Subuh itu udara terasa lembab dan dingin. Langit masih menyisakan warna biru tua yang perlahan menipis, sementara adzan baru saja usai berkumandang dari mushola kecil yang berdiri di sisi barat pesantren Al Rifki. Mushola itu belum sepenuhnya sempurna, atapnya masih dari seng, dan lantainya sebagian besar tanah padat, tapi suara jamaah yang berzikir bersama membuat tempat itu terasa hidup dan damai. Ubed menutup shalatnya dengan menengadahkan tangan, menatap langit yang mulai beranjak terang. Wajahnya yang masih menyisakan bekas luka di pelipis kiri, sisa dari kecelakaan beberapa bulan lalu, terlihat teduh. Tapi di balik keteduhan itu, tersimpan luka batin yang belum sepenuhnya sembuh, luka karena kehilangan Abdul, anak semata wayangnya, yang meninggal dunia hanya sebulan setelah Ubed pul

