Bab.21 Saat Keikhlasan Membawa Keharmonisan

1492 Words

Sore itu langit Salatiga berwarna jingga lembut. Suara santri yang tengah melantunkan hafalan Al-Qur’an bergema di serambi pesantren Al-Firdaus, berpadu dengan desir angin yang membawa aroma tanah basah sisa hujan siang tadi. Melody baru saja selesai mengajar kelas tahsin untuk santriwati tingkat akhir. Seperti biasa, setelah kelas bubar, ia menyempatkan duduk sejenak di bangku taman belakang pesantren, tempat yang selalu menjadi ruang sunyi untuknya merenung. Namun sore itu, pikirannya tidak lagi sekadar merenungi tugas-tugas mengajar. Ada sesuatu yang menekan dadanya, rasa yang ia tahan selama berbulan-bulan. Kata-kata Nayla, istri Ustadz Rafa, beberapa waktu lalu terus terngiang di kepalanya. “Ikhlas itu bukan menyerah, Mel… tapi membebaskan diri dari luka yang kita pelihara sendiri.

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD