--
Acara makan siang di Rumah Utama telah berakhir. Keluarga Laurie lebih dulu bergerak pergi yang kemudian disusul oleh Lenka. Anita, saudara kembar Nadia yang misterius pun pergi menyusup entah kemana. Mika yang akhirnya dapat meninggalkan ruang makan itu segera berdiri dengan tidak sabar. Ia pun berjalan timpang dengan kruk di bawah ketiak kanannya, dan Nadia dengan setia membantunya berjalan.
Mika sudah dapat menguasai ketimpangan dan cara berjalan menggunakan kruk, sehingga ia merasa risih dengan bantuan Nadia yang ia rasa sudah tidak perlu lagi. Namun ia merasa tidak enak untuk mengusir wanita itu mengingat jasa Nadia dalam menyelamatkannya di acara makan siang. Nadia berjalan bersama dengannya hingga sampai ke kamar. Mika menjadi kecewa ketika Nadia memilih duduk di bangku, sementara ia duduk di pinggir ranjang. Diam-diam berdoa agar Nadia segera menyingkir dari dalam kamarnya.
"Aku mencatat semuanya di ponsel," Nadia berkata. Sementara Mika mengerutkan dahi, mencari tahu arah pembicaraan Nadia.
"Mengenai peraturan tak tertulis Keluarga Angkasa," Nadia mengingatkan, terkikik melihat wajah bengong Mika.
"Ah, ya..." Mika mengangguk, teringat betapa tidak nyamannya dengan aturan aneh pada saat makan siang. "Jadi pada saat makan makanan utama kita tidak boleh berbicara? Dan kita harus ikut berhenti ketika yang tertua selesai makan?"
"Tepat sekali!" Kata Nadia. "Aku sudah mengirimkan catatanku melalui pesan ke nomormu."
Mika sedikit menggeser tubuhnya mendekati nakas untuk mengambil ponselnya yang baru saja bergetar. Ia melihat pesan dari nomor tidak dikenal, sudah pasti nomor Nadia. Tanpa diminta ia segera menyimpan nomor Nadia. Namun ia tidak ingin membaca catatan itu sekarang.
"Ada apa?" Tanya Mika risih ketika menyadari tatapan Nadia ke arahnya.
"Ah, nggak..." Nadia menyengir geli. "Aku masih mengagumi betapa miripnya wajah kamu dengan Mas Louis. Apa kamu sudah pernah melihat wajah Mas Louis?"
Mika mendengus. Sungguh tidak mengenakkan mendengar orang-orang asing ini menyebutkan kemiripan di wajahnya dengan pria tidak dikenalnya itu.
"Siapa nama putramu?" Mika mencoba mencari taktik untuk dapat mengalihkan perhatian Nadia.
"Ryan," jawab Nadia segera. "Mau bertemu dengan saudaramu?"
Mika merasakan gelombang tidak mengenakkan di dalam perutnya. Sialan. Dia salah arah. Orang macam Nadia yang kelihatan polos bisa menjadi orang paling kejam dalam situasi ini karena tidak memiliki tingkat kepekaan yang tinggi. Atau Mika sendiri yang terlalu berlebihan karena tidak siap menerima fakta yang harus ia hadapi ini?
Dia baru saja mengetahui ayahnya yang merupakan seorang kaya raya yang memberikannya warisan dengan harta yang luar biasa besar. Dia juga baru mengenal Nadia yang sebaya dengannya dan adalah istri muda ayahnya. Dia juga memiliki saudara, seorang balita berusia dua tahun. Berbeda dengan Henry yang hanyalah saudara tiri tanpa ikatan darah sama sekali. Namun Mika dan balita berusia dua tahun itu sama-sama memiliki darah sang ayah. Balita itu lah saudaranya yang sesungguhnya.
"Mika?" Panggil Nadia karena Mika malah melamun.
Mika menolehkan wajahnya pada Nadia, berusaha bersikap sopan kepada wanita itu. "Aku mau istirahat."
"Oh ya," Nadia mengangguk mengerti. "Kalau begitu aku tinggal ya? Nanti sore aku akan kembali membawa Ryan." Ia tersenyum lalu berdiri. Ia menepuk bahu Mika dengan ragu-ragu, lalu pamit pergi.
Mika menghela napas lega ketika akhirnya ia ditinggal sendirian di dalam kamar. Ini terasa lebih baik, menurutnya.
Ia bergeser naik ke ranjang, bersandar ke kepala ranjang lalu meluruskan kedua kakinya. Ia mengerutkan dahi merasakan bengkak di pergelangan kakinya yang terkilir. Ia sudah pasrah menerima kesialan pada kakinya ini. Dan sekarang ia sedang menatap kosong pada sekeliling kamar besar miliknya yang tidak pernah ia impikan.
Mika memandang layar ponsel, berniat akan menelepon Henry. Namun sadar jika ia akan mengganggu Henry. Ini masih siang dan Henry pasti sangat sibuk sekali. Seketika ia merindukan kesibukan di tempat kerja. Ia tidak tahu harus melakukan apa untuk saat ini.
Mika teringat dengan catatan aturan tak tertulis Keluarga Angkasa yang dikirim oleh Nadia. Ia seharusnya segera membacanya namun masih tidak memiliki niat untuk melakukannya.
Saat ini... yang sangat ingin dilakukan oleh Mika adalah berjalan pergi dari kamar ini. Kemudian berlari menuju mobil mininya di luar sana. Selanjutnya ia membanting stir mobil untuk segera pergi dari Keluarga aneh ini.
Tapi Mika tidak punya banyak uang. Ia dan Henry sudah melepaskan rumah kos mereka yang agak besar dengan dua kamar. Sekarang Henry pindah ke kos yang lebih kecil dan lebih murah dan hanya untuk satu kamar. Itu artinya Mika benar-benar tidak memiliki rumah untuk pulang.
Sementara semua uang tabungan Mika sudah ia gunakan untuk membayarkan semua hutang-hutang ayah tirinya beserta pinjaman lainnya. Sekarang ini, yang dimiliki oleh Mika hanya lah keluarga barunya ini dan mobil mininya yang sudah lunas sejak lima tahun lalu. Ide membeli mobil itu adalah dari ayah tirinya, merupakan satu-satunya saran bermanfaat dari pria yang suka berjudi itu.
Karirnya pun berada di ujung tanduk. Tidak ada ruang lagi untuk Mika terus bekerja di posisinya. Ia tampaknya tidak akan naik jabatan dan ada banyak karyawan yang mulai mencapai levelnya dan bisa saja akan menggantikannya, namun perusahaan tampaknya tidak berniat melakukan PHK terhadap dirinya, seolah lebih suka menunggu Mika angkat kaki dengan sendirinya.
Mika membayangkan apa kata orang-orang di perusahaan jika salah satu karyawan mereka yang sudah tidak berguna rupanya adalah anak dari orang kaya raya? Gosip itu pasti enak sekali dibicarakan.
Mika adalah karyawan yang biasa-biasa saja, tidak cukup dikenal, juga tidak memiliki kinerja bagus yang dapat dibanggakan oleh atasannya yang menyebalkan itu. Mika sudah memiliki tekat yang bulat semenjak ia mendapatkan rezeki nomplok ini, yaitu ia akan segera mengundurkan diri dari perusahaan yang sudah menempanya selama enam tahun ini.
Tapi Mika tidak ingin ada gosip tentang dirinya beredar. Ia tidak suka menjadi pusat perhatian. Cita-citanya adalah bekerja dengan sewajarnya dan mendapatkan gaji bulanan yang mencukupi kebutuhan hidupnya. Ia tidak perlu menjadi karyawan terbaik atau apa pun yang penting ia tidak pernah melanggar aturan apa pun. Kedengaran menyedihkan tapi itulah pilihan hidupnya.
Namun mengetahui ia tidak memiliki masa depan lagi di perusahaan, seperti mati rasa saja, ia mulai memikirkan masa depan yang baru setelah mendapatkan rezeki nomplok ini.
Ia bersedia menerima warisan ayahnya itu. Bagaimana pun uang adalah segalanya. Jadinya ia menerima undangan untuk datang ke rumah Keluarga Angkasa. Dia akan melihat seberapa besar peluangnya untuk hidup nyaman di sini. Menjadi orang kaya seharusnya bahagia kan?
Mika mulai mengantuk. Ia menguap lebar dengan menutup kuapannya dengan telapak tangan. Dan matanya pun terpejam.
--
Gerakan dan sedikit keributan kecil membangunkan Mika yang terlelap nyenyak. Mika berusaha membangkitkan dirinya ke dunia nyata, ia luar biasa mengantuk. Ia bangkit duduk, menguap lebar.
Ia mengambil ponsel dan melihat jam yang berbentuk angka-angka di layar. Sudah mau pukul tiga sore rupanya.
Suara-suara itu pun menarik perhatian Mika. Ia bergeser menjatuhkan kedua kakinya, lalu berjalan timpang tanpa kruk mendekati balkon.
Namun langkahnya terhenti, matanya membelalak pada bayangan tinggi besar di balik tirai pintu jendela balkon.
Siapa orang itu? Mengapa orang itu berdiri di sana?
Kecurigaan dan pikiran negatif menguasai pikiran Mika. Bayangan itu tidak bergerak. Seperti sedang memandanginya dari luar.
Dengan ragu dan takut, ia maju dengan langkah timpang, menyesali berjalan tanpa kruk karena bengkak di pergelangan kakinya terasa meradang.
Mika menjulurkan ujung jarinya menyentuh tirai putih, lalu menggesernya membuka dengan satu sentakan.
Di balik tirai, ada pintu kaca jendela. Dan tidak ada makhluk tinggi besar yang sedang mengawasinya. Hanya seorang pemuda tampan dengan ukuran tubuh normal sedang berdiri di ujung balkonnya. Nata menoleh dan pasang mata mereka berdua bertemu.
Seketika perut Mika terasa bergejolak mendapatkan tatapan itu. Ia ingin segera berbalik namun Nata malah mendekati pintu jendela. Jujur saja, gerakan Nata seperti gerakan seekor kucing yang meminta untuk memasuki rumah. Dan entah apakah ia sadar atau tidak, ia membuka pintu balkon.
Udara hangat memasuki kamarnya yang dingin ber-AC. Sementara Nata tersenyum, tampak senang karena Mika membuka pintu balkon.
"Siang, Nona." Sapa Nata.
"Panggil aja Mika." Kata Mika risih, dan dia sepertinya tidak berpikir jernih. Ia lupa jika Nata adalah salah satu pengurus rumah yang pastinya dianggap level rendah bagi Keluarga Angkasa.
Nata terlihat tertegun. Mika mengira Nata akan menolak dengan sopan.
"Mika," kata Nata, dengan ekspresi takjub yang aneh. "Saya boleh memanggil begitu?"
Jantung Mika berdebar-debar ketik mendengar suara pria itu menyebut namanya. Ini tidak sehat bagi Mika. Sosok Nata terlalu menyusahkan dirinya yang mudah terbuai.
Tidak, tidak. Ia sudah sering bertemu dengan banyak lelaki. Biasanya tidak semudah ini ia bersikap konyol dan salah tingkah. Bahkan adik tirinya juga adalah kategori pria tampan. Hal ini membuat teman-temannya iri karena ia bersaudara dengan pria tampan.
Tapi ada sesuatu yang membuat Mika kikuk dalam menghadapi Nata, seorang pria yang hanyalah seorang pengurus rumah.
"Terserahlah," kata Mika, menyadari nada suaranya jutek dan matanya tidak berhasil menatap wajah pria itu.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" Tanya Mika sambil memandang balkonnya yang luas dan dipenuhi pot-pot tanaman.
"Aku menata balkon kamu agar terlihat cantik." Kata Nata yang jelas-jelas meninggalkan gaya bicara sopan dan kaku. "Tapi aku nggak tahu kamu suka bunga apa."
Kalimat terakhir terasa aneh didengar. Pertanyaan tentang kesukaan dari pria tentu terdengar mengkhawatirkan bagi hati Mika yang lemah.
"Aku nggak begitu suka bunga," tanpa sadar Mika berkata jujur, membuat Nata terdiam. Mika mengira Nata yang pastinya bertugas mengurusi tanaman dan bunga di halaman area rumah ini akan tersinggung. Seorang penghuni baru dari kota yang tidak menyukai tanaman, sungguh pasti tidak enak lagi diajak bicara. Nata pasti akan meninggalkannya karena tidak menarik.
"Begitu?" Nata berkomentar. "Kalau begitu kamu akan segera suka karena ada banyak bunga di sini." Pria itu tersenyum, tidak mundur sama sekali.
Perasaan Mika malah menghangat karena Nata tidak segera mundur begitu saja. Atau memang beginilah pekerjaan Nata? Berbicara sopan dan membuat majikannya bahagia. Pastinya begitu.
"Apakah kamu akan tinggal di sini?"
Mika mengerutkan dahi mendengar pertanyaan Nata.
"Kenapa bertanya?" Tanya Mika.
"Ah, tidak..." Ujar Nata. "Aku senang saja melihat putri kandung almarhum Pak Louis tinggal di sini. Ini masih terasa tidak nyata bagiku."
Mika penasaran mengapa Nata terlihat begitu takjub daripada dirinya sendiri.
"Kamu akrab ya dengan..." Mika merasa ragu menyebut si Louis yang sudah meninggal itu sebagai Ayah. Bahkan ia tidak pernah memanggil Ayah Henry dengan panggilan 'Ayah' atau sejenisnya. Dia hanya memanggil Om saja.
Nata tersenyum lagi. "Akrab?" Ulangnya. "Tidak. Hanya saja... beliau adalah orang yang sangat baik."
Nata berkata dengan menunjukkan ekspresi seperti mengidolakan seseorang. Dan Mika merasa muak. Orang baik apanya? Pria itu meninggalkan Ibu dan Mika kan?
Ponsel Mika mendadak berdering, membuat Mika menolehkan wajah ke arah nakas samping tempat tidur. Ia menaruh ponselnya di atas sana.
"Itu pasti Ibu Lenka," tebak Nata. "Dia ingin bertemu dengan kamu. Aku pergi ya," ia tampak buru-buru berkata. "Jika kamu ingin bunga yang lain untuk menghias balkon kamu, kamu bisa memberitahu aku."
Mika belum sempat berkata apa pun ketika Nata berbalik pergi lalu meloncati pagar balkon.
Ponsel masih berdering namun Mika masih memandangi punggung pria itu yang berjalan menjauh.
__*__