12

1844 Words
-- Mika sudah selesai merapikan dan menata kamarnya dengan barang-barang miliknya. Tidak ada perubahan besar yang terjadi di dalam kamar itu karena bawaan Mika hanya terdiri dari pakaian, dan kelengkapan hidup lainnya. Satu-satunya tambahan hiasan mungkin hanyalah dua figura yang ia letakkan di atas nakas samping tempat tidur. Foto pertama adalah foto ia bersama dengan keluarga lamanya, sementara foto kedua adalah ia bersama dengan Henry yang diambil pada saat wisuda Henry. Mika menghela napas lega. Ia mendorong dua kopernya yang sudah kosong ke sudut kamar. Kemudian pintu diketuk. "Ya? Masuk saja," kata Mika yang masih terduduk di lantai. Ia tidak dapat lekas membuka pintu karena kondisi kakinya. Pintu membuka, memperlihatkan perawakan Ina yang bertubuh montok dalam balutan pakaian pelayan serba hitam. Namun pakaian itu 'normal' dan sopan, tidak seperti penggambaran tidak pantas mengenai pakaian pelayan yang digunakan oleh orang-orang m***m. Misalnya rok pendek ketat atau pun rok pendek mengembang. Pakaian pelayan Keluarga Angkasa formal dan nyaman dilihat. "Nona?" Ina tampak kebingungan melihat Mika duduk di lantai. Ia lalu menghampiri Mika. "Oh, aku hanya duduk kok," Mika menyadari kepanikan Ina. Namun Ina tetap membantunya berdiri. Mika pun beralih duduk di atas pinggir ranjang, masih heran karena Ina sepertinya tidak terbiasa melihat tuan rumahnya duduk di lantai. "Saya ke sini untuk memeriksa kaki Nona." Kata Ina. "Nggak usah repot. Aku bisa sendiri kok." Tolak Mika halus. Komunikasinya dengan sang ART terasa canggung sekali mengingat usia Ina sebaya dengannya. Nadia telah memberitahunya setiap usia para ART yang bekerja di rumah keluarga Angkasa. Seketika Mika teringat ia tidak menanyakan usia Nata. Tapi kenapa ia begitu serius ingin mencari tahu banyak hal tentang Nata? Apakah ketampanan pemuda itu begitu membuat Mika tertarik? "Jangan, Nona..." Kata Ina dengan nada takut. "Biar saya saja." Ina mengambil salep yang dititipkan oleh Laurie untuk mengobati kaki Mika. Ina pun duduk di lantai lalu membuka perban di tempat kaki Mika terkilir. Mika menghela napas, membiarkan Ina melakukan tugasnya. "Jadi kamu sudah bekerja di sini selama lima tahun?" Tanya Mika setelah keheningan yang lama selama Ina mengurut kakinya yang luka. "Iya, Non." Jawab Ina. "Asal dari mana?" "Cilacap." "Oh," Mika yang tak terbiasa bertanya kelimpungan mencari daftar pertanyaan baru untuk keheningan tidak mengenakkan itu. "Cuma kamu yang bertugas di Rumah Utama?" Tanya Mika. "Rumah ini kan besar. Apa ada ART lainnya?" "Setiap rumah hanya ada satu ART, Non." Jawab Ina. "Juga setiap rumah ada satu sopir pribadi." "Terus?" Tanya Mika. "Di rumah induk, dimana kakek Anda tinggal, ada tambahan koki utama, perawat dan asisten. Di rumah Madam Lenka, juga ada tambahan asisten." Mika mengangguk-angguk. "Sedikit nggak sih?" Tanyanya. "Satu rumah ini cukup besar untuk dibersihkan oleh satu ART sendiri. Apalagi sekaligus memasak." Mika mendengar dengusan geli Ina. "Nggak kok, Non." Ujarnya. "Tapi dulu memang satu rumah ada tiga ART." Ina terdengar ragu-ragu untuk bercerita. Mungkin meskipun ragu, ia mulai merasa nyaman dengan keingintahuan Mika. Bagaimana pun pastinya Ina butuh teman berbicara karena tinggal di rumah besar yang sepi ini. "Tiga ART?" Ulang Mika. "Iya, Non. Saya ingat pertama kali bekerja di rumah keluarga Angkasa, setiap rumah memiliki ART tiga orang. Di rumah induk bahkan sampai ada lima orang. Tapi..." "Tapi?" Pancing Mika. "Ada kabar jika keluarga Angkasa tidak sanggup membayar semua ART, maka beberapa ART diberhentikan." "Oh," Mika mengangguk mengerti. Ia mengira Keluarga Angkasa cukup kaya untuk memperkerjakan banyak ART, atau mereka memang tidak sekaya yang dipikirkan oleh Mika? "Repot ya?" Tanya Mika, bersimpati. "Ah, nggak kok, Non." Kata Ina. "Namanya juga pekerjaan." "Tante Lenka ada di rumah nggak?" "Iya, ada, Non. Karena pandemi Madam Lenka jadi sering di rumah." "Oh... Terus... Kamu kenal yang bernama Leona?" Tanya Mika kemudian. "Adik tiri mereka, yang paling bungsu." "Pertama kali saya bekerja di sini, Nona Leona sudah berada di Kanada untuk bersekolah. Tapi kata Mas Bambang, sopirnya Madam Lenka, Nona Leona sempat hadir sebentar di pemakaman Bapak Laurie. Tapi hanya sebentar. Dan Nona Leona tidak mampir sama sekali ke rumah." "Oh," Mika mengangguk-angguk. Ia melihat Ina kembali membalut memar di kakinya dengan perban. Ia ingin protes namun memutuskan untuk diam saja, membiarkan Ina bebas bekerja. Ina pasti sudah kerepotan mengurusi rumah yang harus tetap bersih sehari-hari. Pasti akan semakin merepotkan jika ditambah tuan rumah yang cerewet. "Makan siang sudah siap." Kata Ina. "Nona mau makan di kamar atau di ruang makan? Biar saya siapkan." "Nadia belum datang ya?" Tanya Mika. "Nyonya Nadia akan datang sore," jawab Ina segera. "Nyonya Nadia berpesan agar Nona Mikaila tidak menunggu beliau. Jadi Nona ingin makan di mana?" "Aku akan ke ruang makan." Jawab Mika. Ia tidak ingin terlalu sering di kamar. Lagi pula mumpung Nadia sedang tidak ada berkeliaran di dalam rumah. Bukannya apa, ia hanya tidak dapat bergerak leluasa karena Nadia sangat suka merepotkan diri dengan memapah dirinya berjalan sepanjang lorong. Padahal Mika sudah bisa berjalan dengan santai meski terpincang-pincang. "Saya bantu, Non?" Tanya Ina ragu. "Nggak usah. Kamu duluan aja. Aku mau bersiap-siap." "Baik, Non." Ina pun undur diri dengan gerakan sopan, ia menutup pintu begitu pelan hingga tidak menimbulkan bunyi sama sekali. Mika segera mengambil kruk, berdiri dari duduknya. Namun ia tidak segera berjalan menuju pintu. Pandangannya teralihkan pada pintu jendela balkon, Nata terlihat baru saja melewati depan balkonnya. -- Ketika Mika sampai di ruang makan, Ina sudah menunggu dengan makan siang yang sudah tersaji di ujung meja persegi panjang. Mika pun duduk di sana. Hari kemarin ia makan bersama seluruh keluarga Angkasa sehingga ada perasaan asing mengenai meja yang kosong itu. "Ina, kamu sudah makan?" Tanya Mika. Ia menoleh pada Ina yang berdiri di sebelahnya. Ina memandang Mika dengan sorot bingung mendengar pertanyaan itu. Ia tidak menjawab. "Kalau belum makan, yuk makan bareng dengan aku di sini." "Eh, nggak bisa, Non." Tolak Ina segera dengan halus. "Udah, nggak apa-apa, yuk, ambil makan siang kamu," desak Mika. Ia ingin lebih cepat akrab dengan Ina. Siapa tahu jika mereka berdua mengakrabkan diri, Mika bisa tahu lebih banyak mengenai Keluarga Angkasa. "Maaf, Non. Saya sudah makan tadi." Tolak Ina. Mika menarik napas, kecewa dengan penolakan Ina. "Tapi saya bisa tetap di sini jika Nona ingin ditemani." "Ya sudah." Mika menyerah. Ia tentu tidak ingin terlalu merusak batasan yang sudah dibangun oleh Ina. Ia pun mengambil sendok, lalu perhatiannya kembali teralih pada Ina yang masih berdiri di sebelahnya. "Kamu nggak duduk?" Tanya Mika, heran. Ekspresi Ina tampak lebih heran daripada Mika. Ia menggelengkan kepala. "Duh, ayo dong, duduk." Pinta Mika. "Nggak enak melihat kamu berdiri begitu selagi aku enak-enak makan. Setidaknya kamu duduk di sebelah aku." "Tapi, Non." "Ayo, dong. Kenapa sih takut banget? Memangnya ada yang akan marah sama kamu jika menuruti permintaan aku? Apa ada kamera pengawas ya di sini?" Mika menoleh ke atas, mencari-cari kamera pengawas, namun ia tidak menemukan benda apa pun yang menyerupai kamera. "Tuh kan, nggak ada. Kamu bisa duduk di sebelah aku." Ina masih tampak berpikir. Mika menghela napas, ia menarik sebelah tangan Ina. "Duduk, dong." Pintanya. Ina menyerah, ia pun duduk di kursi sebelah Mika. Mika tersenyum puas karena merasa menang telah berhasil membuat Ina menurutinya. Rasanya sungguh tidak enak menyuruh orang-orang. Jadi beginilah kehidupan orang yang memiliki banyak uang, menggaji ART untuk mengurusi rumah. "Kamu serius sudah makan siang?" Tanya Mika, masih meragukan. "Iya, sudah, Non!" Ina mencicit gelisah. Ia diam-diam menoleh ke sekitarnya dengan ekspresi cemas. Mika terheran-heran melihat gerak-gerik tubuh Ina yang gelisah. Padahal ia tidak melihat ada kamera pengawas di ruang makan ini. Seperti dengan pertanyaannya tadi, memangnya siapa yang akan memarahi Ina dan bagaimana cara mereka mengawasi Ina? Ina jelas-jelas terlihat sangat panik dan tidak nyaman. "Siapa ART yang paling lama bekerja di sini?" Tanya Mika. Ia mulai melancarkan aksinya untuk bertanya pada banyak hal. "Hmm," Ina tampak berpikir. "Setahu saya Koki Agnes sudah tinggal di sini sekitar... Hmm, 20 tahun kalau tidak salah. Tapi kalau tidak salah dengar ya, Non. Suci, ART keluarga dr. Laurie banyak tahu hal daripada saya." Ina terdengar seperti mencicit ketika ia menjelaskan. Pastinya sang ART sudah mengetahui maksud Mika yang ingin mengorek banyak informasi darinya. "Oh, dua puluh tahun ya..." Mika mengangguk-angguk sambil mengunyah pelan. "Tapi jika Nona bertanya siapa pengurus rumah yang sudah tinggal lama di sini..." Ina berkata lagi dengan suara ragu. "...yang saya tahu Pak Rizal sudah tinggal di sini dari turun temurun. Keluarga Pak Rizal adalah pengurus khusus rumah." "Oh ya?" "Iya. Istri Pak Rizal dulunya adalah koki. Namun meninggal karena penyakit hati. Posisi istri Pak Rizal pun digantikan oleh Koki Agnes." "Pengurus khusus ya tadi kamu bilang?" Mika mencoba mengingat apa saja yang baru saja dibahas oleh Ina. "Iya," Ina mengangguk. Tampaknya ia nyaris lupa jika saat ini ia sedang bergosip dengan salah satu Tuan Rumahnya. "Pak Rizal dan Mas Nata adalah pengurus rumah khusus. Tugas utama mereka biasanya mengurus taman dan halaman. Juga menjaga rumah. Walau sebenarnya mereka bisa apa saja. Kadang mereka bisa disuruh untuk menjadi asisten atau bahkan sopir pribadi. Madam Lenka paling sering meminta Mas Nata membantu beliau. Sementara Nyonya Nadia lebih sering meminta Pak Rizal menyopiri mobil." Mika teringat pada Nadia yang tadi siang masuk ke dalam mobil dengan ayah Nata yang mengemudi. Pekerjaan konyol. Pikir Mika di dalam hati. Nata dan ayahnya adalah petugas khusus di rumah ini, mereka dapat melakukan apa saja namun yang dimiliki oleh Nata adalah ponsel butut dengan layar penuh baret. Tidak sepadan karena taman dan halaman di rumah ini sangat besar. Bagaimana bisa mereka mengurusi semuanya hanya dengan berdua? Mika semakin meragukan kekayaan keluarga Angkasa. "Berapa usia si Nata?" Tanya Mika, menahan dirinya agar tidak terlihat penasaran. Ia menangkap senyum malu-malu Ina. Oh ya, pasti semua orang di rumah ini mengidolakan Nata. Sudah pasti kan? Dengan standar ketampanan Nata, wanita normal pasti akan tertarik. Ina sedikit mencondongkan diri ke arah Mika. "Mas Nata memang menarik," bisik Ina, menahan cekikikan. "Mirip artis Korea yang ganteng itu, Non. Tahu nggak? Ji Changwook!" Tapi menurut Mika, jika Ina mengenal Jang Kiyong, salah satu aktor Korea yang sedang naik daun karena beradu akting dengan senior aktris Shin Min Ah, tentu Ina akan sepakat jika wajah Nata agak lebih mirip dengan Jang Kiyong ketimbang Ji Changwook. Hei, apa-apaan ini? Kenapa ia dan Ina malah membanding-bandingkan wajah Nata? Bahkan sebelumnya Mika membandingkan Nata dengan wajah Leonadro Dicaprio muda di film Titanic. Pintu menjeblak terbuka tanpa pemberitahuan apa pun, nyaris membuat Ina memekik, dan dengan gerakan gesit yang terlatih, Ina telah bangkit dari kursi lalu bergeser, menahan teriakannya, tepat pada saat seorang wanita berjalan masuk diiringi bunyi sepatu dengan tumit tinggi berkelotak di atas lantai keramik. "Di sini kamu rupanya." Lenka lah yang berjalan masuk, mendekati Mika yang melongo kebingungan dengan kehadirannya. "Aku meneleponmu berkali-kali." Ekspresi Lenka terlihat keras. Mika susah payah menelan makanan yang masih dalam kunyahannya. "Maaf, Tan. Ponsel saya ketinggalan di kamar." Lenka menarik napas, tampak sangat kesal. Mika mencoba menebak berapa kali Lenka berusaha menghubunginya. "Kalau begitu selesaikan makan siangmu." Perintah Lenka. "Setelahnya pergi ke Rumah Induk. Beritahu aku jika kamu sudah siap." Belum sempat Mika menjawab, Lenka telah berputar pergi keluar dari ruang makan. Kepergiannya hanya meninggalkan gaung dari pukulan tumit sepatunya di lantai keramik. Mika yang masih melongo karena keterkejutannya terhadap kehadiran Lenka disadarkan oleh Ina yang panik. "Ayo, Non. Lekas!" __*__
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD