Pagi di kediaman Ustadz Rafa terasa berbeda dari biasanya. Sinar matahari yang biasanya menembus lembut jendela ruang tamu, kini terasa redup oleh suasana hati penghuninya. Rafa duduk diam di kursi rotan dekat jendela, memandangi secarik kertas berisi laporan keuangan yang baru dikirim oleh bendaharanya. Angka di kolom terakhir membuat dadanya sesak. Sepuluh miliar rupiah. Lenyap. “Astaghfirullah, tidak mungkin…” suaranya nyaris berbisik. “Ubed tidak mungkin melakukan ini…” Namun, laporan yang dipegangnya bukan kabar kosong. Rekening perusahaan jasa konstruksi milik Rafa telah kosong. Nomor teleponnya tak aktif. Kantornya di pinggiran Ungaran sudah tutup sejak dua hari lalu. Beberapa hari sebelumnya, setelah pulang dari ceramah di Salatiga, Rafa mengumumkan rencana besarnya kepada pa

