika mengamati ekspresi tidak senang yang sudah ditekan agar tidak terlihat dari wajah Nadia.
"Maksudku... Bukannya aku tidak suka... hanya saja... Yah...." Nadia gelagapan menjelaskan.
Namun Mika mengerti dengan reaksi Nadia. Dari reaksi itu pun ia mengetahui bahaya di depannya mengenai sang Kakek. Bagaimana pun Kakek tua itu yang memisahkan orang tuanya, iya kan? Dan sang kakek tentu tidak senang ketika Louis pulang sambil membawa seorang istri yang sangat muda, dan sebaya dengan cucunya sendiri di luar sana
"Pokoknya tenang aja deh, tunggu aja sampai Mbak Lenka mengajakmu ke Rumah Ayah." Nadia berusaha mengembalikan keceriaannya. Tampaknya pembicaraan mengenai topik mertua lebih membuat moodnya berubah tidak menyenangkan daripada mengingat suaminya yang meninggal.
"Kamu mau ngapain setelah ini?" Tanya Nadia. "Mau ketemu dengan Ryan?"
Sebenarnya Mika masih memikirkan akan membongkar kopernya, namun ia masih belum berniat melakukannya. Ia mengangguk saja menerima ajakan Nadia.
--
Mika merasa kesakitan ketika ia harus menaiki tangga untuk menuju ke lantai atas. Nadia membantunya naik dengan bersemangat. Akhirnya setelah dengan susah payah Mika sampai di lorong lantai dua.
Kaki yang terkilir ini benar-benar menyebalkan. Ia pun kembali terpincang-pincang menyusuri lorong.
"Ini," kata Nadia, menunjuk pada pintu berdaun dua yang dicat putih. "Adalah kamarku dan Mas Louis." Nada suaranya terdengar sedih. "Tapi semenjak Mas Louis sudah nggak ada, aku nggak pernah lagi tidur di dalam sana. Aku tidur dengan Nadin."
Mika teringat dengan sosok misterius dengan burqa. Ia sudah mendengar informasi jika saudara Nadia itu mengalami kecelakaan hingga menyebabkan kerusakan pada wajahnya. Oleh sebab itu saudara Nadia itu pun harus berpenampilan tertutup, pastinya anggota keluarga di dalam sini tidak akan menyukai luka yang diderita saudara Nadia.
Nadia mengajak Mika melewati pintu kamar tidur itu. Mika memikirkan, seandainya ibunya diterima di dalam keluarga ini, tentu ibunya akan tidur di dalam kamar itu.
Nadia pun menunjuk pada pintu ruangan tak jauh dari kamar tidur. Ketika mereka berdua memasuki ruangan, Nadin yang tidak mengenakan kerudung atau penutup apa pun tampak terkejut, dengan panik ia mencoba meraih kerudung atau apa pun yang dapat ia gunakan untuk menutupi wajahnya.
"Nggak. Nggak apa-apa," kata Mika tidak enak melihat sikap Nadin.
"Iya, nggak apa-apa, Nad!" Kata Nadia.
Jika Nadia adalah gadis cantik dengan kulit mulus dan rambut lurus bergelombang yang indah, saudaranya itu sungguh berkebalikan dengannya. Sebelah wajah Nadin berkerut mengerikan dan berwarna kemerahan. Sebelah wajahnya yang terkena air keras itu meninggalkan tanda-tanda kebiadaban yang bisa dilakukan oleh manusia.
Meski dengan wajah yang menakutkan, balita berusia dua tahun di pangkuan Nadin tampak damai.
"Ryan sayang..." Panggil Nadia riang lalu mengambil Ryan dari pangkuan Nadin. "Oh, sayang... Sayang..." Kata Nadia ceria memeluk buah hatinya itu.
Mika hanya memperhatikan bocah bernama Ryan dalam gendongan Nadia. Bocah itu... adalah saudaranya. Fakta itu terdengar tidak nyaman bagi Mika.
__*__