Sore itu, rumah kecil mereka di Semarang disinari cahaya jingga yang lembut. Udara sehabis hujan masih terasa sejuk, membawa aroma tanah basah yang menenangkan. Nayla duduk di kursi rotan di teras belakang, memeluk secangkir s**u hangat yang baru saja dibuatkan Rafa. Wajahnya terlihat tenang, meski sesekali ia masih menatap perutnya sendiri dengan tatapan tak percaya. Rafa keluar dari kamar, membawa ponselnya di tangan. Ia baru saja selesai menunaikan shalat Ashar. Tatapannya lembut, namun tampak menahan sesuatu, campuran haru dan kegembiraan yang belum tersampaikan. “Nayla…” panggilnya pelan. Nayla menoleh, tersenyum. “Iya, Ustadz?” “Aku kepikiran mau ngabarin Ibu. Beliau pasti seneng banget kalau tahu kamu hamil.” Nayla terdiam sesaat, lalu mengangguk pelan. “Iya… kabari aja, Ustadz

