Suara ketukan palu dan dentuman semen terdengar bertalu-talu di lahan kosong yang kini mulai berubah menjadi pondasi sebuah pesantren. Di atas tanah seluas dua hektar di pinggiran Salatiga itu, berdiri papan besar bertuliskan “Pembangunan Pesantren Al Rifki – Cahaya dari Ilmu dan Akhlak”. Ustadz Rafa berdiri di bawah terik matahari, memakai kemeja putih dan peci hitam. Tangan kirinya memegang peta desain pembangunan, sementara tangan kanannya menunjuk arah ke salah satu pekerja. “Mas Rahman, tolong fondasi bagian timur jangan terlalu dekat dengan selokan, nanti bisa rawan longsor kalau hujan deras,” ujarnya dengan suara lembut tapi tegas. Para pekerja mengangguk, dan suara cangkul kembali menggema. Rafa tersenyum samar. Dalam hatinya, ia tahu pesantren ini bukan sekadar bangunan fisik,

