--
Acara makan siang itu terasa tidak nyaman bagi Mika. Mereka semua makan dalam hening, tak ada satu pun yang membuka percakapan seolah ada peraturan tak tertulis yang menyatakan bahwa tidak ada yang boleh berbicara selama sedang makan. Maka Mika pun mengunyah pelan-pelan makanan di dalam mulutnya, berusaha untuk tidak membuat kegaduhan dari kunyahannya, mencoba meniru bagaimana keluarga Angkasa bertingkah laku, makan dalam diam dan tenang. Menjemukan.
Sumpah, Mika baru saja berada di sini, tak lebih dari dua hingga tiga jam dan ia semakin tidak betah.
Terlihat gerakan Laurie yang baru saja selesai makan, pria tua itu meletakkan sendok dan garpunya. Kemudian entah apakah kebetulan atau memang sudah aturan, semua yang ada di meja pun berhenti lalu meletakkan sendok dan garpu sebagaimana yang dilakukan oleh Laurie.
Mika belum selesai makan, ia melongo memandang sekitarnya yang sudah tidak lagi memegang sendok dan garpu, mereka semua minum nyaris berbarengan. Bahkan Nadia pun terlihat terburu-buru untuk minum.
Kebingungan Mika belum selesai. Pintu menjeblak terbuka, tiga orang memasuki ruang makan itu. Dua orang asisten rumah tangga yang mendorong troli mengikuti seorang wanita yang mengenakan topi koki. Wanita tua berambut ubanan dengan topi koki berdiri di samping ujung meja, agak dekat Laurie duduk, memberi isyarat dengan menganggukkan dagu, lalu dua asisten rumah tangga bercelemek putih mulai merapikan piring dan gelas yang berada di atas meja, memindahkan semuanya ke atas troli.
"Eum, aku belum selesai..." Kata Mika pelan ketika piringnya yang masih penuh direbut begitu saja. Bahkan asisten rumah tangga itu mengambil sendok dan garpu dari tangan Mika, nyaris dengan paksa.
Nadia menyentuh bahu Mika. Mika menoleh kepadanya, menunjukkan wajah yang begitu kebingungan.
Nadia memberikan senyum kecut, ia menggelengkan kepala tanda jika Mika harus mengikuti apa saja yang terjadi di sini.
"Nanti aku jelaskan," bisik Nadia pada Mika, hampir tidak terdengar namun Mika berhasil menangkapnya dari gerakan mulut Nadia.
Maka Mika pun memutuskan untuk diam. Hingga akhirnya meja telah bersih dari bekas perangkat makan siang. Ketika dua asisten rumah tangga pergi sambil mendorong troli yang berisi peralatan bekas makanan, dua asisten rumah tangga yang lain muncul sambil membawa troli yang berbeda. Dengan cekatan dua orang asisten rumah tangga yang baru segera menyajikan makanan penutup di meja.
Mika yang belum merasa kenyang bersyukur ketika melihat puding pandan diletakkan di depannya. Kali ini Mika segera memakan pudingnya sebelum acara makan itu selesai mendadak seperti tadi.
Tapi kali ini berbeda, keluarga Angkasa mulai mengobrol santai sambil makan makanan penutup. Mika lagi-lagi dibuat melongo.
"Apakah kamu sudah bisa mengerti?" Bisik Nadia kepada Mika. Ia memberikan senyum geli karena Mika masih melongo. "Aku dulu juga seperti kamu ketika pertama kali bergabung dalam keluarga Angkasa." Ia menjelaskan dengan bisikan.
"Jadi kita harus makan dalam diam?" Tanya Mika. Sebelumnya ia tidak menyukai Nadia namun saat ini sepertinya hanya Nadia yang bisa menjadi sekutunya. Nadia bisa dibilang "orang baru" di dalam keluarga aneh ini meski sudah tinggal selama dua tahun di rumah ini.
"Iya," Nadia mengangguk. "Dan masih ada banyak aturan lainnya. Tidak tertulis. Namun dihafalkan turun-temurun."
"Dihafalkan?" Ulang Mika dengan dahi berkerut.
"Ya, tenang saja. Aku sudah menuliskannya. Jadi kamu bisa menghafalnya nanti dengan catatanku."
Jawaban Nadia tidak membuat Mika merasa lega. Intinya dia harus menghafal aturan yang ada di dalam suatu keluarga. Bahkan ia tidak hafal visi dan misi perusahaannya setiap kali dijadikan kuis berhadiah dalam setiap acara perusahaan.
"Tapi tenang saja, kita akan sangat jarang makan bersama seperti ini," Nadia kembali menjelaskan. "Keluarga Mas Laurie biasanya makan di rumah mereka sendiri di rumah sayap kiri. Mbak Lenka pun begitu, beliau kan tinggal di rumah sayap kanan. Biasanya hanya aku dan Anita makan di Rumah Utama. Jadi kamu nggak perlu khawatir."
Mendengar penjelasan Nadia, Mika bernapas lega. Syukurlah mereka tidak perlu makan bersama seperti ini setiap hari. Ia merasa masalah itu tampaknya lebih buruk daripada masalah ia satu rumah dengan Nadia. Dalam sekejap saja ia merasa telah menjadi sekutu Nadia.
Membayangkan seorang Nadia yang muda dan cantik, tiba-tiba menjadi istri dari seorang pria tua, lalu memiliki anak. Dan dua tahun kemudian, setelah pria tua itu meninggal, terangkat fakta mengejutkan jika si pria tua sudah menikah secara diam-diam dengan wanita tidak jelas, dan memiliki seorang putri yang sudah dewasa. Bahkan sebaya dengan istri mudanya sendiri.
Masalah ini pelik sekali. Intinya adalah... selama kau memiliki uang, apa pun bisa saja terjadi dalam hidupmu.
"Jadi... Mikaila..." Fleur tiba-tiba berkata nyaring diantara gumaman obrolan di meja makan.
"Mika," jawab Mika segera, mengoreksi panggilan yang lebih ia sukai. Dan ia tidak bermaksud berbicara selantang itu. Namun ia menjawab dengan suara nyaring yang tegas dan terkesan sok.
Meja itu mendadak sepi dari gumaman obrolan. Setiap pasang mata telah tertuju ke arah Mika.
"Ya, Mika..." Fleur mengoreksi panggilan Mika, nyaris cemberut. "Kau benar-benar baru tahu jika ayahmu adalah Louis Angkasa?"
Mika tahu kemana arah pembicaraan ini. Nada suara Fleur benar-benar tidak terdengar enak.
"Ya. Saya tidak tahu." Jawab Mika apa adanya.
Fleur berdecak geli. "Yah, tentu kau sangat terkejut ketika mendengarnya. Bahkan kami semua di sini juga terkejut. Mbak Lenka yang menyampaikan berita itu pada dua malam setelah pemakaman Mas Louis pun nyaris kesulitan dalam menyampaikan hal ini kepada kami."
"Leona yang memberitahuku," Lenka membuka suara.
Fleur menampilkan ekspresi tidak senang ketika percakapan diambil oleh Lenka begitu saja. Hal ini menunjukkan jika Fleur sangat suka menjadi pusat perhatian. Jika dipikir-pikir, wajah Fleur tampak tidak asing bagi Mika, mirip dengan salah satu artis. Atau kah Fleur memang memiliki riwayat sebagai seorang artis? Siapa tahu.
"Leona, adik tiri kami yang paling bungsu." Lenka menjelaskan seolah memahami keterbatasan otak Mika dalam mengingat.
Mika langsung teringat dengan informasi tentang Leona yang disampaikan oleh Laurie sebelum makan siang.
"Dia masih tinggal di luar negeri," bisik Nadia, baik hati mengingatkan Mika. "Mas Louis sangat sayang dengan Leona. Dan usianya sama denganmu."
Mika terperangah. Keluarga ini punya seorang putri yang seusia dengan cucu serta istri muda dari putranya. Oh ya Tuhan.
"Leona menyimpan surat wasiat Mas Louis. Lalu membacakannya kepadaku melalui video call. Aku juga sudah mendapatkan scan tulisan tangan wasiat Mas Louis. Mas Louis melakukannya ketika dia singgah di Kanada dua tahun lalu, pada saat mengunjungi Leona." Lenka menjelaskan kembali. "Surat wasiat itu telah dikirimkan dari Kanada ke Indonesia dan sampai dengan aman di tangan Pengacara Erwin."
"Yah, sesuatu yang mengejutkan." Komentar Fleur lebih terdengar seperti keluhan. "Mas Louis membuat surat wasiat dua tahun lalu dengan menyebutkan anak kandungnya yang tidak pernah ia lihat, dan menempatkannya sebagai pewaris sah semua kekayaannya. Itu... Sangat-sangat mengejutkan." Fleur memelankan suaranya pada kalimat terakhir dengan membelalakan pasang matanya yang bereyeliner tebal pada Mika.
Seketika Mika teringat dengan tokoh horor melihat ekspresi wajah Fleur. Mungkin Fleur pernah tampil di salah satu film horor Indonesia.
"Mereka sudah menikah," kata Lenka, wajahnya mulai kemerahan. "Ayah kami adalah satu-satunya yang tahu tentang persoalan itu, namun Ayah tidak merestui hubungan Mas Louis. Karena itu Mas Louis memberontak."
"Ya, aku baru ingat Louis pernah kabur tiga puluh tahun lalu," Laurie mencetus. "Aku tahu masalahnya adalah persoalan wanita. Tapi aku tidak tahu jika dia berani menikah diam-diam bahkan memiliki anak. Harusnya aku tidak terlalu polos. Louis minggat selama setahun, tentu apa saja bisa terjadi."
"Mas! Yang benar saja?" Tanya Fleur heran. "Bagaimana kalian bisa tidak saling mengetahui masalah satu sama lain? Paling tidak kalian menyelidikinya atau bahkan bertanya langsung pada Mas Louis saat itu?"
"Yah," Laurie melebarkan kedua tangannya, mengangkat bahu. Lalu ia menoleh pada Lenka. "Kami punya banyak kesibukan sebagai anak dari keluarga Angkasa. Selain masalah wanita, Louis juga tidak ingin mengelola perusahaan Ayah. Ayah bolak-balik mengecam Louis. Hanya itu yang kuingat."
"Pada saat itu kau berharap Ayah memberikan semua yang ditolak oleh Louis kepadamu. Iya kan?" Sindir Lenka tiba-tiba pada Laurie. "Karena itulah kau fokus dengan pekerjaanmu. Berharap Ayah dapat menaruh perhatian kepadamu."
Laurie mendengus mendapatkan sindiran dari adik kandungnya sendiri itu, sementara suasana di ruang makan semakin dingin dan menegangkan.
"Kau yakin menyebutku begitu, Lenka sayang? Aku sudah memilih jalanku sebagai dokter. Sementara yang memilih jurusan bisnis adalah Louis dan kau. Kau... Lebih tertarik dengan semua kekayaan ayah yang diberikan semua kepada Louis ketimbang aku. Jangan menyindir aku saja. Kau... Yang iri hati karena merasa kita berdua bagaikan anak tiri dan tidak mendapatkan apa-apa karena semua adalah milik Louis."
"Tidak! Aku tidak pernah berpikir begitu!" Lenka tiba-tiba berteriak, galak dan bergema menyakitkan seperti petasan di ruangan itu. Wajahnya sudah ungu menahan emosi.
Sementara Mika terperangah. Ia seperti sedang menonton sebuah drama saja. Drama teater apakah seseru ini jika ditonton secara langsung? Ia bisa melihat emosi yang terpancar di wajah para aktor secara nyata, mendengar langsung suara para aktor dalam melafalkan dialog mereka, dapat mendengar tekanan setiap kalimatnya yang mencapai langsung ke telinganya dan membuat jantungnya berdebar-debar karena tersentuh.
"Tapi begitulah... Ayah memang lebih menyukai Louis daripada kita berdua." Laurie berkata dengan nada kalem, berubah kembali menjadi dokter baik hati yang dikenal Mika sebelumnya. Laurie bagaikan seorang dokter yang sedang menghadapi pasien, menyatakan dengan pasti jika pengobatannya akan berhasil. Pastilah profesinya itu sudah ikut andil dalam membangun karakternya yang sekarang. Mika bisa membayangkan sosok Laurie di masa lalu yang adalah anak kedua dengan segala temperamen darah mudanya, iri hati dengan kasih sayang Ayahnya terhadap sang kakak sulung.
"Terserah," kata Lenka mendesis.
"Ya... Ya..." Laurie berdehem. "Kami kadang sering bertengkar seperti ini secara tiba-tiba," Laurie menyampaikan hal itu kepada Mika, satu-satunya orang asing di meja ini. "Kau mengerti kan? Kakak dan adik tidak selalu sepakat pada persoalan apa pun."
Mika hanya mengangguk dengan ekspresi bengong bercampur bingung. Ia salah tingkah ketika semua mata tertuju kembali kepadanya.
"Louis hanya minggat selama setahun. Entah bagaimana Ayah berhasil merayunya agar kembali. Tapi Louis benar-benar kembali dan menjadi lebih berambisi daripada sebelumnya. Kurasa dia dicampakkan oleh pacarnya itu." Kata Laurie. "Oh, maaf." Ia kelepasan, melirik sekilas apa Mika. "Maksudku... Ibumu."
"Apa kau mengenal pacar mas Louis, sayang?" Tanya Fleur.
"Tidak," Laurie melirik tidak nyaman ke arah Mika lagu. "Aku tidak pernah bertanya bahkan melihatnya secara langsung. Lenka yang mencari tahu." Ia melemparkannya kepada Lenka dan membuat Lenka memberengut kesal.
"Kau tahu." Kata Lenka, mendengus sinis. "Kau tahu dan menyebut wanita itu dengan berbagai sebutan tidak pantas."
Seketika Mika merasa kehilangan seluruh darah di wajahnya.
Laurie yang Mika kenal tak berapa lama mendadak mengecewakannya. Benarkah Laurie merendahkan Ibunya? Pastinya Laurie sama seperti orang-orang di sekitarnya, yang mengata-ngatai ibunya sebagai wanita malam dan hamil di luar nikah karena menjadi single mom.
"Lenka!" Kata Laurie gusar dan Lenka mendengus lagi.
Mika juga menjadi tidak menyukai Lenka, wanita yang datang ke kosnya, melacaknya dengan bersusah payah dan berkata-kata lembut dalam menyampaikan surat wasiat ayah kandungnya yang tidak pernah bertemu selama dua puluh sembilan tahun. Wanita itu memanfaatkan momen ini dengan mengadu betapa rendahnya sang kakak tengah.
Nadia tiba-tiba menggenggam sebelah tangan Mika, memandang prihatin pada Mika yang tentu merasa tersinggung.
"Seharusnya Leona di sini," keluh Laurie. "Dia bisa menyampaikan semua hal ini dengan lebih baik daripada kita." ia pun mendengus.
"Kenapa kita selalu harus meminta Leona dalam mengurus masalah keluarga kita? Leona adalah saudara tiri. Dan masalah ini ada diantara kita bertiga sebagai saudara kandung. Jadi kita berdua lah yang seharusnya menyelesaikan permasalah ini." Ujar Lenka dengan nada tidak mengenakkan.
Mika ingin segera kabur dari drama keluarga kaya raya ini. Dia sudah mulai pening.
"Mas Laurie dan Mbak Lenka," mendadak suara manis dan lembut Nadia memecahkan ketegangan diantara kedua bersaudara itu. Seketika semua tatapan sinis terarah pada Nadia.
Nadia mendadak menjadi benteng pertahanan Mika yang sudah tidak tahan menjadi tempat sorotan sinis itu.
"Seperti yang sudah disampaikan oleh surat wasiat Mas Louis," ujar Nadia lancar dan lembut. "Mas Louis sudah pernah menikah dengan Ibunda Mika. Dan selama ini Mas Louis tidak pernah putus rantai dengan hubungannya dengan Ibunda Mika."
Mika merasa semua organ dalam perutnya mencelos. Apa? Tidak pernah putus rantai?
Apa maksudnya itu?
"Jadi sebaiknya kita sudah selesai dalam menerima kebenaran yang disampaikan oleh surat wasiat Mas Louis. Sekarang, Mika adalah anggota resmi keluarga Angkasa."
Hening itu terasa mencekam. Mika bisa merasakan udara dingin itu mengantarkan pendapat keberatan dalam benak para anggota keluarga Angkasa mengenai kehadiran dirinya yang tidak diinginkan.
"Saya ingin mewakilkan sebagai istri almarhum Mas Louis, untuk menyambut kedatangan putri Mas Louis dalam keluarga kita, Keluarga Angkasa." Nadia memberikan sambutan itu dengan suara manisnya. Ia menoleh pada Mika di sebelahnya, tersenyum lebar tampak bahagia, Satu-satunya yang tersenyum diantara orang yang duduk di meja dan melemparkan sorot aneh kepada Mika.
Dan Mika merasa telah terjebak di antara hutan dan jurang.
__*__