07

1422 Words
-- Dengan langkah tertatih dan timpang, kembali dibantu oleh Nadia, Mika berjalan dari kamar menuju sebuah ruangan di mana Lenka sudah duduk dengan gaya tegak nan kaku. Yaitu punggung tegak, tangan bersedekap dan kaki disilangkan. Terlihat jelas sifat tertutup dan menghakimi sang saudara ketiga. "Aku lupa jika kamu terluka," kata Lenka setelah Mika duduk di sofa, tepat di seberangnya. Ia melirik pada Nadia yang menyusul duduk di sebelah Mika, melemparkan sorot tajam pada Nadia. Namun mulutnya terkatup rapat. Nadia segera memahami isyarat itu. "Oh, kalau begitu aku pergi ke dapur. Akan kuminta Ina untuk menyiapkan teh." Ia pun beranjak pergi. Pintu pun menutup ketika Nadia lenyap dari dalam ruangan. Mika merasa was-was karena ia telah ditinggal berdua sajs bersama Lenka di ruangan tertutup ini. Ruangan ini mirip dengan bentuk kamarnya. Dengan dinding berwarna kecokelatan, tidak menggunakan cat putih seperti di sepanjang ruangan lainnya. Rasanya seperti memasuki dunia lain karena perbedaan cat dinding yang kontras. "Ini dulunya kantor pribadi Mas Louis." Lenka menjawab pertanyaan di dalam kepala Mika yang tidak terucapkan. Mika mengamati ruangan yang berdekorasi kaku itu. Meja dan kursi empuk kantor, perangkat sofa dan meja duduk yang saat ini mereka berdua tempati, rak buku dengan buku-buku tebalnya. Lukisan-lukisan abstrak menggantung di dinding, tampaknya bermaksud meramaikan ruangan yang menjemukan itu namun gagal. Ruangan itu begitu suram dan kosong. "Mungkin kamu bisa menggunakannya karena kamu adalah putri kandungnya." Mika mengalihkan pandangan kepada Lenka di seberangnya, mengerutkan dahi. Ia ingin bertanya : untuk apa ia menggunakan ruangan ini? Lenka tersenyum kecut, telah membaca langsung pertanyaan itu melalui ekspresi wajah Mika. "Yah, mungkin suatu hari akan berguna untuk kamu," kata Lenka. "Sebab Nadia tidak akan punya urusan untuk menggunakan ruang kantor ini. Hidupnya sudah cukup bahagia dengan uang hasilnya menjanda." Mika nyaris akan mengorek kupingnya dengan kelingking. Ia baru saja mendengar hinaan Lenka terhadap istri muda sang kakak sulung yang telah meninggal. "Aku minta maaf dengan apa yang terjadi pada saat makan siang." Lanjut Lenka, namun tidak terlihat nada suara atau pun ekspresi yang menunjukkan penyesalan. Mika menduga hal tersebut disebabkan oleh ekspresi kaku di wajah Lenka saja. "Situasi ini memang sungguh menyebalkan. Aku dan Mas Laurie masih merasakan kejutan mengenai surat wasiat Mas Louis. Lalu kamu hadir di hadapan kami. Ini seperti menunjukkan betapa timpangnya Keluarga Angkasa." Tanpa sengaja pasang mata Lenka berhenti pada kaki Mika yang terkilir. Lenka berdehem, mengalihkan pandangannya pada wajah Mika yang ternganga kepadanya. "Cukup lama Mas Louis menyendiri tanpa hubungan spesial dengan lawan jenis setelah kekacauan yang ia buat dengan ibumu. Kami tidak tahu jika dia benar-benar telah menikah dan punya anak, ayah kami terpaksa merestui diam-diam namun tidak memberitahukan hal ini kepada kami. Jika kami tahu jika dia sudah menikah dan punya anak, mungkin aku dan Mas Laurie akan membantumu Mas Louis melawan Ayah. Ini sangat memalukan karena seorang keluarga Angkasa telah menelantarkan istri dan anaknya." Mika memang kesal dengan fakta itu. Namun ia beruntung karena hidupnya cukup bahagia meski hanya bersama dengan ibunya. Apakah semua uang yang dihasilkan oleh ibunya adalah berasal dari uang ayah kandungnya itu? "Mas Louis tidak menceraikan ibu kamu. Dia juga masih mengirimkan uang untuk kalian. Aku mengeceknya dan uang itu terus masuk ke rekening ibu kamu hingga..." Lenka berpikir sebentar. "Hingga Ibumu meninggal kukira." Ya, dan semenjak itu hidup Mika mulai sulit karena ia tinggal bersama dengan Ayah tiri penjudi dan adik tirinya yang tampan. Namun Farhan, ayah tirinya, meski pejudi tidak pernah macam-macam terhadap Mika. Farhan termasuk kategori ayah yang baik. Dan Henry selalu mendukungnya. Bisa dibilang hidupnya benar-benar bahagia meski mulai sulit. Dan setelah Farhan dipenjara karena telah menipu banyak orang, Mika mulai keteteran karena harus bekerja dan membiayai kuliah Henry serta hutang-hutang ayah tirinya. Mika berpikir, apakah ayah kandungnya tahu jika ia kesulitan karena ayah tiri yang tidak pernah dinikahi secara resmi oleh ibunya? Jika pun Louis tahu, pastinya Louis merasa marah dan menutup pintu rumahnya dari Mika yang tidak tahu apa-apa ini karena kecewa terhadap ibunya. Permasalahan hubungan orang dewasa sungguh rumit, celetuk Mika di dalam hati. "Apakah warisan Louis itu begitu banyak?" Mika menyadari jika ia sudah tidak sopan. Dan itu fatal melihat raut wajah tidak suka Lenka langsung tercetak jelas. Rahangnya terlihat mengeras. Lenka seperti sedang memandang seekor kucing liar yang mengganggu langkahnya di depan pintu supermarket. Mika menelan ludah. "Maaf. Saya masih belum terbiasa menerima fakta jika saya mempunyai seorang ayah." Rupanya Lenka telah bersusah payah bersikap baik terhadap Mika pada seminggu yang lalu saat menemui Mika di kos lama dengan dua kamar itu. Lenka yang keibuan dan memesona karena terlihat sukses sebagai wanita karir menyampaikan dengan bersungguh-sungguh jika Mika adalah putri kandung dari sang kakak sulung yang baru saja meninggal. Berdasarkan surat wasiat Louis, Mika mendapatkan seluruh harta Louis. Dan hingga sekarang Mika belum tahu seberapa banyak nilai dari seluruh harta pria tua itu. Saat ini di hadapan Mika duduk seorang wanita bertampang angkuh dan dingin, juga tampak jelas jika Lenka belum dapat menerima kehadiran Mika dengan ikhlas. "Aku ingin memperingatkanmu agar tidak bertindak ceroboh," kata Lenka, melirik pada kaki kanan Mika yang terkilir. Jangan-jangan Lenka berpikir jika tindakan ini adalah upaya untuk menyakiti agar Mika mendapatkan perhatian. Seketika Mika merasa jengkel, ia berniat akan meluruskan kesalahpahaman Lenka yang tak terucap itu. "Saya tidak sengaja terjatuh," kata Mika. "Ya, aku tahu." "Saya tidak melihat ada lubang di sana. Saya... hanya ingin melihat taman bunga." Lenka terdiam beberapa saat. Ekspresinya melunak, sepertinya ia menyadari telah membuat Mika kesal setengah mati. "Mengenai surat wasiat," Lenka kembali mengganti topik dengan mudahnya. "Notaris Erwin akan menyampaikannya pada Sabtu malam. Kita semua, seluruh keluarga Angkasa, akan berkumpul kembali untuk mendengarkan." Mika terdiam. Dan perhatiannya teralihkan pada gagasan bahwa akan ada makan malam, yang artinya ia harus melewati kondisi tidak mengenakkan itu selama berkumpul dengan seluruh keluarga. "Ayahku akan hadir juga," kata Lenka. "Ayah?" Ulang Mika ragu. "Ya. Kakekmu." Mika tertegun mendengarnya. "Aku tahu kamu terkejut. Tapi ayahku memang masih hidup. Usianya sudah hampir seratus tahun. Lucu ya? Sepertinya dia ditakdirkan oleh Tuhan untuk menonton kekacauan yang telah ia perbuat terhadap Mas Louis sampai akhir." Lenka tampak jelas mencibir. Pastinya Lenka benar-benar masih merasakan ketidakadilan karena Ayahnya selalu menganakemaskan Louis seorang. Mika mendengar sekilas tentang permasalah kakak beradik itu pada makan siang. Lenka mau pun Laurie tampaknya tidak keberatan semua orang tahu jika hanya Louis yang menjadi anak emas dari ayah mereka selama ini. "Apa saya harus menemui..." Mika ragu-ragu untuk menyebutkan panggilan kakek. Luar biasa. Ia sangat kaget karena begitu banyak mendapat kabar baru. Dia punya ayah kandung. Dia punya Om dan Tante. Dia juga punya kakek. Dia punya sekelompok orang yang menjadi keluarga sedarahnya. Pohon silsilah keluarganya pasti panjang dan bercabang. "Tidak perlu hari ini," kata Lenka, terlihat gelisah. "Ayahku sudah tahu kamu datang hari ini. Tapi kesehatannya sedang memburuk. Akan aku memberitahumu waktu yang tepat untuk mengunjunginya." Mika mengangguk setuju dan kelepasan antusias. Dia memang belum siap bertemu dengan pria penyebab berpisahnya ayah dan ibunya. Iya kan? Pasti orang tua itu yang membuat Louis meninggalkan ibunya? Sang kakek itu? "Kamu bekerja kan?" Tanya Lenka. Mika segera mengangguk. "Saya sudah mengajukan cuti selama tiga hari. Dan Sabtu saya libur." "Bagus," Lenka mengangguk satu kali. "Cobalah untuk beradaptasi. Kau akan tinggal di rumah utama bersama dengan... Nadia dan saudaranya itu." Ia seperti menggigit bibir ketika menyebutkan nama Nadia. Pastinya Lenka benar-benar tidak menyukai Nadia. "Karena tempat kerjamu cukup jauh, coba pikirkan untuk berhenti dan melamar lah di perusahaan keluarga. Aku bisa mencarikan posisi yang bagus untukmu, mungkin di salah satu anak perusahaan di dekat sini. Kamu lulusan apa?" "Lu... Lulusan ekonomi!" Jawab Mika segera. Begitulah yang ia harapkan. Bekerja di perusahaan keluarga! Wow! Dia telah melupakan kekesalannya terhadap sang ayah kandung yang menelantarkan dirinya dan ibunya. Uang dan kekuasaan memang segalanya kan? "Lumayan. Jika kamu berpikir untuk melanjutkan jenjang pendidikanmu, beritahu aku. Aku bisa membantumu." Lenka tersenyum dan Mika teringat dengan Lenka versi baik hati yang mendatanginya di kos pertama kali. "Terima kasih, Kak," kata Mika, antusias walau pun dia tidak memiliki keinginan untuk bersekolah lebih tinggi lagi. "Panggilan Kakak tidak cocok," Lenka mengibaskan tangannya. "Panggil Tante saja." "I... Iya, Tan." Mika menjawab kaku. "Aku juga datang ke sini untuk memberitahumu aturan tidak tertulis dalam Keluarga Angkasa namun wajib dipatuhi." Kata Lenka kemudian. Seketika Mika teringat ia belum membaca catatan Nadia di ponselnya. "Nah, dengarkan dan hapalkan." Mika merogoh sakunya, mengambil ponsel diam-diam, mencari-cari aplikasi perekam suara. Lenka tampaknya tahu apa yang sedang dilakukan oleh Mika, namun ia tidak mempersoalkannya. Ia mulai menyebutkan aturan dengan lancar dan nada membosankan. Seriusan? Mika harus mengingat semua aturan itu? Bahkan sebagiannya kedengaran tidak masuk akal! __*__
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD