--
Kata-kata terlontar begitu saja dari mulutnya tanpa sempat ia pikirkan dua kali. Mika seolah sedang berbicara dengan seorang teman yang cukup dekat dengannya. Ia tersadar detik berikutnya jika saat ini ia sedang berbicara dengan orang asing. Ia menoleh pada Nata yang sedang memandanginya dengan sorot lembut, dan entah bagaimana, membuat Mika kikuk setengah mati, namun juga ia merasa tidak berdosa telah mengatakan sesuatu tentang keinginannya terhadap warisan ayahnya. Nata tidak menunjukkan penilaian buruk terhadap pikiran.
"Maaf," kata Mika, tersenyum kikuk. "Lupakan saja semua yang baru kamu dengar tadi."
Nata mengangguk. "Kalau kamu membutuhkan aku," ujarnya. "Panggil saja aku."
"Bagaimana caranya?" Tanya Mika tanpa memikirkan pertanyaan yang keluar dari mulutnya.
Dahi Nata sedikit berkerut.
"Maksudku... bagaimana caraku memanggilmu?" Mika memperjelas pertanyaannya dan ia merasa seperti seorang wanita yang sedang menggoda pria. "Aku belum tahu bagaimana cara memanggil jika aku membutuhkan bantuan."
Nata masih terdiam dengan ekspresi bingung, namun begitu Mika menunjukkan ponselnya, Nata ber'oh' dengan suara pelan. Ia tersenyum tipis.
"Kamu bisa bertanya pada Ina, ART yang bekerja di rumah Utama. Sudah kenal kan?" Tanya Nata dan Mika mengangguk. "Ina akan memanggil siapa saja yang kamu butuhkan. Tapi..." Kekikukan muncul pada raut wajah Nata yang sebelumnya tampak tenang dan terkendali. "Kamu bisa menyimpan nomorku."
Mika menahan diri untuk tidak tersenyum. Ini pertama kalinya ia menanyakan nomor kontak seorang pria. Tidak, dia tidak bermaksud menggoda Nata. Dia merasa hanya perlu saja.
Mika menyodorkan ponselnya pada Nata, sedikit berdebar karena ia tidak pernah menjadi Mika yang jalang dan maju lebih dulu dalam mendekati seorang pria. Hanya karena Nata bukan seorang pegawai kantoran yang berwajah sombong, melainkan seorang pengurus rumah berbaju lusuh dengan wajah menarik bak seorang selebritis.
Nata ragu-ragu untuk menerima ponsel Mika untuk sesaat. Kemudian akhirnya dengan gerakan cepat ia menerima ponsel itu, mengetikkan nomornya kemudian mengembalikannya segera pada tangan Mika. Ekspresinya terlihat gelisah. Ia memandang ke sekitarnya.
"Sudah kusimpan," kata Mika yang mengabaikan ekspresi gelisah Nata. "Ini, aku menghubungi nomormu. Kamu bisa simpan nomorku juga."
Terdengar bunyi getaran. Nata segera merogoh sakunya. Sebuah ponsel android butut model lama terekspos. Nata segera mematikan panggilan itu lalu memasukkannya kembali ke dalam saku.
"Itu..." Kata Mika karena Nata belum menyimpan nomornya. Namun Nata terlihat tidak peduli, pria itu semakin terlihat gelisah.
"Aku harus pergi." Kata Nata, lalu berbalik pergi. "Dah." Kata pria itu kaku.
Mika membiarkan Nata meninggalkannya. Ia mengerutkan dahi, masih belum memahami setiap keramahan dan kegelisahan Nata yang hilang timbul. Tapi Nata adalah seorang pengurus rumah yang tampaknya agak terlalu berani berbicara dengan gaya santai layaknya tidak ada perbedaan status di antara mereka berdua. Pasti ada suatu aturan tak tertulis mengenai batasan-batasan yang bisa dilakukan oleh pengurus rumah.
Sebenarnya Mika tidak mempermasalahkan status. Dia pun juga awalnya hanyalah seorang yang biasa-biasa saja dengan gaji pas-pasan. Dan melihat kekayaan keluarga Angkasa, meski Nata hanyalah seorang pengurus rumah, Nata serabutan pada banyak hal, atau istilah kerennya multitalenta. Seharusnya Nata digaji dengan layak dan mampu membeli ponsel yang lebih baik.
"Mika."
Mika kembali dibuat kaget, Nata tiba-tiba muncul kembali dan berjalan mendekatinya, langkahnya begitu cepat dan tahu-tahu sudah berada di depan Mika, berjarak hanya beberapa senti dengan tubuhnya, bahu mereka nyaris bersentuhan. Mika tak dapat mundur karena di belakangnya ada patung Louis. Ia terjebak ketika Nata menyodorkan bibirnya ke samping wajah Mika, membisikkan sesuatu ke telinga Mika.
"Berhati-hatilah."
Bisikan Nata sangat jelas di telinga Mika. Dengan nada rendah yang tegas dan terselip nada kecemasan yang entah bagaimana bisa ditangkap oleh Mika.
Nata menarik dirinya lalu benar-benar pergi tanpa perlu pamit untuk kedua kalinya kepada Mika. Meninggalkan Mika yang terpaku kebingungan dengan rona merah di kedua pipinya.
Mika tidak tahu apakah dia menjadi kebingungan karena peringatan Nata di telinganya atau kah karena kedekatan yang mendadak itu. Untuk apa Nata repot-repot membisikkan peringatan ke telinganya? Seolah ada yang menguping mereka saja.
"Mika!"
Mika menolehkan wajah. Nadia muncul bersama Nadin yang sudah mengenakan pakaian sangat tertutup. Ryan siap dalam gendongan Nadin. Dengan ekspresi ceria, Nadia mendekati Mika.
"Di sini rupanya kamu," ujar Nadia. "Aku kira kamu sudah di kamar. Aku baru saja ke kamarmu. Eh, kamarmu malah kosong. Jadinya aku agak bingung." Sepertinya Nadia sangat suka menjelaskan apa pun yang baru atau sedang ia lakukan. "Apa yang sedang kamu lakukan?"
"Aku..."
"Oh, mau melihat patung Mas Louis?"
Mika mengangguk. Di dalam hatinya ia berkata : aku ingin melihat sumber masalah dalam kesialanku. Yaitu kau dan patung sialan ini.
"Hasil karya yang indah kan?" Nadia tersenyum namun sorot matanya tampak muram ketika memandangi wajah patung yang menyerupai suaminya itu. "Aku sepertinya terlalu gila hingga ingin menandai keberadaannya. Ide membuat patung ini begitu saja terlintas di dalam kepalaku. Mengerti kan? Betapa tidak siapnya kita ketika orang yang begitu bermakna dalam hidup kita benar-benar pergi meninggalkan kita lebih dulu."
Mika mengangguk, mengerti dengan kesedihan Nadia. Tapi ia tidak mengerti hubungan antara kesedihan yang dirasakan oleh Nadia dengan ide membuat patung tidak berguna ini.
"Mas Louis suka berdiri di sini," kata Nadia tanpa diminta. "Dia suka memandangi taman bunga itu, di sini."
Seketika Mika menyesali dirinya yang sudah mau berlama-lama berdiri di tempat ini. Ini kedua kalinya ia berdiri di mana patung itu berdiri dengan gagah. Apa kah itu artinya ia berdiri di tempat favorit ayahnya tanpa ia sadari?
"Jadi aku menandai tempat ini," kata Nadia. "... dengan sebuah patung Mas Louis. Demi hal ini, aku mencari pematung terbaik. Maka tercipta lah patung yang sempurna ini. Sesempurna sosok Mas Louis yang asli."
Namun hal yang tidak dimengerti oleh Mika adalah berapa lama patung ini dibuat. Kematian Louis tak lebih dari dua pekan yang lalu. Sementara patung ini adalah patung seluruh badan dengan gaya dan detail yang rumit. Tentu memerlukan waktu lama serta biaya yang cukup mahal dalam proses pembuatannya.
"Aku mengusulkan ide ini jauh-jauh hari tanpa tahu jika Mas Louis akan pergi meninggalkanku." Nadia seperti menjawab pertanyaan Mika yang belum terucap. "Lucu ya? Aku hanya iseng bertanya kepada almarhum. Aku ingat sekali, pada sore hari itu, akhir pekan, satu tahun lalu. Mas Louis sedang berdiri tepat di mana patung ini berdiri, almarhum sedang mengamati taman bunga dengan pasang matanya yang hitam dan memikat itu." Nadia jeda sesaat untuk menarik napas. "Saat itu aku sedang melucu, kubilang, Mas Louis suka sekali berdiri di tempat yang sama ya?' Dia menjawab 'oh ya?'. Kukatakan lagi, 'iya, Mas. Nggak sadar ya kalau suka berdiri di sana. Mudah aja menemukan Mas Louis karena ini salah satu tempat Mas berada', terus mas Louis tertawa saja. Kulanjutkan, 'spot ini harus ditandai'. Mas Louis bingung banget dengan celotehanku. 'tandai seperti apa?'. Kujawah, 'apa saja. Orang-orang bahkan membangun patung untuk dirinya sendiri'. Mas Louis tertawa saja mendengarnya, tapi rupanya dia malah memikirkan ideku itu setelahnya. Beberapa hari berikutnya dia bertanya apakah akan terlihat konyol jika dia memajang patung dirinya sendiri? Aku tertawa mendengarnya karena aku suka ide tentang patung. Kukatakan kepadanya hal itu tidak konyol. Patung adalah karya seni. Dan Mas Louis sangat suka pada banyak hal berbau seni. Dia sangat suka lukisan. Dia juga suka bernyanyi. Tapi tidak pernah membeli hal berbau patung. Pokoknya aku menyetujui persoalan patung itu. Aku tidak mengira..." Suara Nadia tercekat detik itu. "Aku tidak mengira dia sengaja meminta dibuatkan patung untuk ini..."
Mika mengamati gerak-gerik Nadia yang menunduk, ia sempat melihat pasang mata wanita itu yang berkaca-kaca.
"Dia pasti ingin aku melihatnya sering-sering berdiri di tempat ini." Kata Nadia setelah mengkondisikan ekspresi wajahnya, mengusap bahwa matanya.
Mika mengangguk saja.
"Nah, aku dan Ryan mau jalan-jalan. Ikut?" Tawar Nadia kemudian.
Mika melambaikan tangan pada Ryan yang cekikikan riang, tampak nyaman dalam kain gendongan Nadin.
"Hmm," Mika melirik ke bawah, tepat pada kakinya yang terkilir.
"Tidak apa-apa, kita akan naik mobil kok." Ujar Nadia yang mengerti kondisi Mika.
Namun Mika cukup tahu jika keadaannya akan membuat repot.l banyak orang. Meski mereka menggunakan transportasi sebuah mobil, ia membayangkan dirinya naik dan turun dari mobil dengan sebelah kaki nyeri, pastinya bukan acara jalan-jalan untuk menyenangkan diri.
"Nggak," Mika menggeleng sopan. "Aku baru ingat jika Bos-ku di kantor menghubungiku. Dia memintaku membuat laporan untuk siang ini." Dia berbohong. Dan ia tahu Bos-nya tidak akan peduli untuk menghubunginya.
"Tapi kan kamu sedang cuti?" Tanya Nadia heran.
"Sudah hal biasa jika kami cuti tetap harus standby pada kemungkinan apa pun."
"Oh," Nadia berkata, tak begitu peduli, ekspresi hanya kecewa. "Kalau begitu lain kali ya? Apakah Mbak Lenka sudah menawarkanmu pekerjaan di perusahaan keluarga? (Mika mengangguk) Semoga saja kamu mau pindah ke perusahaan ayahmu. Cukup dekat daripada harus ke Jatinangor."
Mika mengangguk lagi. "Sedang kupikirkan."
Nadia menepuk kedua pundak Mika dengan lembut, ia tersenyum memandang Mika. "Kalau begitu aku keluar ya? Kalau butuh sesuatu, kamu bisa memanggil Ina. Nanti kukirim nomor Ina ya!"
"Oke, thanks."
"Dah ya!"
"Ya," Mika melambaikan tangan karena Nadia terus melambai kepadanya ketika istri muda sang ayah berjalan pergi bersama Nadin yang menggendong Ryan.
Mika pun berjalan menuju ke teras Rumah Utama. Sebelum menaiki undakan teras, perhatian Mika teralihkan pada sebuah mobil sedan berwarna biru malam yang terparkir di depan pintu garasi. Mika mengamati Nadia dan Nadin masuk ke dalam bangku penumpang ketika Rizal, ayah Nata, membukakan pintu mobil.
Ada banyak perbedaan di antara ayah dan anak yang bekerja sebagai pengurus rumah itu. Rizal agak lebih pendek daripada Nata, bentuk wajah pria paruh baya itu persegi, berbeda dengan Nata yang dagunya agak runcing, tubuh Rizal juga lebar dan gagah, bahu sang pengurus rumah terlihat begitu bidang balik kemeja biru tuanya. Pria itu bergerak dengan gerakan tegas yang cekatan. Memang sungguh ciri seorang pengurus rumah profesional.
Mika masih berdiri di tempatnya sambil memandang mobil itu bergerak memasuki jalan yang diapit oleh tanaman pagar yang mengingatkan Mika pada labirin. Tanaman pagar itu begitu lebat dan tinggi. Tingginya mungkin mencapai sekitar dua meter.
Mika menarik napas, menyadari kebebasannya karena Nadia tidak ada di Rumah Utama. Mika merasa ini waktunya yang tepat untuk membongkar isi kopernya, kemudian menandai setiap bagian dari kamarnya, menjadikannya benar-benar miliknya, seutuhnya. Ia telah menjadi bagian dari Keluarga Angkasa.
__*__