--
Bayi itu bagaikan sebuah 'tanda' bahwa pria bernama Louis itu telah melupakan Hanna, Ibu Mika, secara resmi. Pernikahan dan seorang bayi. Entah bagaimana Mika menggambarkan perasaannya saat ini.
Ryan yang berusia dua tahun tampak tenang di atas pangkuan Nadin. Ia tersenyum lebar, memamerkan gigi-gigi yang baru tumbuh itu, juga membuat gembung pipinya terangkat, ada lesung pipi yang dalam di bawah bibirnya sebelah kanan, persis yang dimiliki oleh Mika. Mika tidak tahu apakah letak lesung pipi mereka berdua adalah karena suatu kebetulan atau sebuah tanda keturunan. Hanna tidak memiliki lesung pipi di bawah bibirnya. Dan hingga sekarang Mika belum melihat wajah Louis. Ia mengurungkan niatnya setiap kali membuka situs pencarian untuk menemukan foto Louis. Pastilah foto Louis akan terabadikan dalam mesin pencari karena pria itu memiliki segudang prestasi, serta jerih payahnya dalam menjalankan perusahaan keluarga begitu menganggumkan, pengaruhnya cukup besar dalam sistem perekonomian Indonesia.
Mika duduk di tempatnya dengan canggung sambil memandangi Ryan yang bergeliat namun tidak ngotot, di atas pangkuan Nadin. Nadia harus pergi turun ke bawah untuk melakukan sesuatu yang tidak sempat ia jelaskan kepada Mika.
Mika juga menghindari diri mengangkat wajah karena ia dapat melihat bekas luka bakar di sebelah wajah Nadin. Ia ingin bersikap biasa-biasa saja karena biasanya orang-orang yang memiliki d*********s lebih suka diperlakukan seperti orang normal. Katanya mereka sangat tidak suka dilihat dengan tatapan simpatik, bagi mereka tatapan semacam itu terasa seperti merendahkan mereka.
Tapi luka itu parah, dan sebelah wajah Nadin yang sehat masih menyisakan kecantikannya.
Nadin juga tampaknya tak ingin repot-repot beramah-tamah dengan Mika. Keadaan ini semakin membuat Mika tidak nyaman. Apakah ia pergi saja dari sini?
Ryan mengeluarkan suara tawa yang lucu, kembali mengalihkan perhatian Mika. Dengan sorot takjub dan sayang pada balita lucu itu, niatnya untuk angkat kaki kembali memudar. Ia mengusap sebelah pipi Ryan yang kemerahan. Menggemaskan. Dan bocah ini adalah saudaraku, batinnya meski masih tidak dapat mempercayai fakta itu.
Nadia muncul dengan napas sedikit terengah, ia pasti buru-buru naik kembali ke atas, rupanya ia membawa botol s**u untuk Ryan.
"Maaf ya, sayang... Bunda lupa..." Nadia segera mengambil Ryan dari pangkuan Nadin.
Setelah Ryan tidak ada dalam pegangan lagi, Nadin berdiri dan menghilang dengan langkah tanpa suara ke balik sebuah pintu. Mika mengerutkan dahi melihat gerakan Nadin yang begitu hati-hati.
"Biarkan saja," kata Nadia. "Nadin butuh istirahat."
Jadi Mika menyimpulkan jika di balik pintu itu adalah kamar tidur Nadin.
"Oh ya, aku dengan kamu bekerja," kata Nadia sambil memegangi botol s**u yang diminum oleh Ryan.
"Iya," jawab Mika. "Aku sudah ambil cuti selama tiga hari."
Ketika ia teringat dengan perusahaan yang sudah tidak menyayanginya itu (atau dia terlalu berharap disayang oleh perusahan), Mika tidak yakin ia bisa kembali dengan baik-baik pada senin depan. Ia membayangkan jika si anak baru yang sudah ia latih selama enam bulan itu sudah lancar dalam menggantikan pekerjaannya. Pastinya si Bos sudah menganggap ia sudah siap untuk didepak dari perusahan. Ia membayangkan si Bos sudah tidak sabar mendapatkan surat pengunduran diri darinya.
"Karyawan kantoran ya?" Tanya Nadia.
"Ya, begitu lah."
"Keren," komentar Nadia. "Dulu aku cuma seorang pelayan restoran." Ia bercerita. "Aku bertemu dengan Mas Louis di restoran tempatku bekerja."
Mika tampak heran dengan rasa penasaran yang timbul tiba-tiba di dalam dirinya. Louis, pria yang katanya penyendiri dan tidak pernah tertarik dengan lawan jenis itu, di usia menjelang akhir lima puluh tahunnya bertemu dengan seorang wanita muda yaitu Nadia. Kira-kira apa yang dilihat oleh Louis dari seorang Nadia?
Muda? Cantik? Lembut? Pria tua itu mendadak berhasrat?
Tapi kenapa Louis tiba-tiba memutuskan menikah padahal pria itu memiliki banyak waktu setelah mendengar Hanna tinggal serumah dengan pria lain? Juga bahkan setelah Hanna meninggal. Louis memiliki rentang waktu yang panjang untuk dapat membahagiakan dirinya sendiri dengan mendapatkan cinta dari lawan jenis. Tapi mengapa dalam usia yang sudah cukup tua ia baru berpikir memanfaatkan kekuasaannya untuk mendapatkan Nadia?
Aneh.
"Apa yang kamu lihat dari Louis?" Mika bertanya. Melihat ekspresi Nadia, Mika menyadari jika ia lagi-lagi terlalu blak-blakan. Kadang ia memang suka bertanya tanpa memikirkan apakah pertanyaan itu sesuai pada kondisinya.
"Maaf..." Kata Mika segera.
"Nggak... Nggak apa-apa," Nadia menggelengkan kepalanya, tersenyum lembut yang membuat perasaan Mika semakin bertambah tidak enak. Sementara Ryan sudah tertidur pulas dalam rangkulan Nadia. Nadia pun beranjak untuk menaruh Ryan ke dalam ranjang kotak, kemudian kembali duduk di depan Mika.
"Mas Louis sering mampir ke restoran, jadi aku mulai mengenalnya secara diam-diam. Usianya mungkin dianggap memang terlalu tua untuk menikah lagi bagi orang-orang... tapi jika kamu melihat bagaimana ayahmu meski di usia itu, kamu pasti akan maklum jika masih ada banyak wanita yang jatuh hati kepadanya. Mas Louis adalah orang yang berkharisma."
Oh ya? Mika menahan cibirannya. Bukankah para wanita itu antri karena kekayaan yang dimiliki oleh Louis? Jatuh hati apanya. Cih.
"Sebenarnya agak tidak mengenakkan..." Kata Nadia ragu-ragu. "Tapi setelah beberapa kali mampir ke restoran, akhirnya Mas Louis menegurku dan bilang... jika aku mirip dengan seseorang yang ia kenal."
Mika mengerjapkan mata.
"Aku tidak begitu paham maksudnya. Tapi hal itu sudah cukup membuatku senang karena ini menunjukkan jika Mas Louis memperhatikanku. Dan setelahnya ia menegurku terus-menerus hingga tak terasa hubungan kami menanjak." Nadia meninggalkan senyum sendu di wajahnya yang cantik. "Sekarang, aku baru mengerti mengapa dia mengatakan hal tersebut kepadaku di pertemuan pertama kami."
"Mengapa?"
"Karena saat itu aku mirip sekali dengan ibumu."
Jantung Mika serasa mencelos ketika ibunya diungkit dalam kisah cinta Nadia.
"Ibumu pernah bekerja di restoran itu. Entah bagaimana penampilanku mengingatkannya kepada Ibumu."
"Oh," kata Mika. "Kamu pasti kesal."
Nadia tertawa. "Bukan masalah. Pada akhirnya Mas Louis menerima aku apa adanya."
Mika memaksakan diri untuk tersenyum.
"Oh ya, tadi aku di bawah bertemu dengan Mas Laurie. Dia bersama Gerald akan berada di kota dan menginap hingga Jumat. Tapi Mas Laurie sudah menitipkan salep dan obat-obatan untuk kakimu yang terkilir. Sudah kutaruh semuanya ke kamar kamu."
"Terima kasih." Ucap Mika. "Jadi mereka tidak akan pulang?"
"Iya. Mas Laurie punya rumah sendiri di Jatinangor. Tapi Mbak Fleur lebih suka tinggal di sini. Dini dan Dana juga harus sekolah di kota ini jadi mereka tidak ingin pindah. Lagi pula jarak antara rumah dengan Jatinangor hanya satu jam. Sepertinya mereka baru akan pindah setelah Dini dan Dana kuliah."
Mika mengangguk-angguk mengerti. Ia membayangkan Laurie kembali ke rumah sakit dan mencari adik tirinya. Semoga tidak ada masalah sama sekali. Laurie tidak akan berniat jahat kepadanya kan? Tapi mengingat peringatan Henry tentang harta warisan yang bisa menggelapkan mata manusia membuatnya sedikit cemas.
"Aku ke kamar ya?" Akhirnya Mika memutuskan untuk pergi.
"Oh, ayo ku antar sampai ke bawah.
--
Nadia benar-benar merepotkan dirinya dengan mengantarkan Mika hingga anak tangga terakhir. Lalu terdengar suara tangisan Ryan yang membuat mereka berdua menengadah ke atas.
"Aku bisa sendiri," kata Mika, menyadari jika Nadia berniat akan mengantarkannya sampai ke kamar meski anak laki-lakinya sedang menangis. "Kamu urus aja Ryan."
"Tapi..."
"Kamu bilang Nadin perlu istirahat kan?" Sela Mika segera. "Dia pasti mengira kamu masih bersama dengan Ryan. Lagi pula kakiku sudah agak baikan. Aku bisa jalan sendiri sampai ke kamar."
"Hmm, baiklah." Kata Nadia akhirnya. "Hati-hati ya." Nadia meninggalkan raut cemas yang tulus, berhasil membuat hati Mika sedikit tergugah. Meski wanita ini menyebalkan, namun Nadia tampak tulus.
Langkah Nadia terdengar berisik selama menaiki tangga. Sementara suara tangisan Ryan belum juga berhenti, yang artinya Nadin tampaknya benar-benar sedang beristirahat hingga tidak segera muncul untuk menenangkan Ryan.
Mika mendengar suara Nadia dan pintu tertutup, tanda Nadia telah masuk ke dalam ruangan dimana Ryan tidur. Suara tangis Ryan pun tak terdengar lagi.
Mika menarik napas lega, ia pun berniat akan berjalan menuju ke kamarnya. Namun niatnya langsung urung ketika melihat pintu keluar terbuka lebar. Ia terdiam sebentar di depan tangga yang menghadap lorong lurus hingga ke pintu keluar.
Mengingat ia masih malas membongkar barang-barangnya dari dalam koper, Mika merubah haluannya. Ia berjalan menuju pintu keluar.
Mika menuruni undakan teras Rumah Utama, menginjak rumput kering di bawahnya karena sinar matahari sudah cukup terik. Ia berjalan tertatih-tatih dengan kruk, kemudian berhenti ketika menemukan sebuah patung putih seukuran manusia yang berdiri di atas pondasi. Pada hari kedatangannya patung itu belum ada.
Itu adalah patung Louis yang berdiri tegap dan dengan tangan bersedekap. Karena detail patungnya tidak begitu jelas, Mika tidak menemukan sesuatu yang menarik dari tampang patung Louis. Padahal tampang itu juga adalah sebagai pendukung pria itu mendapatkan wanita baru. Dan sebelum Patung putih tak bernyawa itu berdiri di tempat ini, terdapat sebuah lubang besar yang memerangkap Mika hingga kakinya terkilir.
"Hai."
Mika terkejut meski sapaan itu terdengar hangat dan ramah. Ia menoleh dan Nata sudah berdiri di sampingnya. Ia mengerjap kebingungan karena ia tidak mendengar suara langkah kaki Nata ketika mendekatinya.
"Maaf, mengagetkan ya?" Tanya Nata, menatap Mika dengan sorot yang terasa intens bagi Mika.
Mika berpaling, berusaha untuk tidak terbawa perasaan pada pemuda itu yang tetap terlihat menarik meski dengan rambut berantakan, kaos abu-abu plus celana berkebun yang kotor karena tanah.
"Aku tidak mendengar suara langkah kamu." Kata Mika. "Mungkin aku melamun." Ia buru-buru menambahkan.
Mika bisa menangkap gerakan Nata yang mengangguk mengerti.
"Bagaimana?" Tanya Nata dan Mika langsung tahu arah pertanyaan itu yang tertuju pada kakinya yang terkilir.
"Lumayan," jawab Mika. "Jadi ini patung Louis itu?"
"Ya," jawaban Nata terdengar heran.
"Aku belum pernah bertemu dengannya," Mika tidak mengerti mengapa ia mengaku pada Nata. Mungkin ia terlalu lelah karena tidak memiliki teman bicara yang dapat mendengarkan isi hatinya. Henry sibuk di kejauhan sana. Teman kerjanya yang paling akrab juga pasti sedang sibuk. Dan ia masih tidak mau berbagi perasaan dengan Nadia yang menurutnya masih asing itu meski mereka berdua sudah banyak berkomunikasi.
"Aku juga malas melihat fotonya."
"Oh," komentar Nata, terdengar cukup kaget. "Pasti sulit..."
Mika mengangguk membenarkan. Lucunya, ia lebih sulit melihat wajah pria itu daripada mendengarkan haknya sebagai ahli waris. Kedengaran sangat munafik.
"Yang bisa kuyakinkan," kata Nata. "Beliau sangat mirip denganmu."
"Oh ya?" Mika masih memandangi patung Louis di hadapannya. Ia bertanya-tanya di dalam hati siapa yang berinisiatif membuat patung Louis setelah dua Minggu dari kematiannya?
"Ya. Bentuk matamu. Bentuk senyummu juga lesung pipi itu..."
Mika menolehkan wajah pada Nata, cukup terkejut mendengar deskripsi Nata.
"Apa kamu sangat mengenal Louis?" Tanya Mika penasaran.
Ia belum bisa menyebut 'ayah'. Maka dengan seenaknya ia menyebut nama Louis. Berbeda dengan Nadia dan Lenka, Mika tidak begitu merasa terbebani melihat ekspresi memprotes di wajah Nata ketika ia menyebut nama Louis daripada menggunakan kata ganti Ayah dalam pembicaraan mereka saat ini.
"Semua orang mengenal Almarhum." Kata Nata. "Dia adalah orang yang baik."
"Baik apanya. Orang itu meninggalkan anak dan istrinya." Desis Mika pelan.
"Aku mengidolakannya." Kata Nata dengan kejujuran yang mengejutkan. "Beliau pasti memiliki alasan ketika harus meninggalkan..." Ia memandang ragu pada Mika. Tampaknya ia mendengarkan desisan Mika sebelumnya.
"Siapa yang tahu?" Kata Mika. "Masa lalu akan tetap seperti itu apa pun alasannya. Sekarang yang terpenting adalah masa depan." Ujarnya.
Ya. Yang terpenting adalah Mika mendapatkan haknya sebagai ahli waris.
__*__